TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 62 Arhan Marah.


__ADS_3

Italia Milan.


Arhan keluar dari kamar mandi dengan handuk di lilit di tubuhnya sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk putih kecil.


Ting.


Notif pesan di ponselnya berbunyi membuat Arhan melangkah mendekati tempat tidur dan mengambil ponsel itu. Dahi Arhan mengkerut ketika membuka pesan WA yang ternyata ada yang mengirim photo.


Adara dan Brian. Di mana Adara dan Brian berada di Mall yang sedang jalan bersama. Di foto itu hanya ada Adara dan Brian dan tidak ada orang lain sama sekali dan terlihat sangat dekat.


Melihat foto itu membuat Arhan menghela napasnya dan melihat jam yang menggantung di dingding. Di Milan pukul 1 malam dan artinya di Jakarta bisa pukul 11 malam.


Merasa tidak tenang membuat Arhan langsung menelpon Adara. Tidak tau siapa yang mengirim foto itu. Tetapi tampaknya Arhan sangat kesal dan wajar sih. Siapa yang tidak kesal istrinya yang pergi bersama orang lain dan sudah malam sementara ada anak yang di tinggalkan.


Adara memang benar adanya berada di Mall dan baru keluar dari Mall yang bersama dengan Noni.


"Kita sudah ke malaman seharusnya tidak pulang semalam ini," ucap Adara yang jadi gelisah.


"Maaf Adara ini semua salahku. Aku mengajak kamu dan Noni menonton," sahut Brian yang memang bersama Adara. Tetapi juga bersama Noni.


"Ya sudah sekarang sebaiknya kita pulang. Aku takut papa marah," sahut Adara yang tidak ingin kehilangan kepercayaan Herlambang.


"Aku juga meninggalkan Alvian di rumah. Bagaimana jika dia menangis," batin Adara yang gelisah.


Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt.


Tiba-tiba ponsel Adara berdering, Adara langsung melihat panggilan masuk itu.


"Arhan!" Lirih Adara. Adara tampak gugup mendapatkan telepon dari Arhan malam-malam seperti itu.


"Aku angkat telpon sebentar," ucap Adara yang langsung menjauh untuk mengangkat telpon Arhan dan setelah mendapatkan tempat Adara langsung berbicara dengan Arhan.


...📞"Kamu bersama Alvian apa tidak?" tanya Arhan dengan to the point....


...📞"Kenapa langsung menanyakan hal itu," sahut Adara yang merasa gugup mendengar suara berat Arhan....


...📞"Kamu jawab saja Alvian ada bersama kamu apa tidak?" tanya Arhan kembali....


...📞"Alvian ada di rumah," jawab Adara....


...📞"Dan kamu sedang bersenang-senang di luar," tebak Arhan....

__ADS_1


...📞"Kamu bicara apa?" tanya Adara....


...📞"Jika kamu tidak bisa menjaga Alvian dan meninggalkannya malam-malam seperti ini. Aku akan menjemputnya dan membawanya tinggal bersamaku!" tegas Arhan membuat Adara kaget....


...Tidak tau apa yang terjadi. Tiba-tiba saja Adara mendapat telpon dan Arhan mengatakan hal yang mengejutkan seakan dia punya salah....


...📞"Aku tidak peduli Azizie. Kamu mau pergi sama siapa. Dengan laki-laki siapa. Tetapi tidak seharusnya kamu meninggalkan Brian. Apa kamu tidak bisa pulang kerumah di bawah jam 11. Kamu itu sudah menikah. Aku memberimu kebebesan. Bukan berarti kau bisa bertindak sesukamu!" sentak Arhan. Suara itu membuat jantung Adara berdebar....


Matanya berkaca-kaca. Dia seperti di marahi Arhan. Apa lagi terdengar suara napas Arhan juga terdengar sebagai menakutkan yang membuatnya takut.


...📞"Kamu bisa pulang sekarang?" tanya Arhan. Adara masih terdiam dengan lamunannya....


...📞"Jika kamu tidak bisa pulang. Aku besok akan menyuruh papa membawa Alvian ke Milan dan kamu kembalilah pada kebebesan kamu," tegas Arhan....


Tut- tit-tut-tut-tut-tut-tut.


Arhan mematikan panggilan itu dengan secara sepihak. Sementara Adara masih bengong dengan pemikirannya yang tidak masih kaget dengan Arhan yang marah kepadanya.


Tidak ada hujan tidak ada ada angin suaminya seakan tau dia sedang keluyuran dan tidak bersama Alvin.


"Adara!" tegur Noni menepuk bahu Adara membuat Adara kaget.


"Iya," sahut Adara dengan suara senduhnya.


Dalam keadaan wajahnya yang terlihat begitu senduh. Adara pun pulang bersama Noni dan Brian.


Sementara Arhan yang berada di Milan menghela napasnya. Dia berusaha untuk tenang dengan mengatur napasnya.


"Apa yang katakan barusan kepadanya. Tidak seharusnya berbicara seperti itu. Kau belum tau apa yang terjadi tetapi malah berbicara dengan semaumu. Seharusnya ini tidak terjadi," ucap Arhan yang tampak sangat menyesal tadi menelpon dengan marah-marah.


Arhan seperti terpancing emosi. Mungkin juga cemburu melihat foto kedekatan Adara dengan Brian dan untuk pengirim photo tersebut tidak tau siapa pelakunya yang pasti punya niat jahat untuk hubungan Adara dan Brian.


**********


Akhirnya Adara sampai rumah dan Herlambang tidak marah dengan Adara yang pulang malam.


Namun Adara tidak bisa tidur karena mendapatkan telpon dari Arhan. Adara yang duduk di pinggir ranjang dengan mengehela napasnya berkali-kali. Melihat ponselnya berkali-kali yang ingin menelpon. Tetapi dia sangat ragu dan takut.


"Kenapa dia marah-marah kepadaku? Apa aku melakukan kesalahan dan sampai ingin membawa Alvian," lirih Adara yang merasa sangat sedih. Dia ingin menelpon Arhan dan bertanya apa salahnya. Namun dia merasa takut dan tidak berani sama sekali.


"Sebaiknya aku menelponnya saja dan jika dia memang benar-benar salah paham. Aku bisa menjelaskannya," batin Adara.

__ADS_1


"Tetapi apa yang harus aku katakan. Dia kelihatan marah. Tapi aku harus minta maaf padanyanya," Adara bergerutu sendiri dengan penuh kebingungan.


Dratt-dratt-dratttt-dratt.


Tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi membuat Adara melihat panggilan itu yang ternyata dari Arhan. Adara menghela napasnya perlahan kedepan dan mengangkat telpon tersebut. Adara sudah siap jika Arhan ingin marah-marah lagi kepadanya.


"Hallo!" sahut Adara.


"Kamu sudah pulang?" tanya Arhan dengan suara lembut.


"Iya," jawan Adara.


"Lalu kenapa tidak tidur?" tanya Arhan.


"Nggak bisa," jawab Adara singkat.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Arhan.


"Nggak!" jawab Adara apa adanya.


"Aku minta maaf sudah mengatakan hal itu. Tidak seharusnya aku marah-marah kepadamu. Istirahatlah dan jangan memikirkan itu aku hanya terpancing saja," ucap Arhan mengaku salah dan meminta maaf pada Adara.


"Memang apa yang membuatmu terpancing?" tanya Adara.


"Kamu tidak seharusnya pergi dan pulang terlalu malam. Aku tidak suka Azizie kamu pergi bersama pria lain," ucap Arhan menegaskan.


"Kamu tau aku pergi dengan Brian?" tanya Adara.


"Iya!" jawab Arhan.


"Lalu apa kamu tau. Kalau aku juga pergi bersama Noni?" tanya Adara tidak.


Arhan terdiam yang memang hanya tau Adara dan Brian pergi dan itu yang membuatnya marah.


"Aku sebentar lagi akan menghadapi ujian. Aku dan Noni hanya belajar berdua. Dan tiba-tiba kami bertemu Brian di Mall dan Brian sedang janjian dengan teman-temannya yang menonton. Namun ternyata temannya tidak datang dan mengajak kami untuk menonton. Sampai waktunya yang telah tiba. Tetapi sungguh hanya itu yang terjadi dan aku juga tidak bermaksud untuk meninggalkan Alvian sendirian. Aku juga takut meninggalkannya Alvian," jelas Adara panjang lebar.


Mendengar semua itu membuat Arhan memejamkan matanya dan menghela napasnya. Dia benar-benar menyesal bicara begitu kasar pada Adara dan semuanya hanya karena kesalah pahaman saja.


"Aku minta maaf dengan semua yang aku lakukan. Aku janji tidak akan meninggalkan Alvian lagi dan akan lebih hati-hati dalam menjaganya," ucap Adara.


Adara memang lebih baik minta maaf pada Arhan. Karena bagaimana pun dia yang salah dan seorang ibu seharusnya lebih mengutamakan anaknya. Dan dia juga tidak ada niat atau kesengajaan ingin pergi bersama laki-laki lain. Karena semenjak sadar Arhan adalah suaminya. Adara sangat menjaga jarak dengan lawan jenisnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2