TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 93 Bahagia.


__ADS_3

"Kita mau kemana malam ini pah?" tanya Alvian pada Arhan yang sedang memakaikannya jaket. Arhan berjongkok di depan Alvian yang berdiri.


"Kita ingin melihat festival balon udara," jawab Arhan.


"Wiiiii seru. Alvian kalau di desa nenek main-main terus tidak pagi dan tidak malam juga," ucap Alvian dengan semangatnya.


"Tapi ingat. Begitu di Jakarta nanti Alvian harus menggantinya dengan belajar dan tidak boleh malas," tegas Arhan.


"Santai saja papa. Alvian ini anak yang pintar dan pasti akan belajar terus. Bentar lagi Alvian 6 tahun dan sudah bisa masuk sekolah dasar," ucap Alvian dengan bijaknya. Arhan hanya tersenyum mendengar anaknya yang bicara semakin banyak pengetahuannya.


"Bagaimana mungkin kamu mengatakan sebentar lagi usia 6 tahun. Kemarin kamu itu baru ulang tahun ke-4," ucap Arhan mengacak-acak rambut Alvian.


"Iya papa. Tapi waktu itu kan sangat cepat berlalu," sahut Alvian yang punya jawaban terus.


"Iya-iya terserah kamu deh," sahut Arhan harus kalah debat dengan Alvian. Sementara di kamar itu ada juga Adara yang sejak tadi menyisir rambutnya.


Adara pasti ikut. Karena kalau dia tidak ikut peliharaan Arhan pasti nempel terus. Jadi Adara harus nempel-nempel pada suaminya. Agar tidak ada yang dekat-dekat pada suaminya. Setelah Arhan selesai mengurus Brian. Arhan menghampiri Adara. Adara juga sudah selesai yang sekarang mengambil ponselnya.


Namun tiba-tiba saat dia berbalik badan. Adara sudah di kejutkan dengan Arhan di depannya tiba-tiba. Arhan ternyata ingin memasangkan syal untuk Adara. Adara diam saja dan membiarkan Arhan melakukan hal itu. Namun jantung Adara tiba-tiba dek-dekan saat Arhan yang tidak pernah memberi aba-aba selalu melakukan hal romantis padanya.


"Pakailah supaya kamu tidak kedinginan," ucap Arhan dengan lembut. Adara mengangguk saja. Selesai memakai Arhan tersenyum tipis pada Adara.


"Ayo papa Alvian sudah siap ini," sahut Alvian.


"Baik Alvian," sahut Arhan dengan tersenyum.


"Ayo!" ajak Arhan pada Adara. Adara menganggukkan kepalanya. Adara menghela napas dan langsung menyusul Arhan dan Alvian.


Festival yang di adakan festival tahunan dan ternyata bukan hanya Adara, Alvian dan Arhan yang pergi. Aminah, Amir dan Lulu juga ikut ternyata. Mereka menonton acara yang di lakukan di lapangan yang luas itu dengan suka cita.


"Alvian suka tempatnya?" tanya Aminah yang sejak tadi bergandengan tangan dengan Alvian. Tangan kanan Alvian di pegang Aminah dan yang kiri di pegang Amir.


"Suka nenek. Di sini rame sekali," sahut Alvian dengan semangatnya.


"Dulu waktu kamu masih di perut mama kamu. Mama kamu juga sudah pernah ke acara seperti ini," ucap Amir.


"Oh iya benarkah! Wau kenapa Alvian tidak lahir saja waktu itu," sahut Alvian dengan random nya bicara. Amir dan Aminah hanya tertawa melihat Alvian yang menggemaskan. Adara dan Arhan juga yang berjalan bersama tersenyum mendengar Alvian yang ada saja yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Oh iya nenek. Kenapa balon itu bisa terbang. Apa ada pilotnya?" tanya Alvian menunjuk balon yang ada di atas sana.


"Nenek tidak sekolah. Jadi nenek tidak tau menjawabnya. Tanya papa saja yang sekolahnya tinggi!" jawab Aminah.


"Kalau begitu Alvian harus semakin cepat besar dan bisa meneliti hal itu," jawab Alvian.


"Nah itu suatu hal yang sangat bagus," sahut Amir.


"Nenek. Ada jagung bakar di sana. Ayo beli!" tunjuk Alvian.


"Upss harus tanya mama dulu!" Alvian menepuk jidatnya. Dia harus minta izin dulu pada Adara untuk membeli makanan di luar. Amir dan Aminah hanya geleng-geleng saja.


"Mama boleh Alvian beli jagung bakar?" tanya Alvian dengan wajah senduh yang ingin di kasihani. Alvian memang sangat pintar berekspresi. Adara menganggukkan kepalanya tanpa ada kata-kata atau ceramah untuk Alvian.


"Yes! Ayo nenek, kakek," ajak Brian dengan semangat.


"Iya-iya," sahut Aminah.


"Kakek juga ikut," sahut Amir.


"Tapi gendong Alvian ya," sahut Alvian.


"Tidak apa-apa. Kakek masih sangat kuat," sahut Amir tidak masalah dan Amir berjongkok agar Alvian naik ke punggungnya.


"Ayo naik!" ucap Amir. Alvian dengan senangnya yang langsung naik. Namun Adara yang merasa tidak enak.


"Let's go kakek!" sahut Alvian dengan semangatnya.


"Baik!" Amir bahkan sambil berlari dan Alvian tertawa-tawa.


"Ayo Lulu kita cari makanan," sahut Aminah yang harus mengajak Lulu ikut bersama mereka. Agar Arhan dan Adara punya waktu untuk bersama. Lulu mengikut saja walau dia sepertinya tidak ingin.


Adara yang berdiri di tempatnya. Melihat ke arah Alvian yang masih bercanda dengan Amir dan bahkan Aminah ikut-ikutan mengejar mereka.


"Kenapa mereka begitu tulus kepada Alvian. Jika mereka tau Alvian bukan anak Arhan. Apa mereka juga akan menerima Alvian," batin Adara dengan matanya berkaca-kaca.


Aminah dan Amir memang sangat menyayangi Alvian. Maklum cucu pertama mereka. Namun mereka memang tidak tau asal usul Alvian. Karena Arhan tidak pernah memberitahu masalah pernikahannya dengan orang tuanya. Hal itu ada rasa membuat Adara sedih. Dia sangat bahagia mendapatkan kasih sayang dari orang tua Arhan. Dan dia takut jika dia akan kehilangan itu.

__ADS_1


Bengongnya Adara dengan pemikirannya dan melihat terus ke arah Alvian. Membuat Arhan menoleh ke arah Adara.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Arhan membuat membuyarkan lamunannya.


"Hmmm iya aku baik-baik saja," jawab Adara yang padahal matanya sedang bergenang.


"Ya sudah ayo pergi!" ajak Arhan. Adara mengangguk dengan menghela napasnya.


*************


Adara dan Arhan duduk di atas rumput dengan melihat balon udara yang di atas sana yang berterbangan. Mereka duduk bersebelahan.


"Kamu tidak berniat untuk naik?" tanya Arhan.


"Nggak berani," jawab Adara apa adanya yang memang sangat takut ketinggian.


"Penakut!" sahut Arhan yang tiba-tiba membuat Adara langsung menoleh ke arah Arhan dengan mata Adara yang melotot.


"Kamu bilang apa?" tanya Adara.


"Memang aku bilang apa?" Arhan balik bertanya.


"Aku mendengar sendiri. Kamu pikir aku tuli," sahut Adara yang jadi kesal.


"Aku tidak mengatakan apa-apa. itu hanya perasaan kamu saja," sahut Arhan.


"Aku tidak tuli. Penakut kamu bilang. Aku tidak penakut dan sekarang aku buktikan aku bisa naik!" ucap Adara yang langsung berdiri. Di bilang penakut okeh Arhan membuat Adara tidak terima dan ingin menerima tantangan Arhan.


"Yakin mau naik?" tanya Arhan dengan menaikkan 1 alisnya.


"Yakin!" sahut Adara yang padahal dia tidak yakin dan dek-dekan jika naik. Namun dia ingin membuktikan pada Arhan jika dia bisa.


"Baiklah kalau begitu," sahut Arhan dengan tersenyum miring dan langsung berdiri.


"Bagaimana ini. Mana mungkin aku naik," batin Adara yang ternyata penuh dengan keraguan.


"Kenapa masih diam. Ayo naik!" ajak Arhan menantang Adara kembali.

__ADS_1


"Oke!" sahut Adara dengan percaya diri dan sangat yakin. Arhan tersenyum. Dia memang sengaja mengejek Adara. Karena ingin melihat nyali Adara sebenarnya semana.


Bersambung


__ADS_2