
Mentari pagi kembali tiba. Cahaya sinar matahari yang begitu terik dan suasana yang sangat dingin di daerah tersebut termasuk di Vila itu.
Adara yang masih tertidur di tengah-tengah ranjang dengan selimut tebal yang sampai ke dadanya. Matanya perlahan terbuka dan kembali tertutup dan terbuka kembali dan sampai terbuka dengan sempurna.
Adara melihat di sekitarnya kamarnya yang terasa sangat sepi. Membuat Adara perlahan duduk. Adara memejamkan matanya dan menyibak rambutnya kebelakang yang menghela napasnya perlahan kedepan.
Lalu Adara menoleh ke arah nakas yang ada di sebelahnya yang ternyata ada air putih, segelas susu, buah dan juga Sandwich.
Adara pun langsung meneguk air putih tersebut sampai setengah. Lalu kemudian dia meminum susu coklat yang Adara tau itu susu untuk kehamilannya. Adara juga mengambil satu Sandwich dan langsung memakannya sembari turun dari ranjang.
Adara menghampiri jendela kamar. Membuka tirai putih itu dan melangkah ke teras kamar yang di pinggirnya di beri pagar berbahan kayu tersebut.
Adara masih melangkah sembari memakan Sandwich yang menjadi suapan terakhir sembari menikmati udara yang begitu segar. Adara ke pinggir teras kamar yang melihat ke indahan alam sekitar dengan Adara menghirup udara dalam-dalam kembali dengan memejamkan matanya.
Lalu Adara kembali membuka matanya yang matanya langsung menuju sungai yang di sana ada Arhan.
Di mana Arhan yang sedang push up dengan telanjang dada yang hanya menggunakan celana panjang. Arhan push up di atas batu dengan tubuhnya yang kekar dan sangat berotot. Tubuh yang menjadi impian setiap wanita.
Biasanya Adara langsung mengalihkan pandangannya saat tidak sengaja melihat tubuh Arhan tanpa baju. Namun saat ini tidak Adara tetap melihat Arhan dan tiba-tiba Adara terbayang kejadian tadi malam.
Adara mengingat saat dia membuka matanya ada Arhan yang memeluknya dengan erat dan bisa di pastikan Adara. Jika Arhan yang menopang Adara saat tersesat di hutan.
Mata Adara terus melihat Arhan dengan perasaan yang tidak di mengertinya sampai Adara tidak sadar. Jika Arhan sudah berdiri dan melihat ke arah Adara. Saat Adara sadar Arhan melihatnya. Mereka saling menatap dari kejauhan dan Adara membalikkan tubuhnya dengan saling menekan jarinya yang sangat gugup dengan situasi itu.
Sementara tatapan Arhan di atas batu tersebut penuh dengan tatapan yang memiliki arti. Namun tidak tau apa artinya yang.
"Apa aku harus minta maaf padanyanya," batin Arhan.
Mencium Adara secara sepihak mungkin bagi Arhan adalah kesalahan. Padahal Adara istrinya dan hal itu seharusnya sah-sah saja. Apa lagi Arhan hanya ingin menolong Adara. Tetapi tidak sama sekali yang membuat Arhan malah merasa bersalah dan ingin meminta maaf pada istrinya itu.
Lalu apa Adara sadar dengan apa yang di lakukan Arhan. Sepertinya tidak. Karena Adara hanya mengingat Arhan memeluknya saja. Mungkin sebelumnya Adara tidak mengingat apa-apa.
************
__ADS_1
Adara keluar dari kamar mandi yang setelah dia selesai mandi dan saat keluar dari kamar mandi Arhan sudah ada di kamar yang juga berganti pakaian. Adara tidak berteriak atau mengoceh seperti biasanya namun hanya diam seperti orang bingung.
"15 menit lagi ujian kamu di mulai. Jadi bersiap-siaplah aku sudah menyiapkan semuanya," ucap Arhan sembari mengkancing kemejanya. Adara menoleh ke arah meja dan melihat ada persiapan seperti laptop dan alat-alat ujian.
"Hmmm," sahut Adara yang berjalan menuju meja rias yang ingin mengeringkan rambutnya.
Namun saat ingin melewati Arhan tiba-tiba saja kakinya tergelincir dan membuatnya hampir jatuh dan untung Arhan memegang tangannya dengan cepat dan membuat Adara tidak jadi jatuh yang ujung-ujungnya mereka berdua saling beradu pandang dengan posisi bersebelahan dan Adara yang sedikit membungkuk.
Toko-tok-tok-tok.
Ketukan pintu membuat keduanya sama-sama terkejut dan saling berjauhan.
"Masuk!" sahut Arhan dengan suara seraknya.
Ceklek
"Mas Arhan makanannya sudah selesai," ucap Bibi.
"Baiklah saya akan turun," jawab Arhan.
"Ayo makan dulu!" ajak Arhan.
"Bukannya kamu bilang aku harus ujian," sahut Adara.
"13 menit lagi. Jadi masih ada waktu untuk makan," ucap Arhan yang langsung keluar dari kamar dan Adara pun menurut saja yang langsung menyusul Arhan untuk makan bersama.
**********
Arhan dan Adara akhirnya makan bersama. Tidak sarapan dan juga tidak makan siang. Karena itu jam 11 siang. Keduanya makan bersamaan dengan sama-sama diam dan sepertinya ke-2nya sama-sama canggung.
"Tumben sekali dia hanya diam saja. Biasanya dia banyak bicara dan pasti ada-ada saja yang di katakannya," batin Adara yang sepertinya ingin di tegur Arhan.
"Jika aku minta maaf. Aku harus mulai dari mana, apa aku harus mengatakannya kepadanya apa yang terjadi. Lalu jika aku mengatakannya. Apa dia tidak akan marah," batin Arhan.
__ADS_1
Ke-2nya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Yang satu ingin minta maaf dan yang satunya ada yang ingin di tegur.
"Azizie!" tegur Arhan.
"Iya," jawab Adara.
"Mengenai kejadian tadi malam," ucap Arhan yang menyinggung kejadian itu.
"Ada apa dengan kejadian itu?" tanya Adara dengan cepat.
Arhan mendadak diam yang kelihatan tidak ingin mengatakan apa-apa.
"Tidak ada apa-apa. Kamu lanjutkan ujian kamu," jawab Arhan.
"Ohhhhh," sahut Adara yang menghela napas.
"Apa sih sebenarnya yang ingin di katakannya," batin Adara bingung.
Arhan sepertinya mengubah pendiriannya untuk memberitahu Adara mengenai apa yang terjadi yang mungkin menurutnya tidak perlu.
*********
Adara yang mengikuti kegiatan ujiannya seperti biasa. Dia mengerjakannya di ruang tamu dan Adara bahkan sampai malam mengerjakan ujiannya. Karena waktu yang di berikan memang tidak menentu.
Tiba-tiba Adara mendengarkan suara aktivitas di dapur membuat Adara penasaran ada apa dan Adara langsung melihat ke dapur. Adara mengira Bibi yang ternyata Arhan yang sedang mengaduk susu coklat yang biasa di minumnya.
Adara bersembunyi di balik tembok yang memperhatikan Arhan.
"Jangan Bilang selama ini dia yang menyiapkan susu itu padaku," batin Adara.
Semenjak hamil memang saat bangun pagi Adara selalu mendapati susu di meja di samping tempat tidurnya. Namun Adara tidak tau jika siapa yang membuat susu itu dan Adara berpikiran pasti Bibi yang membuatkannya. Ternyata dugaan nya tidak benar yang ternyata Arhan melakukannya.
Adara yang melamun tiba-tiba melihat Arhan yang sudah selesai menuang susu tersebut. Adara yang panik langsung buru-buru pergi, sampai berlari karena takut ketahuan.
__ADS_1
Suara lari itu terdengar Arhan membuat Arhan melihat ke arah tembok namun tidak menemukan siapa-siapa. Arhan hanya mengangkat ke-2 bahunya dan langsung pergi.
Bersambung