
Adara yang tadinya tidak pegangan. Akhirnya memegang kuat pinggang Arhan dengan ke-2 tangannya yang takut dirinya jatuh. Keahlian Arhan dalam menaiki motor tidak dapat di ragukan lagi.
Bahkan Arhan melewati Brian yang tadi sempat menawarkan Adara tumpangan. Brian yang di lewati Arhan melihat dengan heran sampai memberhentikan motornya di pinggir jalan dengan membuka helmnya melihat ke ujung jalan sana yang ada mana Adara di bonceng oleh seorang pria.
"Bukannya itu Adara!" lirih Brian.
"Siapa pria itu?"
"Adara tadi bilang dia tidak di perbolehkan menaiki motor. Lalu ini apa. Apa ini bukan motor," batin Brian heran dengan Adara yang tiba-tiba sudah menaiki motor. Brian hanya gelang-gelang dan kembali memakai helmnya dan kembali melajukan motornya. Dia juga hampir terlambat.
***********
Untung saja Adara dan Arhan sampai tepat waktu dan Adara tidak terlambat. Mereka berdua turun dari motor yang pertama Adara yang turun dengan memegang pundak Arhan dan Adara langsung turun yang kemudian di susul Arhan.
Arhan membantu Adara melepas helm dari kepala Adara.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arhan yang kembali lembut dan sangat hangat saat berbicara. Perbedaan suara itu dapat di bedakan Adara.
"Bagaimana baik-baik saja. Aku hampir melayang dan perutku mual. Aku ingin muntah," keluh Adara.
Arhan menghela napasnya dan mengambil sesuatu dari tas kecil yang sejak tadi di selempangkan di depannya. Ternyata Arhan mengeluarkan pil dan botol mineral yang kecil.
"Ayo telan!" titah Arhan.
"Apa ini?" tanya Adara.
"Ini obat mual mu. Kamu harus meminumnya agar ujian mu tidak terganggu. Jadi ayo telan!" titah Arhan yang memasukkan kemulut Adara dan Adara menurut saja. Setelah itu Arhan juga memberikan air mineral dengan menyulangi Adara.
Ke-2nya sangat begitu dekat dan terlihat manis yang memang Adara menurut saja. Bahkan bekas air yang terdapat di bibir Adara di hapus dengan jari Arhan. Kedekatan ke-2 orang itu di saksikan Brian yang kebetulan baru sampai. Brian yang masih berada di atas motornya melihat hal itu dengan wajahnya yang penuh tanya.
Pria yang sempat di kira Noni adalah pengawal Adara. Bagi Brian sangat tidak mungkin pengawal seintens itu kepada majikannya.
"Sekarang kamu masuklah!" titah Arhan.
"Aku akan menunggumu di sini," ucap Arhan.
"Aku tidak mau naik motor lagi," ucap adara yang sepertinya trauma karena sangat takut naik motor. Mungkin karena Arhan juga sangat kencang mengendarai motor tersebut.
"Tadi naik motor hanya terpaksa dan setelah itu tidak akan lagi. Jadi masuklah!" titah Arhan. Adara mengangguk dan langsung memasuki sekolahnya itu.
__ADS_1
Arhan merasa lega karena bisa mengantarkan Adara sampai sekolah dan tidak terlambat. Sementara Brian yang sudah turun dari motornya dan berpapasan dengan Arhan. Tidak ada yang perlu di katakan Arhan dan Arhan langsung pergi. Berbeda dengan Brian yang menatap Arhan dengan penuh selidik.
Banyak yang ingin di ketahui Brian. Namun tidak tau siapa yang akan menjawab rasa penasarannya itu.
*********
Berkat Arhan Adara bisa mengikuti ujiannya dengan baik. Dia bahkan sudah selesai mengerjakan ujiannya sementara teman-teman masih penuh pemikiran yang keras untuk menyelesaikan ujian tersebut. Adara anak yang pintar dan pasti sangat mudah bagi Adara menyelesaikan ujiannya.
Dan Adara hanya Santai-santai dengan menopang pipi kanannya dengan satu tangannya tangannya yang satu memainkan pulpen dengan memutar-mutarkanya.
Tiba-tiba saja Adara mengingat kejadian saat dia di bonceng Arhan. Di mana tangannya melingkar di pinggang Arhan yang memegang begitu kuat dengan memeluk erat dari belakang. Wajahnya yang menempel di punggung Arhan.
Adara merasa seolah terlindungi dan sangat nyaman pada tubuh kekar yang berotot itu. Membayangkan hal yang terjadi di atas motor itu. Tiba-tiba saja membuat Adara tersenyum. Namun tiba-tiba wajahnya kembali datar setelah merasa ada yang salah dengan dirinya.
"Adara apa yang kau pikirkan! Apa kau gila memikirkannya," batin Adara yang menggoyang-goyangkan kepalanya yang berusaha menyadarkan dirinya dan bahkan Adara sampai menepuk-nepuk pipinya.
"Sadar Adara. Jangan gila!" gumamnya yang menepuk-nepuk pipinya. Sampai Adara tidak sadar. Jika teman satu kelasnya memperhatikan dirinya. Karena mendengar suara tepukan itu.
"Kamu baik-baik saja Adara?" tanya Bu guru yang juga melihat tingkah Adara.
"Ha saya Bu," sahut Adara bingung.
"Nggak apa-apa," jawab Adara.
"Lihat semua orang melihat kamu," ucap Noni dan Adara melihat di sekelilingnya yang tanpa di sadarinya. Dia telah menjadi pusat perhatian dan membuat Adara malu dengan memejamkan matanya.
"Adara apa kamu baik-baik saja?" tanya Bu guru.
"Oh iya Bu baik-baik aja kok," sahut Adara mengangguk-angguk.
"Anak-anak kembali fokus pada ujian kalian, sebentar lagi waktu habis," ucap Bu guru mengingatkan.
"Iya Bu," sahut semuanya yang kembali mengerjakan ujiannya.
"Dasar aneh. Cari perhatian aja kerjanya," batin Lucia dengan kesal dan melihat sinis ke arah Adara.
"Ya ampun Adara hentikan semua ini. Kamu ini ya benar," batin Adara dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya yang merasa malu dengan ulahnya. Sementara Brian masih melihat tingkah Adara.
********
__ADS_1
Setelah selesai ujian Adara dan Noni pergi kekantin untuk makan siang bersama. Seperti biasa mereka akan mengikuti antrian untuk mengambil makan siang.
"Kamu hanya mau makan buah saja?" tanya Noni melihat nampan Adara hanya berisi buah saja.
"Iya. Aku malas makan," jawab Adara.
"Adara mana ada makan. Kamu nanti lapar lo," ucap Noni mengingatkan.
"Tidak apa-apa. Ini saja sudah cukup!" jawab Adara.
"Kamu yakin?" tanya Noni.
"Iya aku yakin. Ayo kita ambil tempat duduk," ucap Adara.
"Oke," sahut Noni.
Mereka berdua akhirnya mengambil tempat duduk untuk menikmati makanan tersebut. Yang mana Adara hanya makan buah potong. Karena tidak selera makan dan sementara Noni makan seperti pada umumnya apa yang di sediakan pihak sekolah.
Brian yang duduk sendirian. Tiba-tiba Lucia yang baru selesai mengambil makanan melihat Brian. Lucia tersenyum dan langsung menghampiri tempat duduk Brian.
"Aku duduk di sini ya," ucap Lucia yang duduk di depan Brian.
"Tidak apa-apa. Kamu duduk saja," sahut Brian membuat Lucia tersenyum.
"Kamu lagi makan apa?" tanya Lucia basa-.
"Memakan apa yang kamu makan. Bukannya sama saja," sahut Brian.
"Iya juga sih," sahut Lucia yang tersenyum dan mulai makan.
"Hmmm Brian kamu suka makanannya?" tanya Lucia yang selalu membuka obrolan dan Brian hanya mengangguk saja menjawab pertanyaan itu.
"Aku juga suka," jawab Lucia.
"Oh iya Brian aku...."
"Lucia aku mau ke meja Adara ya. Kamu tidak apa-apakan di tinggal," ucap Brian yang langsung berdiri dan membawa nampannya yang langsung pergi meninggalkan Lucia yang belum sempat bicara.
"Brian kenapa pergi?" tanya Lucia yang melihat Brian menghampiri meja Adara dan Noni.
__ADS_1
Bersambung