
Tarrr, tarr, tarrm
Suara petir yang begitu kuat terdengar. Petir yang saling bersahutan yang di iringi dengan hujan deras yang membasahi desa tempat Arhan. Adara dan Arhan yang sudah tertidur di dalam kamar dengan ranjang yang pas hanya untuk mereka berdua. Namun suara hujan yang deras itu tidak mengalahkan suara Adara yang berteriak-teriak seperti sangat ketakutan yang sedang mimpi buruk sepertinya.
"Tidak! Tidak! Jangan bawa dia! Jangan bawa dia! Aku mohon!"
Adara berteriak-teriak dengan kepalanya yang miring kekanan dan kekiri. Dahinya yang berkeringat dengan tangannya yang meremas seprai.
"Aku mohon jangan bawa dia. Dia putraku. Kembalikan kepadaku! aku mohon!"
"Alvian! Alvian!" Alvian!"
Suara ada yang berisik membuat Arhan terbangun dan melihat kesebelahnya. Arhan kaget melihat Adara yang seperti mimpi buruk.
"Azizie!" ucap Arhan.
"Azizie," Arhan berusaha membangunkan Adara yang di penuhi mimpi buruk.
"Azizie, Azizie! Bangun! Kamu kenapa Azizie! Azizie! Azizie!" lirih Arhan.
"Alvian!" teriak Adara yang langsung duduk dengan suaranya yang serak dan air matanya yang keluar.
"Kamu kenapa Azizie?" tanya Arhan dengan memegang tangan Adara yang yang sangat dingin dan sangat ketakutan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arhan memegang pipi Adara.
"Alvian!"
"Alvian!" lirih Adara. Adara yang tampak shock langsung memeluk Arhan. Arhan merasakan tubuh Adara yang bergetar yang sangat ketakutan.
"Kamu mimpi buruk?" tanya Arhan.
"Alvian! ada orang yang ingin mengambilnya dari ku," ucap Adara dengan suara seraknya yang sangat takut.
"Kamu hanya mimpi buruk. Alvian tidak akan ada yang mengambilnya. Alvian ada bersama kita dan percayalah kamu hanya mimpi buruk!" ucap Arhan mengusap-usap punggung Adara yang menenangkan Adara.
Arhan melepas pelukan itu dengan Arhan mengusap pipi Adara yang keringat sudah membahasi Adara.
Melihat kondisi Adara seperti itu membuat Arhan kasihan. Arhan mengambil air putih badan memberikan pada Adara.
"Minumlah!" ucap Arhan. Adara meminumnya dengan memegang gelas yang juga di pegang Arhan.
"Sudah merasa enakan?" tanya Arhan. Adara mengangguk.
"Ya sudah kamu kembali istirahat. Jangan takut apa-apa. Alvian tidak kemana-mana," ucap Arhan. Adara menganggukkan kepalanya. Adara kembali merebahkan dirinya di atas ranjang. Arhan menyelimuti Adara yang sudah jauh lebih tenang sekarang.
__ADS_1
Arhan yang merasa Adara belum baik-baik saja. Langsung membawa Adara kedalam pelukannya. Dan Adara tidak memberontak yang memang sangat membutuhkan pelukan dari Arhan.
Tiba-tiba saja dia ketakutan. Dia mimpi buruk mengenai Alvian yang membuatnya tidak tenang dan sangat takut. Jadi berada di pelukan Arhan membuat Adara nyaman.
********
Mentari pagi kembali tiba. Adara yang berada di dalam kamar merapikan tempat tidur dengan melipat pakaian. Namun Adara terlihat murung yang kelihatan seperti ada sesuatu.
"Kamu baik-baik saja Azizie?" tanya Arhan yang tiba-tiba memasuki kamar.
"Hmmm," jawab Adara.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan baik-baik saja. Wajah kamu kelihatan sangat murung," ucap Arhan yang tidak percaya dengan Adara.
"Aku kepikiran saja dengan mimpiku tadi malam. Aku tidak tau kenapa tiba-tiba mimpi seperti itu," ucap Adara dengan perasaannya yang masih tidak tenang.
"Jangan memikirkan hal itu terlalu berlarut-larut. Itu hanya mimpi buruk sebagai bunga tidur," ucap Arhan.
Adara mengangguk saja yang memang dia hanya merasa berlebihan. Karena sebenarnya dia hanya berpikiran buruk saja.
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Arhan.
"Tidak!" jawab Adara.
"Ya sudah aku kedepan dulu," ucap Arhan. Adara menganggukkan kepalanya.
*************
Adara menuju dapur dan melihat Aminah yang membuat makanan di dapur.
"Azizie sedang apa di sana? ayo kemari!" ajak Aminah yang melihat Adara berdiri saja di depan pintu.
"Iya Bu," sahut Azizie dengan tersenyum.
"Ibu sedang apa?" tanya Azizie.
"Ini lagi membuat bolu kukus labu," jawab Aminah.
"Hmmm pantes sangat harum," sahut Adara.
"Biasa saja," sahut Aminah.
"Oh iya buatkan nasi goreng untuk kamu ya. Biar sekalian sarapan bersama Arhan," sahut Aminah.
"Memang Arhan belum sarapan?" tanya Adara.
__ADS_1
"Belum. Makanya ibu ingin membuatkan nasi goreng kesukaannya. Nasih goreng putih yang hanya akan di dapat Arhan jika pulang ke kampung," ucap Aminah.
"Oh iya. Bagaimana cara membuatnya. Boleh Adara membuatkannya?" tanya Adara yang sepertinya ingin berusaha mengetahui tentang Arhan.
"Boleh dong. Tapi nanti tangan kamu kotor, bau bawang, kenak minyak," ucap Aminah mengingatkan.
"Tidak apa-apa kok. Kalau kotor dan bau. Bisa mandi. Kalau kenak minyak nanti bisa hati-hati," sahut Adara.
"Ya sudah kalau begitu," sahut Aminah.
Adara kelihatan sangat senang ketika mendapatkan kesempatan untuk membuatkan makanan untuk Arhan. Pisau dan bahan-bahan dapur tidak pernah di sentuhnya. Namun kali ini harus di sentuhnya dari hatinya sendiri. Karena ada keinginan untuk Adara berusaha untuk suaminya.
Aminah juga membantu Adara bahkan sangat senang melihat Adara yang berusaha untuk Arhan. Aminah mungkin kesan pertama kali bertemu dengan menantunya itu tersinggung. Karena kata-kata Adara yang ketus.
Tetapi Aminah tidak menyangka Adara berbesar hati datang ke desa dan meminta maaf. Bahkan tinggal bersama Aminah dan Amir. Adara bisa hidup sederhana dan bagaimana Aminah tidak mengatakan jika Adara gadis yang baik dan menantu idaman.
Mungkin saja ada beberapa faktor yang membuat hubungan Adara dan Arhan belum membaik. Namun Aminah yakin Adara dan Arhan sudah di takdirkan untuk bersama.
************
Akhirnya Adara selesai menyiapkan nasi goreng putih untuk Arhan. Setelah menyelesaikan membuatnya Adara langsung keluar rumah dan menghampiri Arhan yang meneguk kopi di teras rumah sembari menikmati pemandangan yang sangat indah.
"Aduh apa masakan ini cocok tidak ya ke lidah Arhan. Kalau tidak cocok bagaimana?" batin Adara yang tidak percaya diri dengan masakannya.
"Tapi aku sudah cape memasaknya. Jadi aku berikan saja," Adara pun melangkah mendekati Arhan. Dia hanya berusaha untuk yakin saja.
"Eheman!" Adara berdehem membuat Arhan menoleh ke sampingnya dan melihat Adara yang membawakan piring yang Arhan tidak tau apa itu isinya.
"Ini sarapan!" ucap Adara dengan dengan gugup.
"Siapa yang membuatnya?" tanya Arhan.
"Kenapa harus tanya-tanya siapa yang membuatnya? Apa tidak bisa di makan saja?" tanya Adara dengan ketus.
"Aku hanya bertanya. Kenapa langsung marah," sahut Arhan.
"Aku yang membuatnya kenapa? Takut di racun," jawab Adara dengan sinis. Arhan menghela napasnya dan memegang tangan Adara membuat Adara heran dengan matanya yang melotot.
"Kamu duduk dulu. Supaya jangan marah-marah seperti itu," ucap Arhan dengan lembut yang membawa Adara duduk di sampingnya dan Adara menurut saja.
"Terima kasih sudah membuatkan mu nasi goreng. Walau aku tidak percaya dengan rasanya," sahut Arhan belum apa-apa sudah membuat Adara kesal.
"Kalau ragu mencoba ya sudah," sahut Adara kesal yang menarik piring itu. Namun langsung di hentikan Arhan.
"Aku hanya bercanda. Jangan langsung marah," sahut Arhan dengan lembut dan Adara masih kesal melihat Arhan yang antara ingin mencoba masakannya atau tidak. Arhan pasti sengaja membuat Adara kesal.
__ADS_1
Apa lagi ini pertama kali Adara memasak untuk Arhan dan bagaimana Adara tidak kesal. Jika suaminya itu mengajaknya bertengkar.
Bersambung.