
"Kenapa diam Lucia? Katakan apa yang sayang?" tanya Adara yang butuh penjelasan.
"Ya sayang aja. Padahal dia itu sangat tampan, kok bisa sih jadi supir kan memiliki wajah sempurna seperti itu bisa menjadi aktor," ucap Noni.
"Yang bilang Arhan itu supir siapa," sahut Adara bicara dengan menekan suaranya. Karena Noni mengatai suaminya supir.
"Dia bukan supir?" Noni kembali bertanya. Adara menggelengkan kepalanya.
"Lalu dia apa?" tanya Noni
"Ya sua...." Adara tidak melanjutkan kalimatnya saat dia sadar dia hampir keceplosan mengatakan Arhan adalah suaminya.
"Apa?" tanya Noni.
"Dia orang kepercayaan papa dan bukan supir. Beda supir dan orang kepercayaannya papa," tegas Adara.
"Ya ampun serius. Aku sih sudah sangat yakin kalau dia itu bukan supir, dia setampan itu dan namanya ternyata Arhan. Hmmmm sangat keren," ucap Noni dengan senyum-senyum membuat Adara heran dengan dahi Adara yang mengkerut.
"Kamu suka sama dia?" tebak Adara yang ingin memastikan yang langsung to the point.
"Memang ada yang tidak suka dengan dia? Adara dia itu sangat tampan, tubuhnya bagus, seperti seorang atlet. Jadi pasti aku suka padanya dan pasti banyak wanita lain di luar sana yang juga menyukainya," jawab Noni jujur.
"Apaan sih Noni. Memang tidak ada apa laki-laki lain selain dia. Udah deh kamu itu nggak usah suka sama dia," sahut Adara dengan marah-marah dan mungkin juga cemburu jika ada yang menyukai Arhan suaminya.
"Kenapa? Ya namanya juga perasaan ya masa nggak boleh menyukai orang lain. Aneh deh. Perasaan itu tidak pernah salah," sahut Noni menegaskan.
"Ya tapi jangan dia!" tegas Adara dengan galaknya.
"Alasannya?"
"Dia udah punya istri," tegas Adara yang membuat Noni terkejut dengan mata Noni yang terbuka lebar.
"Serius!" tanya Noni dengan wajah terkejutnya.
"Ya iyalah serius. Masa iya aku bohong," sahut Adara memang apa adanya.
"Nggak mungkin Adara," bantah Noni.
"Apa sih kamu. Pake bilang nggak mungkin segala. Aku yang jelas lebih tau. Dia punya istri dan punya anak.Jadi awas ya kalau kamu suka sama dia," tegas Adara dengan penuh penekanan pada sahabatnya itu.
"Jika kamu menyukai suami orang. Kamu itu akan dapat gelar pelakor. Mau kamu jadi pelakor hah!" tegas Adara dengan wajah galaknya pada sahabatnya itu.
Adara benar-benar cemburu jika ada yang menyukai suaminya. Padahal belum tentu Arhan juga suka dengan Noni. Lagian baru satu yang mengaku menyukai Arhan. Lalu bagaimana jika Adara menemui banyak wanita yang menyukai Arhan. Adara benar-benar akan menjadi istri yang paling galak.
__ADS_1
"Udah kamu makan lagi dan berhenti menyukai suami orang. Cari laki-laki lain yang singel dan tidak punya istri dan anak," tegas Adara.
"Iya-iya Adara galak amat. Kamu kayak udah istrinya aja," sahut Noni jadi takut dengan Adara yang sangat galak dan memang dugaan Noni benar. Jika Adara memang istrinya.
"Issss enak aja menyukai Arhan memang dia pikir dia siapa apa. Arhan sudah punya aku dan juga Alvian. Jadi tidak ada yang boleh menyukainya termasuk Noni si wanita kecentilan ini," batin Adara dengan kesal.
Adara sudah mengklaim. Jika dia adalah istri dari Arhan dan tidak ada yang boleh suka. Baru aja Noni Adara sudah seperti itu. Adara baru sadar jika Arhan itu miliknya. Jadi tidak ada yang boleh menyukai suaminya itu.
********
Adara sekarang mengajak bayi kecilnya yang bermain di teras belakang rumah dengan menggunakan troli bayi.
Adara yang berjongkok dan mengajak Alvian bermain, mengajak bercanda membuat Alvian tertawa sangat lucu.
"Sayang kamu tau tidak kalau tadi ada yang menyukai papa kamu. Isss mana boleh seperti itu mama tidak akan mengijinkan orang lain ada yang tertarik padanya. Ya bukan apa-apa dan mama tidak cemburu kok. Mama hanya melakukan semuanya demi kamu. Supaya apa. Supaya papa kamu hanya sayang pada kamu,"
"Kamu harus bersyukur punya mama seperti mama ini. Karena mama sangat baik bukan, yang melakukan semuanya hanya demi kamu," ucap Adara yang curhat pada bayi tampannya mengenai apa yang barusan terjadi.
"Apa sayang. Kamu mau bilang jika mama sangat hebat?"
"Yes benar-benar hebat dan kehebatan mama hanya untuk kamu sayang. Mama akan jaga papa kamu hanya untuk kamu. Itu kan yang kamu mau," ucap Adara mengajak putranya itu mengobrol.
Alvian padahal tidak tau apa-apa. Jika Alvian bisa bicara dia mungkin akan mengatakan. Mamanya melakukan itu bukan untuk dirinya. Tetapi untuk mamanya sendiri yang mulai waspada karena takut Arhan di dekati wanita lain.
Tiba-tiba suara napas Adara menghembus berat kedepan yang mana Adara terlihat begitu lelah.
"Sayang kenapa waktu itu lama sekali berlalu. Mama tidak lulus juga. Kamu harus bersabar ya. Kita pasti bertemu dengan papa kamu secepatnya," gumam Adara dengan wajah lesuhnya.
Tampaknya Adara yang merindukan Arhan dan bukan Alvian. Tetep Adara selalu saja menjual nama Alvian.
Tiba-tiba Adara mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan langsung memoto Alvian.
"Ini sepertinya hal bagus," gumamnya yang langsung menulis beberapa kata.
^^^"Apa dia tumbuh berkembang dengan baik?"^^^
Adara mengirim pesan itu pada Arhan.
Huhhhhh.
"Semoga saja dia membacanya," batin Adara yang memancing Arhan.
Adara melakukan semua itu. Agar Arhan menghubunginya. Karena jika dia yang menghubungi Arhan. Maka itu bisa merontokkan gengsi Adara dan Adara tidak mau menurunkan harga dirinya.
__ADS_1
Milan.
Arhan yang berada di ruang kerjanya yang bekerja dengan serius. Tiba-tiba mendapatkan pesan tersebut dan Arhan langsung membuka ponselnya.
Arhan mendengus dengan tersenyum saat melihat foto Alvian. Jujur dia juga merindukan Alvian dan sudah beberapa bulan tidak melihat Alvian. Jadi jelas Arhan sangat bahagia. Jika tiba-tiba Adara mengirim pesan padanya.
^^^"Perkembangannya sangat baik!^^^
^^^"Kamu sendiri bagaimana? Apa berkembang dengan baik juga?" tanya Arhan.^^^
Adara yang menunggu-nunggu jawaban pesan dari Arhan tiba-tiba notif pesan masuk dan dengan buru-buru Adara membuka pesan itu membaca pesan dari Arhan dengan Adara tersenyum.
"Dia bertanya perkembangan ku? Apa itu artinya aku harus photo diriku?" Adara penuh dengan kebingungan dengan pertanyaan Arhan.
"Apaan sih Adara. Masa iya kamu harus mengirim photo mu," sahut Adara dengan menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih menjaga harga dirinya.
^^^"Hmmmm aku sangat baik," jawab Adara.^^^
^^^" Lalu bagaimana dengan kamu? Adara tidak jadi mengirim pesan pertanyaan itu dan menghapusnya kembali.^^^
^^^"Kamu apa kabar......^^^
^^^"Kamu sudah makan......^^^
Adara kebingungan harus mengirim apa lagi untuk Arhan karena takut terluka kelihatan agresif sekali.
"Apa sih. Kenapa aku jadi gugup gini. Aku harus tanya apa. Ayo Adara tanya dia supaya komunikasi ini tidak terputus begitu saja," Adara berbicara sendiri yang tidak tau harus melakukan apa.
"Harus bilang apa ya?"
"Aku lihat google dulu!"
Ada-ada saja yang di lakukan Adara. Hanya membalas pesan Arhan saja sudah selama itu.
Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt
Ponselnya tiba-tiba bergetar dan yang menelpon adalah Arhan. Adara melotot dengan memegang ponselnya itu dengan wajah paniknya.
"Apa yang harus aku katakan?"
"Aduh kenapa jantungku seperti ini!"
Adara benar-benar seperti orang gila yang tidak tau harus apa. Dia mencoba untuk tenang dengan menghela napasnya panjang dan mengangkat telpon itu dengan tenang yang menunjukkan jika dia tidak grogi sama sekali.
__ADS_1
Bersambung