
"Mari Pak silahkan di nikmati hidangannya!" titah Herlambang dengan sopan.
"Iya terima kasih Pak," sahut Amir dengan tersenyum.
"Arhan dan Azizie kami minta maaf ya. Karena saat pernikahan Kalian kami tidak bisa datang yang kebetulan memang lagi ada urusan di kampung dan semuanya juga sangat mendadak," ucap Aminah.
"Benar. Karena kami juga jauh di kampung dan berita pernikahan itu juga sangat mendadak dari Arhan. Jadi kami tidak bisa pergi dan mohon maaf sekali untuk kalian berdua dan juga pak Herlambang," sahut Amir.
"Bagus juga tidak datang," sahut Adara pelan.
"Adara!" sentak Herlambang dan Adara juga mendapat tatapan tajam dari Arhan dengan perkataan Adara yang sinis.
Dia mungkin bisa memafkan atau terbiasa dengan Adara yang seperti itu. Namun ini orang tuanya dan merasa Adara tidak menghormati orang tuanya yang membuat Arhan pasti kesal dengan Adara dan sangat terlihat Arhan yang diam saja seperti menahan diri.
"Tidak apa-apa tuan Herlambang. Tapi kami ucapkan selamat ya untuk pernikahan kalian dan semoga saja kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan sampaikan kakek nenek nantinya," sahut Amir dengan tersenyum yang masih mendoakan Adara yang berusaha menerima perlakuan Adara yang sudah bisa di pastikan tidak menyukai mereka.
"Iya Ibu juga mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua dan Arhan kamu jaga istri kamu baik-baik ya. Banyak-banyak mengalah pada istri kamu," ucap Aminah. Arhan hanya mengangguk saja dengan ekspresi datar.
"Arhan nanti kapan-kapan kamu bawa Azizie ya ke kampung juga ya. Ibu akan menyiapkan makanan yang enak," sahut Aminah yang sangat eksaitit menyambut menantunya.
"Aku tidak mau," sahut Azizie yang menolak langsung ajakan itu.
"Adara!" tegur Herlambang.
"Aku memang tidak mau. Aku tidak bisa di atur dan tidak akan pergi, jadi jangan mengajakku," tegas Adara yang menolak keras.
"Di kampung sangat bagus Azizie. Ibu yakin kamu pasti akan ketagihan dan tidak akan mau pulang jika sudah sampai kampung," sahut Aminah.
"Di sana sangat asri dan sangat dingin. Pemandangannya bagus dan sangat menarik. Sangat teduh dan sangat damai. Kamu harus mencoba untuk datang ke kampung kami," lanjut Aminah begitu lembut kepada Adara.
__ADS_1
"Benar itu Azizie," sahut Amir menambahi yang juga sangat semangat.
"Maaf tapi saya tidak tertarik dengan kampung kalian! Jadi jangan mempromosikannya," tegas Adara yang bersikap ketus.
"Adara jaga sikap kamu!" tegas Herlambang yang sudah semakin emosi. Sejak tadi menegur Adara. Tetapi tetap saja Adara tidak bisa di kasih tau.
"Papa kenapa sih sejak tadi terus saja menegur Adara. Apa yang Adara lakukan selalu salah di mata papa. Apa Adara sekarang tidak boleh untuk protes untuk hal yang Adara tidak sukai," sahut Adara dengan kesal.
"Kamu sadar tidak kamu bicara dengan siapa. Mereka ini ibu dan ayah mertua kamu. Apa kamu tidak bisa menghormatinya sedikit saja!" tegas Herlambang dengan emosi yang berdiri dari tempat duduknya yang habis kesabaran dengan Adara.
Arhan sejak tadi diam saja dengan 5 jarinya yang saling mengatup dan terlihat mengatur napas yang sejak tadi pasti menahan diri akibat tingkah Adara yang tidak menghormati orang tuanya.
"Jadi bersikap dengan baik di depan orang tua!" tegas Herlambang.
"Papa yang memaksaku untuk menikah dengan dia. Lalu jika dia punya keluarga itu bukan urusanku. Cukup aku menikah dengan anaknya. Jangan papa tambah lagi dengan aku harus menerima semuanya. Aku tidak ingin semua hidupku di atur dan termasuk mereka berdua!" bentak Adara.
Orang tua Arhan juga jadi panik dan pasti merasa bersalah dengan pertengkaran Adara dan Herlambang yang membuat mereka gusar dan tidak nyaman.
"Pah sudah!" cegah Arga yang menghentikan mertuanya yang mulai main kekerasan. Dan mata Arhan yang tertuju pada Adara dengan Arhan yang juga menahan kesabarannya.
"Kau memang semakin tidak bisa di ajar. Kau hanya bisa mempermalukan papa Adara," sentak Herlambang menekan suaranya yang menjatuhkan tangannya. Adara mengeluarkan air matanya yang menatap Herlambang dengan tajam.
"Papa benar-benar keterlaluan. Tangan papa sekarang semakin ringan dan hanya karena hal ini papa ingin menamparku. Papa benar-benar sudah sangat berubah dan tidak sayang pada ku lagi," ucap Adara yang merasa di permalukan.
"Itu karena mulutmu yang semakin kurang ajar! Kau seperti anak yang tidak di sekolahkan," tegas Herlambang dengan penuh penekanan.
"Papa selalu menyalahkanku dan terus membelanya!" sentak Adara.
"Kau masih mau membantah Adara!" sentak Herlambang dengan emosi.
__ADS_1
"Pah sudah!" ucap Arhan yang tidak ingin ada keributan di antara Adara dan Herlambang apa lagi ada orang tuanya yang pasti sangat gusar.
"Kamu seharusnya bisa menjaga sikap kamu Adara dan tidak melakukan hal yang memalukan seperti ini," ucap Herlambang.
"Terserah papa. Terus saja papa membelanya dan menyalahkanku. Aku memang hanya menjadi bahan kesalahan saja," umpat Adara dengan kesal yang langsung pergi dari ruang tamu tersebut meninggalkannya semua orang yang.
"Adara!" panggil Herlambang.
"Pah sudah biarkan dia pergi," ucap Arhan.
"Anak itu semakin lama semakin membangkang, berkata tidak sopan dan membuat malu," umpat Herlambang dengan memijat kepalanya yang terasa berat.
Aminah dan Amir hanya saling melihat. Mereka memaklumi jika Adara tidak bisa menerima kehadiran mereka.
"Maafkan Putri saya," ucap Herlambang merasa malu sebagai orang tua atas sikap Adara pada keluarga Arhan.
"Tidak perlu minta maaf tuan. Mungkin Azizie juga masih belum terbiasa dengan semua ini. Jadi tidak apa-apa. Kami sangat memakluminya," sahut Aminah yang memang sangat baik dan berbesar hati.
"Arhan kamu juga jangan kasar pada istrimu. Jika ingin menegurnya atau memberinya ingat. Maka pelan lah. Azizie dan kamu terpaut usia sangat jauh dan Kalian berbeda pemikiran. Dia masih remaja dan kamu harus banyak mengalah untuknya. Kamu harus membimbingnya," ucap Amir yang mengingatkan Arhan.
Arhan hanya mengangguk saja menjawab apa yang di sarankan orangtuanya itu.
"Tapi kali ini aku tidak bisa diam. Jika selama ini aku diam dengan kamu yang berbicara dengan sesuka hati kepadaku. Maka tidak dengan ayah dan ibu. Apa yang kamu lakukan sangat keterlaluan Adara," batin Arhan yang tidak akan mudah baginya membiarkan Adara terus seperti itu yang semakin lama semakin menjadi-jadi.
"Mungkin pernikahan Azizie dan Arhan bukan keinginan keduanya. Semoga saja Arhan bisa mengatasi masalah ini dan bisa bersikap lebih baik pada Azizie," batin Aminah yang justru sangat khawatir pada Adara.
Orang tua Arhan orang yang sederhana dan Arhan sangat menghormati orang tuanya. Dia sangat penyayang dan mungkin itu yang membuat Herlambang mempercayai Arhan.
Bersambung
__ADS_1