TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 1


__ADS_3

 


 


Perkelahian yang tak seimbang itu


segera saja berakhir. Keempat lelaki berdegap tersebut dengan mudah menyikat


lawan mereka. Lawan yang mereka sikat itu adalah seorang anak muda yang berusia


sekitar 19 tahun. Anak muda itu tergelimpang dekat sungai di belakang surau


tinggal, jauh di pinggir kampung. Pakaian anak muda itu sobek-sobek. Dia tak


sadar diri. Uangnya terserak-serak. Keempat lelaki yang mengeroyok dan


melumpuhkan dirinya itu segera memunguti uang yang terserak-serak itu. Uang itu


tadinya adalah uang mereka berempat. Berpindah tangan pada anak muda itu dalam


suatu perjudian yang berlangsung sejak sore kemarin.


Menjelang subuh, ternyata anak muda itulah yang menang. Dia memang seorang


penjudi ulung. Tiap berjudi jarang yang kalah. Tapi malangnya dia selalu


disikat lawannya yang dia kalahkan. Perjudian hampir selalu diakhir


perkelahian. Dan dalam tiap perkelahian dipastikan dialah yang kalah, karena


lawan-lawan yang dia kalahkan bersatu mengeroyoknya. Lalu selalu saja uang yang


telah dia menangkan disikat oleh lawan-lawannya kembali. Termasuk juga uang


miliknya sendiri!


”Lihat-lihat dulu orang yang akan waang lawan buyung. Jangan sembarang main


saja…….”Salah seorang dari lelaki yang berempat itu berkata. Tak ada sahutan.


Karena anak muda itu memang tak mendengar apa-apa. Dia tergolek pingsan.


Keempat lelaki itu kemudian pergi. Kertas koa berserakan di antara puntung


rokok daun enau. Hampir tengah hari anak muda itu baru sadar dari pingsannya.


Tak ada yang mengetahui bahwa dia tergolek di sana. Tempat. mereka berjudi

__ADS_1


memang tempat yang terpencil. Di sebuah surau yang telah lapuk. Surau itu tak


lagi pernah dipakai sejak seorang guru mengaji mati diterkam harimau saat


pulang mengajar. Kampung jadi gempar. Dan surau tempat mengaji dipindahkan orang


ke tengah kampung. Tapi lama-lama bekas surau itu berobah jadi tempat orang


bermain koa. Berjudi dengan daun ceki.


Mereka tak takut pada harimau. Sebab umumnya pejudi-pejudi itu adalah


orang-orang yang mahir dalam bersilat. Lama-lama, berjudi di surau bekas itu


menjadi suatu kebanggaan di antara para pejudi. Sebab berjudi di sana merupakan


salah satu ujian mental. Hanya orang orang berani dan berilmu tinggi saja yang


berani main ke sana.


Untuk mencapai surau itu harus melewati kuburan. Kemudian sebuah lembah


berbelukar. Baru surau. Lembah berbelukar itu, dahulu, ketika surau itu masih


tempat mengaji, adalah sawah. Tapi kini sudah ditinggal dan jadi belukar.


Anak muda itu menggerakkan tangannya. Dia masih tertelungkup. Menggerakkan


kaki. Matanya masih terpejam. Hidungnya mencium bau tanah liat. Telinganya


lambat-lambat mendengar kicau burung.


”Hm, . . . aku masih hidup,” bisiknya.


Dia coba memutar tubuh. Kepalanya terasa berdenyut. Tapi dengan menghajan semua


tenaga, dia berhasil juga menelentangkan tubuh. Matanya jadi silau menatap


sinar matahari yang terjun dari sela-sela daun pepohonan. Dia bangkit. Duduk


dengan bersitumpu pada kedua lengannya. Menggoyang-goyangkan kepala yang


kembali berdenyut sakit. Dia segera ingat pada kemenangannya menjelang subuh


tadi. Tapi dia tak berniat untuk memeriksa uang dikantongnya. Tak perlu. Uang


itu tak perlu diperiksa. Pasti sudah disikat orang.

__ADS_1


Dia segera mengumpulkan ingatannya kembali. Merekat sisa-sisa ingatannya sejak


kemarin. Ya, kemarin senja dia datang kemari bersama empat orang lelaki.


Keempat lelaki itu dia kenal tatkala membeli jagung bakar di pasar Jumat. Dia


tak tahu siapa mereka. Tapi dari cara mereka tegak dan bicara, dia segera


mengenal bahwa mereka adalah perewa dan penjudi. Dia kenal orang-orang jenis ini.


Sebab dia sendiri adalah penjudi yang lihai. Dia ahli dalam berkoa atau main


dadu. Keempat lelaki itu dia lihat tengah jongkok dekat sebuah pedati yang


dipenuhi tembakau. Dia ikut jongkok.


”Minta api” katanya pada salah seorang yang mengisap rokok daun enau.


Orang itu tak segera bereaksi. Beberapa saat dia menatap anak muda yang


tiba-tiba duduk di dekatnya itu. Tapi anak muda itu acuh saja. Dan akhirnya dia


memberikan rokok yang dihisapnya.


”Terima kasih” ujar anak muda itu seraya mengambil rokok yang tinggal puntung


pendek itu.


Tapi setelah dia membakar ujung rokoknya, puntung rokok lelaki itu tidak dia


kembalikan. Melainkan dia buang begitu saja. Muka lelaki itu menjadi merah.


Tapi anak muda itu seperti tidak peduli. Dia malah mengeluarkan segumpal uang


dari balik bajunya.


”Berminat main?” dia bertanya dengan tenang.


Ah, dia memang ahli dalam soal ini. Lelaki yang puntung rokoknya dibuang itu


kembali menatapnya. Kemudian menatap pada ketiga temannya yang masih tetap


dengan tenang mengisap rokok dan duduk mencangkung. Salah seorang di antara


mereka mengerdipkan mata. Dan anak muda itu dapat menangkap isyarat kerdipan


itu dengan sudut matanya. Namun dia pura-pura tak tahu.

__ADS_1


__ADS_2