TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 26


__ADS_3

Tikam Samurai - 26


Namun aku menduga, engkau pasti selamat. Dan engkaulah yang


menguburkan mereka. Aku tak tahu bagaimana caramu menguburkan mayat sebanyak


itu dalam keadaan luka. Dan aku juga tak tahu berapa lama waktu kau perlukan


untuk mengubur mereka. Namun aku yakin, pekerjaan itu pastilah pekerjaan yang


tak mudah bagimu, mengingat lukamu yang parah itu. Sekali lagi terima kasih


nak. Atas bantuanmu mengubur mayat ponakanku, mayat adikku, dan mayat seluruh


penduduk yang terbunuh. Kau selenggarakan mayat mereka, meskipun semasa


hidupnya mereka selalu membencimu. Tuhan akan membalas budimu nak…”


Air mata imam itu merembes dipipinya. Betapa tidak. dia yakin anak muda inilah


yang telah menolong mayat-mayat itu. Namun alangkah malangnya dia. Dia tak


mampu menjelaskan pada orang kampung tentang keyakinannya itu. Dia takut orang


kampung akan membencinya. Dia jadi malu pada kelemahan dirinya itu. Seorang


imam yang tak berani mengatakan yang benar hanya karena dia takut dilucilkan


orang kampung. Padahal dia tahu benar ada ayat yang berbunyi Katakanlah yang


benar, meskipun sang at pahit. Dia menangis menyesali kelemahannya .


”Jadi kuburan ibu, ayah dan kakak saya sudah dipindahkan ke makam kaum di hilir


sana pak Haji?”


”Ya, mereka sudah dipindahkan ke sana nak….”


”Terima kasih pak….” dia lalu bangkit.


”Akan kemana kau Bungsu?”


”Saya akan ke kuburan itu pak…. Setelah itu? Belum saya pikirkan…”

__ADS_1


”Kalau engkau masih lama di kampung ini. Singgahlah ke rumah saya. Masih di


tempat yang lama. Dekat pohon kuini besar yang sering kau lempari buahnya


dahulu. Singgahlah….”


”Terima kasih pak. Insyaallah. Saya permisi. Assalamualaikum….”


”Waalaikum salam….”


Dia turun dari masjid. Imam itu menatap punggungnya. Aneh kalau lelaki yang


turun dari mesjid tadi merasa suatu yang tak sedap dan suatu ketegangan yang


mencengkam mereka atas kehadiran anak muda ini, pak Haji ini justru sebaliknya.


Ketika menatap punggung anak muda itu. menatap bayang-bayangnya melangkah


keluar, ada semacam perasaan bangga dan aman menjalari hati tuanya.


Ya, si Bungsu telah kembali setelah dianggap mati sejak peristiwa berdarah yang


memusnahkan keluarganya belasan purnama yang lalu. Orang kampungnya tak melihat


satu perubahanpun pada diri anak muda itu. Kesan mereka terhadapnya tetap sama


Seorang penjudi dengan muka murung dan mata sayu seperti orang yang tak punya


semangat. Dan lebih daripada itu, mereka tetap menganggapnya sebagai seorang


laknat yang telah membuka rahasia tentang penyusunan kegiatan di kampung ini


dalam melawan Jepang. Itulah sebabnya dia tetap tak disukai kembali ke


kampungnya. Perasaan tak suka itu segera saja diperlihatkan di hari pertama dia


berada di kampung kelahirannya itu. Saat tengah berjalan menuju ke rumahnya


setelah kembali dari kuburan, lewat sedikit dari masjid dia dihadang oleh enam


lelaki yang rata-rata mempunyai tubuh kekar.


Dengan wajah yang tetap murung dan sinar mata yang kuyu, dia tatap lelaki itu

__ADS_1


satu persatu. Dia segera mengenali mereka. Mereka adalah pesilat-pesilat. Dua


di antaranya adalah murid ayahnya, yang lain murid Datuk Maruhun.


”Assalamualaikum……..” sapanya perlahan setelah dari pihak yang mencegat


beberapa saat tetap tak bersuara. Salah seorang itu terbatuk-batuk kecil. orang


itu dia kenal sebagai Malano, murid ayahnya.


”Apa perlumu kemari Bungsu….” Malano bertanya.


Alangkah menyakitkannya pertanyaan itu. Ini adalah kampung halamannya. Tempat


dia dilahirkan dan dibesarkan. Kini dia pulang ke kampungnya untuk melihat


pusara ayah, ibu dan kakaknya. Sejelas itu kedatangannya, masih ada orang yang


bertanya, untuk apa dia kembali. Namun meski pahit sekali pertanyaan itu,


dengan kepala masih menunduk dia tetap menjawab dengan suara yang rendah.


”Saya ingin melihat kuburan ayah, ibu dan kakak …. ”


”Telah kau lihat kuburan mereka bukan?”


Seorang lagi bertanya. Tanpa melihat orangnya, dia tahu bahwa yang bertanya itu


adalah Sutan Permato. Murid silat Datuk Maruhun.


”Ya. Saya datang dari kuburan.”


”Nah, kalau sudah kau lihat, kini tinggalkanlah kampung ini….” suara Malano


kembali terdengar. Dia mengangkat kepala. Ucapan terakhir ini seperti perintah


dan ancaman sekaligus. Apakah dia tak salah dengar? Nampaknya memang tidak.


Keenam lelaki itu mengelilinginya. Menatapnya dengan penuh kebencian. Dan dari


balik kain-kain pintu, dari rumah-rumah yang berdekatan dengan tempat mereka,


perempuan-perempuan dan anak-anak mengintip kejadian itu.

__ADS_1


”Kenapa saya mesti harus pergi dari kampung ini?” dia bertanya.


”Kenapa…? cis.. karena ini..?”


__ADS_2