TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 110


__ADS_3

Tikam Samurai - 110


Ada dua hal yang menyebabkan mereka tak mau segera


menyerahkan kekuasaan ataupun persenjataannya pada Bangsa Indonesia. Pertama


mereka menyerah pada Sekutu. Bukan pada bangsa Indonesia. Karena itu, menurut


peraturan maka pada tentara Sekutu lah persenjataan mereka harus diserahkan.


Jika hal ini tidak mereka lakukan maka mereka bisa mendapat kesulitan.


Sebab kedua adalah, mereka takut akan pembalasan pejuang-pejuang Indonesia.


Sebab pembalasan yang paling menakutkan pastilah datang dari penduduk yang


terjajah. Dan Jepang maklum sangat, bahwa selama tiga setengah tahun di


Minangkabau ini, merekla sudah membuat kekejaman yang tak tanggung-tanggung.


Karenanya mereka takut pada pembalasan penduduk kalau senjata mereka serahkan.


Ada lagi sebab lain. Yaitu sedikit harapan untuk tetap bertahan. Mereka


berharap agar pimpinan tinggi angkatan bersenjata memerintahkan untuk tetap


berjuang sampai tetes darah terakhir.


Dan seluruh balatentara Jepang siap untuk berjibaku kalau perintah itu datang.


Dan di Minangkabau, serta seluruh Sumatera umumnya, mereka menumpahkan harapan


pertahanan di kota Bukittinggi. Bukankah mereka sudah menggali ribuan meter


terowongan yang simpang siur. Yang bisa dijadikan pertahanan. Bukankah mereka


telah mengisi terowongan itu dengan bahan makanan dan amunisi yang cukup untuk


bertahan bagi satu resimen pasukan selama dua tahun.


Kini hanya soal perintah tetap bertempur. Itu lah yang mereka tunggu. Dan


karena itu, mereka tetap mempertahankan senjata mereka. Mereka tetap memegang


kendali Pemerintahan. Meski mereka tak lagi menjalankan aksi-aksi kekerasan


seperti sebelum ditundukkan Sekutu, namun mereka tetap membalas serangan yang

__ADS_1


datang dari pejuang-pejuang.


Alasan mereka adalah menjaga ketertiban menjelang datangnya Tentara Sekutu. Dan


bila Sekutu datang mereka akan menyerah dengan baik-baik. Itu yang mereka


permaklumkan pada pemuka-pemuka Indonesia.


Namun pihak Indonesia sendiri bukannya tak berusaha secara baik-baik untuk


mendapatkan persenjataan dari Jepang. Engku Syafei yang di Sumatera Tengah


menjadi salah seorang tokoh Indonesia yang punya kontak langsung dengan


Soekarno, Hatta dan Panglima Sudirman di Jawa, berusaha mengajak pihak Jepang


berunding.


Beberapa kali pertemuan dengan Mayor Jenderal Fujiyama telah dilakukan. Namun


usahanya namapaknya belum menunjukkan hasil. Sementara itu, pejuang-pejuang


yang lebih radikal banyak yang tidak peduli dengan perundingan itu. Bagi mereka


perang jauh lebih efektif untuk merebut senjata daripada berunding.


pahit pada mereka. Itulah sebabnya kenapa telah terjadi beberapa kali bentrokan


senjata antara pejuang-pejuang itu dengan tentara Jepang.


Kontak-kontak senjata yang sering menjatuhkan korban itu, semata-mata


dimaksudkan oleh pejuang-pejuang Indonesia untuk mendapatkan persenjataan dari


Jepang. Mereka bukannya tak berhasil. Dari pertempuran di Biaro,


pejuang-pejuang itu berhasil merampas sebelas bedil. Dua senapan mesin. Satu


pistol dan beberapa ratus butir peluru.


Dan dari penghadangan di Gadut, Kabupaten Agam, mereka juga mendapat setengah


lusin bedil. Selebihnya, beberapa kali penyergapan gagal karena Jepang


mendatangkan bala bantuannya. Dan kini berita itulah yang dibawa kurir tersebut


kerumah Kari Basa.

__ADS_1


“Lalu apa kabar lai dari Sutan Baheramsyah?” Kari Basa bertanya.


“Dia menyampaikan akan ada rapat malam ini, ditempat biasa”


“Baiklah saya akan kesana….”


Kurir itu pergi. Kini kembali mereka tinggal berdua. Bari Basa dan si Bungsu.


“Akiyama lagi…” Kari Basa mendesis perlahan.


“Siapa dia?: si Bungsu bertanya. Kari Basa menatapnya.


“Engkau tak tahu siapa dia?”


Si Bungsu menggelang. Kari Basa menarik nafas panjang.


“Dalam tentara Jepang ada beberapa serdadu yang kejamnya bukan main. Masih ingat


perlakuan yang kita terima dalam tawanan di terowongan itu?”


Si Bungsu mengangguk. Bagaimana dia akan melupakannya? Masih dia ingat betapa


kuku jari Kari Basa dicabuti satu demi satu. Dan saat ini dia lirik jari-jari


kaki Kari Basa tak berkuku sebuahpun. Dan dia juga masih ingat betapa tubuhnya


disayat-sayat dengan samurai. Kemudian jarinya dipatahkan.


“Nah, cukup banyak tentara Jepang yang sadis begitu. Dan tukang ciptanya hanya


seorang. Yaitu Akiyama!”


“Lalu Akiyama itu siapa?” si Bungsu kembali bertanya.


“Pangkatnya kini Letnan Kolonel. Dulu Mayor. Masih ingat Mayor yang engkau


ancam dengan Samurai ketika mereka menyergap rapat di Birugo?”


Tubuh si Bungsu tiba-tiba menegang mengingat Mayor itu.


“Masih ingat bukan?” Kari Basa bertanya lagi. Dengan perasaan sumbang si Bungsu


mengangguk.


“Nah, dialah Akiyama!”


“Akiyama…!” si Bungsu berkata perlahan.

__ADS_1


“Ya. Dialah orangnya…”


__ADS_2