
Tikam Samurai - 117
Memang tak dapat disalahkan penduduk yang masih tetap
tinggal ditempat kejadian itu. Barangkali mereka tak merasa rugi telah
ditangkap Kempetai. Malah bila telah bebas, meski kena tampar sebelas dua belas
kali, kepada teman dan kenalan, kepada sanak famili, kepada anak cucu, mereka
bisa menepuk dada. Bercerita tentang kehebatan si Bungsu. Bercerita bahwa
mereka ikut dalam “aksi” membunuh dan menelanjangi enam orang Jepang di dekat
jembatan gantung itu bersama si Bungsu. Bersama si Bungsu!
Hm, bayangkan kebanggan yang akan mereka perdapat.
Demikian selalu rakyat kecil. Harapannya tak pula besar. Kecil saja, sekecil
kehidupan mereka. Bagi mereka, kebanggaan-kebanggan bertegur sapa atau berdekatan
dengan tokoh yang dikagumi, sudah meruapakan suatu kebahagian. Dan itu mereka
perdapat hari ini.
Peristiwa di dekat jembatan gantung itu segera menyebar seperti menelan lalang.
Bersambung dari satu mulut ke mulut yang lain. Makin lama, kehebatan peritiwa
itu makin menjadi-jadi. Ada yang bercerita bahwa pakaian kelima serdadu Jepang
itu tanggal hanya karena bentakkan si Bungsu.
Artinya, bentakkan si Bungsu menagndung tenaga dalam yang tangguh. Ada pula
yang menceritakan bahwa dia melihat benar dengan mata kepala sendiri, betapa si
Bungsu tetap saja tegak ketika ditembak belasan kali oleh Kempetai-Kempetai
itu. Setelah perluru pistol Kempetai itu habis barulah si Bungsu beraksi dengan
samurainya. Bukan main hebatnya cerita itu bertebar dan bersambung dari mulut
ke mulut. Yang sejengkal djadi sedepa.
Namun begitulah selalu rakyat kecil. Jika mereka tidak mampu memperoleh yang
__ADS_1
besar-besar, bahkan memperoleh yang kecil sekalipun susah, maka mereka cukup
merasa puas dengan hanya menceritakan sesuatu yang besar.
Atau sekurang-kurangnya membesar-besarkan peritiwa kecil. Bukankah itu termasuk
juga suatu”pekerjaan” yang besar?
Letnan Kolonel Akiyama mencak-mencak saking berangnya mendengar laporan kelima
serdadu yang ditelanjangi itu. Mukanya merah padam. Persis udang yang dibakar
hidup-hidup. Kelima serdadu yang hanya bercelana kotok itu dia biarkan terus
bercelana kotok. Tak dia biarkan memakai pakaian.
“Goblok! Pandir! Kalian tak punya otak. Tak mampu melawan seorang anak ingusan
yang hanya pakai samurai. Sialan” dan tangannya bekerja menampari kelima orang
serdadunya itu. Puak…puak-puak…pak! Berkatintam tangannya mendarat datar di
pipi, kepala dan tengkuk kelima serdadu itu.
Kelima serdadu itu hanya dapat tegak dengan diam dan sikap sempurna. Masih
mereka diseret ketahanan kemudian disiksa? Cukup banyak serdadu Jepang yang
mengalami siksaan dibawah perintah Letnan Kolonel ini. Dia memang arsitek
bidang siksa menyiksa.
Tapi tiba-tiba Letnan Kolonel itu jadi terdiam pula. Dia ingat kembali
kata-katanya barusan. “Goblok, pandir, beruk. Kalian tak punya otak, tak mampu
melawan anak ingusan yang hanya pakai samurai. Sialan” begitu ucapan makiannya
sebentar ini. Dan dia jadi terdiam tertegak seperti patung justru mengingat
kejadian di Birugo dahulu. Bukankah dia juga dibuat tak berkutik oleh ancaman
samuari anak muda itu?
Bahkan waktu itu dia justru punya kekuatan jauh lebih besar. Dia membawa hampir
tiga puluh orang serdadu. Tapi dengan kekuatan begitu, dia justru berhasil
__ADS_1
direndam anak muda itu dalam tebat. Bahkan Letnan Atto, ajudannya mati dibabat
anak muda itu di depan matanya! Dia terdiam karena merasa malu. Dia baru saja
memaki anak buahnya. Bukankah itu juga berarti memaki dirinya sendiri?
“Jahanam. Pergi kalian dari hadapanku! Bagero, beruk semuaa!” dia membentak
sambil menendangi pantat anak buahnya yang lima orang itu. Ada yang terpancar
kentutnya kena tendangan itu. Selagi ada kesempatan, ketika diusir itu lebih
cepat menghindar lebih baik pikir mereka.
Dan kini tinggallah Overste itu sendiri. Terengah-engah dengan muka sebentar
pucat sebentar merah. Si Bungsu sudah keterlaluan.Sudah melumuri kepala botakku
dengan cirit, pikirnya. Dengan menelanjangi tentara Jepang dimuka orang ramai, membunuh
komandan regunya, kemudia berpesan pula agar menyampaikan ancaman pada Akiyama,
bukankah itu sebuah tantangan yang tak alang kepalang.
Oh Budha, kalau saja bom atom tak meledak di Nagasaki dan Hirosyima, kalau saja
Jepang tak bertekuk lutut pada Sekutu, dia pasti sudah menyuruh menangangkapi
semua orang di Bukittinggi ini. Menangkapin mereka sambil memaksa buka mulut
untuk menunjukkan dimana si Bungsu sembunyi. Anak setan itu pasti dalam kota
ini. Pasti, tapi dimana?
Malangnya Jepang telah menyerah. Jadi kekuatan mereka tak begitu berarti lagi.
Mereka harus banyak menekan perasaan. Tapi Akiyama bersumpah, dia harus
menangkap dan membunuh si Bungsu jahanam itu. Harus!
Sebaliknya si Bungsu juga bersumpah pada dirinya untuk menuntut balas pada
Akiyama. Masih ingat dia betapa Letnan Kolonel itu, semasa dia masih berpangkat
Mayor, menghantam luka dibahunya. Lukanya dia tusuk dengan keempat jarinya
sehingga jebol ke dalam. Bukan main sakitnya.
__ADS_1