TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 117


__ADS_3

Tikam Samurai - 117


Memang tak dapat disalahkan penduduk yang masih tetap


tinggal ditempat kejadian itu. Barangkali mereka tak merasa rugi telah


ditangkap Kempetai. Malah bila telah bebas, meski kena tampar sebelas dua belas


kali, kepada teman dan kenalan, kepada sanak famili, kepada anak cucu, mereka


bisa menepuk dada. Bercerita tentang kehebatan si Bungsu. Bercerita bahwa


mereka ikut dalam “aksi” membunuh dan menelanjangi enam orang Jepang di dekat


jembatan gantung itu bersama si Bungsu. Bersama si Bungsu!


Hm, bayangkan kebanggan yang akan mereka perdapat.


Demikian selalu rakyat kecil. Harapannya tak pula besar. Kecil saja, sekecil


kehidupan mereka. Bagi mereka, kebanggaan-kebanggan bertegur sapa atau berdekatan


dengan tokoh yang dikagumi, sudah meruapakan suatu kebahagian. Dan itu mereka


perdapat hari ini.


Peristiwa di dekat jembatan gantung itu segera menyebar seperti menelan lalang.


Bersambung dari satu mulut ke mulut yang lain. Makin lama, kehebatan peritiwa


itu makin menjadi-jadi. Ada yang bercerita bahwa pakaian kelima serdadu Jepang


itu tanggal hanya karena bentakkan si Bungsu.


Artinya, bentakkan si Bungsu menagndung tenaga dalam yang tangguh. Ada pula


yang menceritakan bahwa dia melihat benar dengan mata kepala sendiri, betapa si


Bungsu tetap saja tegak ketika ditembak belasan kali oleh Kempetai-Kempetai


itu. Setelah perluru pistol Kempetai itu habis barulah si Bungsu beraksi dengan


samurainya. Bukan main hebatnya cerita itu bertebar dan bersambung dari mulut


ke mulut. Yang sejengkal djadi sedepa.


Namun begitulah selalu rakyat kecil. Jika mereka tidak mampu memperoleh yang

__ADS_1


besar-besar, bahkan memperoleh yang kecil sekalipun susah, maka mereka cukup


merasa puas dengan hanya menceritakan sesuatu yang besar.


Atau sekurang-kurangnya membesar-besarkan peritiwa kecil. Bukankah itu termasuk


juga suatu”pekerjaan” yang besar?


Letnan Kolonel Akiyama mencak-mencak saking berangnya mendengar laporan kelima


serdadu yang ditelanjangi itu. Mukanya merah padam. Persis udang yang dibakar


hidup-hidup. Kelima serdadu yang hanya bercelana kotok itu dia biarkan terus


bercelana kotok. Tak dia biarkan memakai pakaian.


“Goblok! Pandir! Kalian tak punya otak. Tak mampu melawan seorang anak ingusan


yang hanya pakai samurai. Sialan” dan tangannya bekerja menampari kelima orang


serdadunya itu. Puak…puak-puak…pak! Berkatintam tangannya mendarat datar di


pipi, kepala dan tengkuk kelima serdadu itu.


Kelima serdadu itu hanya dapat tegak dengan diam dan sikap sempurna. Masih


mereka diseret ketahanan kemudian disiksa? Cukup banyak serdadu Jepang yang


mengalami siksaan dibawah perintah Letnan Kolonel ini. Dia memang arsitek


bidang siksa menyiksa.


Tapi tiba-tiba Letnan Kolonel itu jadi terdiam pula. Dia ingat kembali


kata-katanya barusan. “Goblok, pandir, beruk. Kalian tak punya otak, tak mampu


melawan anak ingusan yang hanya pakai samurai. Sialan” begitu ucapan makiannya


sebentar ini. Dan dia jadi terdiam tertegak seperti patung justru mengingat


kejadian di Birugo dahulu. Bukankah dia juga dibuat tak berkutik oleh ancaman


samuari anak muda itu?


Bahkan waktu itu dia justru punya kekuatan jauh lebih besar. Dia membawa hampir


tiga puluh orang serdadu. Tapi dengan kekuatan begitu, dia justru berhasil

__ADS_1


direndam anak muda itu dalam tebat. Bahkan Letnan Atto, ajudannya mati dibabat


anak muda itu di depan matanya! Dia terdiam karena merasa malu. Dia baru saja


memaki anak buahnya. Bukankah itu juga berarti memaki dirinya sendiri?


“Jahanam. Pergi kalian dari hadapanku! Bagero, beruk semuaa!” dia membentak


sambil menendangi pantat anak buahnya yang lima orang itu. Ada yang terpancar


kentutnya kena tendangan itu. Selagi ada kesempatan, ketika diusir itu lebih


cepat menghindar lebih baik pikir mereka.


Dan kini tinggallah Overste itu sendiri. Terengah-engah dengan muka sebentar


pucat sebentar merah. Si Bungsu sudah keterlaluan.Sudah melumuri kepala botakku


dengan cirit, pikirnya. Dengan menelanjangi tentara Jepang dimuka orang ramai, membunuh


komandan regunya, kemudia berpesan pula agar menyampaikan ancaman pada Akiyama,


bukankah itu sebuah tantangan yang tak alang kepalang.


Oh Budha, kalau saja bom atom tak meledak di Nagasaki dan Hirosyima, kalau saja


Jepang tak bertekuk lutut pada Sekutu, dia pasti sudah menyuruh menangangkapi


semua orang di Bukittinggi ini. Menangkapin mereka sambil memaksa buka mulut


untuk menunjukkan dimana si Bungsu sembunyi. Anak setan itu pasti dalam kota


ini. Pasti, tapi dimana?


Malangnya Jepang telah menyerah. Jadi kekuatan mereka tak begitu berarti lagi.


Mereka harus banyak menekan perasaan. Tapi Akiyama bersumpah, dia harus


menangkap dan membunuh si Bungsu jahanam itu. Harus!


Sebaliknya si Bungsu juga bersumpah pada dirinya untuk menuntut balas pada


Akiyama. Masih ingat dia betapa Letnan Kolonel itu, semasa dia masih berpangkat


Mayor, menghantam luka dibahunya. Lukanya dia tusuk dengan keempat jarinya


sehingga jebol ke dalam. Bukan main sakitnya.

__ADS_1


__ADS_2