TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 89


__ADS_3

Tikam Samurai - 89


“Adapun yang ingin kami bicarakan adalah sepak terjang Datuk


dan si Bungsu bulan ini. Kegaduhan dan pembunuhan yang Datuk lakukan bersama si


Bungsu telah menyebabkan rencana kita gagal. Dan itu sangat merugikan


perjuangan kita. Kami ingin meminta pertanggungjawaban Datuk. Kenapa Datuk


sampai melanggar perjanjian yang telah kita buat.” Semua terdiam menanti


jawaban Datuk Penghulu.


“Jawablah Datuk.” Seorang lelaki yang pakai baju kuning bicara. Suara lelaki


itu perlahan saja. Tapi di dalamnya jelas tergambar adanya nada tekanan. Datuk


Penghulu menatap mereka. “Apa yang harus kujawab untuk kalian . . . ,” katanya


datar.


Dengan menyebut kata kalian jelas ada nada menentang dari datuk itu. Hal itu


menyebabkan suasana kurang enak diantara yang hadir.


“Yang harus Datuk jawab adalah, kenapa Datuk bertindak sendiri-sendiri. Datuk


telah mulai menyerang Jepang sebelum ada perintah. Dan itu mengacaukan rencana


yang telah kita susun berbulan-bulan . . ..”


“Saya rasa tak pernah ada larangan atau ketentuan untuk tak melakukan


serangan..”


“Secara tertulis memang tidak. Tapi dalam kemiliteran, segala tindakan harus


dengan satu komando. Sebagai perwira Intelejen, Datuk telah melanggar ketentuan


itu.”


“Apakah saya harus membiarkan anak istri saya diperkosa kemudian dibunuh tanpa


membalas?”


“Datuk harus berpikir secara NasionaL Kita berjuang bukan untuk membela


kepentingan keluarga atau pribadi. Kita berjuang untuk Negara dan Bangsa.”


“Ya, tuan-tuan bisa berkata begitu karena tuan-tuan belum merasakan apa yang

__ADS_1


saya rasakan…..” Datuk itu mulai meninggikan suaranya.


“Apakah hanya karena emosi pribadi Datuk bersedia mengorbankan tujuan yang


besar?”


“Tuan-tuan harus memisahkan mana yang pribadi, mana yang tujuan bersama. . . .”


“Bukan kami yang harus memisahkan, tapi Datuk”


Suara mereka terputus ketika si Bungsu tiba-tiba tegak. Dia melangkah keluar.


“Bungsu. . .”


Lelaki yang tadi membuka rapat itu memanggil. Si Bungsu membalikkan badan. Dia


menunggu orang itu bicara. Tapi karena lelaki itu tak juga bicara, dia berbalik


lagi. Tapi kembali terhenti ketika lelaki itu berkata


“Tunggu.”


“Tuan bicara pada saya?” tanyanya.


“Ya, saya bicara padamu. . . .”


“Nama saya Bungsu. Bukan Tunggu. Ada apa maka saya tuan cegah keluar . . . ?”


“Diri saya?” si Bungsu merasa heran.


“Ya, sepak terjang Saudara merugikan rencana kami…”


“Rencana yang mana?”


“Rencana penyergapan kami terhadap beberapa markas Jepang. . .”


Si Bungsu tersenyum tipis. Kemudian berbalik menghadap tepat-tepat pada keenam


lelaki itu. Dan ketika dia bicara, suaranya terdengar mendesis tajam.


“Saya tidak punya sangkut paut dengan rencana tuan-tuan. Saya tak punya sangkut


paut dengan kemerdekaan atau kebebasan yang tuan inginkan. Saya bukan pejuang.


Dan saya berhak berbuat sekehendak saya. . .”


Dia berhenti bicara. Menatap keenam lelaki itu dengan tajam. Sejak mereka


mengata-ngatai Datuk Penghulu tadi dia sudah merasa mual. Karenanya dia merasa


lebih baik berada di luar ruangan itu daripada mendengar pembicaraan yang

__ADS_1


menyesakkan dadanya ini. Lelaki yang berbaju kuning berdiri.


“Kau tak bisa berbuat sekehendakmu buyung. Daerah ini daerah perjuangan. Kami


telah membaginya dalam sektor-sektor. Tiap sektor berada dalam satu tangan


komando. Dan kau berada di dalam sektorku. Karenanya engkau harus tunduk di


bawah perintahku.”


“Baik. Apa perintah Tuan pada saya. . .?.”


“Buat sementara, untuk menghindarkan kekacauan pada rencana induk yang telah


disusun, kau serahkan samuraimu. Ini hanya untuk sementara. Sampai saat yang


memungkinkan. Harap dimengerti. . .”


Datuk Penghulu sampai tegak mendengar kata-kata ini. Tapi sebelum dia buka


suara, si Bungsu telah menyahut,


“Baik. Datanglah kemari, dan ambil sendiri samurai ini….”


Dia mengulurkan tangan kirinya yang memegang samurai. Sikapnya menentang


sekali. Semua orang yang ada di sana pada tertegun.


“Ambillah. Tapi untuk tuan mengerti, sebelum tuan, sudah ada lebih dari empat


puluh Jepang yang ingin mengambilnya dari saya. Dan saya telah bersumpah, jika


ada yang berniat mengambil samurai ini, maka hanya satu di antara dua pilihan.


Saya atau orang itu yang mati. Dan selama ini, saya masih bisa bertahan hidup,


Barangkali hari ini keadaan jadi lain, silahkan saja Tuan coba mengambilnya. .


..”


Keenam lelaki itu mengerti, ucapan anak muda ini tidak hanya sekedar gertak


sambal. Dari beberapa orang, mereka sudah mendengar kehebatan anak muda


tersebut. Namun beberapa orang diantara mereka memang belum pernah tahu tentang


si Bungsu. Kini mendengar betapa dalam rapat khusus ini ada anak muda yang


seperti takabur dan menantang pimpinan gerilya, salah seorang di antara mereka


tegak.

__ADS_1


__ADS_2