
Tikam Samurai - 89
“Adapun yang ingin kami bicarakan adalah sepak terjang Datuk
dan si Bungsu bulan ini. Kegaduhan dan pembunuhan yang Datuk lakukan bersama si
Bungsu telah menyebabkan rencana kita gagal. Dan itu sangat merugikan
perjuangan kita. Kami ingin meminta pertanggungjawaban Datuk. Kenapa Datuk
sampai melanggar perjanjian yang telah kita buat.” Semua terdiam menanti
jawaban Datuk Penghulu.
“Jawablah Datuk.” Seorang lelaki yang pakai baju kuning bicara. Suara lelaki
itu perlahan saja. Tapi di dalamnya jelas tergambar adanya nada tekanan. Datuk
Penghulu menatap mereka. “Apa yang harus kujawab untuk kalian . . . ,” katanya
datar.
Dengan menyebut kata kalian jelas ada nada menentang dari datuk itu. Hal itu
menyebabkan suasana kurang enak diantara yang hadir.
“Yang harus Datuk jawab adalah, kenapa Datuk bertindak sendiri-sendiri. Datuk
telah mulai menyerang Jepang sebelum ada perintah. Dan itu mengacaukan rencana
yang telah kita susun berbulan-bulan . . ..”
“Saya rasa tak pernah ada larangan atau ketentuan untuk tak melakukan
serangan..”
“Secara tertulis memang tidak. Tapi dalam kemiliteran, segala tindakan harus
dengan satu komando. Sebagai perwira Intelejen, Datuk telah melanggar ketentuan
itu.”
“Apakah saya harus membiarkan anak istri saya diperkosa kemudian dibunuh tanpa
membalas?”
“Datuk harus berpikir secara NasionaL Kita berjuang bukan untuk membela
kepentingan keluarga atau pribadi. Kita berjuang untuk Negara dan Bangsa.”
“Ya, tuan-tuan bisa berkata begitu karena tuan-tuan belum merasakan apa yang
__ADS_1
saya rasakan…..” Datuk itu mulai meninggikan suaranya.
“Apakah hanya karena emosi pribadi Datuk bersedia mengorbankan tujuan yang
besar?”
“Tuan-tuan harus memisahkan mana yang pribadi, mana yang tujuan bersama. . . .”
“Bukan kami yang harus memisahkan, tapi Datuk”
Suara mereka terputus ketika si Bungsu tiba-tiba tegak. Dia melangkah keluar.
“Bungsu. . .”
Lelaki yang tadi membuka rapat itu memanggil. Si Bungsu membalikkan badan. Dia
menunggu orang itu bicara. Tapi karena lelaki itu tak juga bicara, dia berbalik
lagi. Tapi kembali terhenti ketika lelaki itu berkata
“Tunggu.”
“Tuan bicara pada saya?” tanyanya.
“Ya, saya bicara padamu. . . .”
“Nama saya Bungsu. Bukan Tunggu. Ada apa maka saya tuan cegah keluar . . . ?”
“Diri saya?” si Bungsu merasa heran.
“Ya, sepak terjang Saudara merugikan rencana kami…”
“Rencana yang mana?”
“Rencana penyergapan kami terhadap beberapa markas Jepang. . .”
Si Bungsu tersenyum tipis. Kemudian berbalik menghadap tepat-tepat pada keenam
lelaki itu. Dan ketika dia bicara, suaranya terdengar mendesis tajam.
“Saya tidak punya sangkut paut dengan rencana tuan-tuan. Saya tak punya sangkut
paut dengan kemerdekaan atau kebebasan yang tuan inginkan. Saya bukan pejuang.
Dan saya berhak berbuat sekehendak saya. . .”
Dia berhenti bicara. Menatap keenam lelaki itu dengan tajam. Sejak mereka
mengata-ngatai Datuk Penghulu tadi dia sudah merasa mual. Karenanya dia merasa
lebih baik berada di luar ruangan itu daripada mendengar pembicaraan yang
__ADS_1
menyesakkan dadanya ini. Lelaki yang berbaju kuning berdiri.
“Kau tak bisa berbuat sekehendakmu buyung. Daerah ini daerah perjuangan. Kami
telah membaginya dalam sektor-sektor. Tiap sektor berada dalam satu tangan
komando. Dan kau berada di dalam sektorku. Karenanya engkau harus tunduk di
bawah perintahku.”
“Baik. Apa perintah Tuan pada saya. . .?.”
“Buat sementara, untuk menghindarkan kekacauan pada rencana induk yang telah
disusun, kau serahkan samuraimu. Ini hanya untuk sementara. Sampai saat yang
memungkinkan. Harap dimengerti. . .”
Datuk Penghulu sampai tegak mendengar kata-kata ini. Tapi sebelum dia buka
suara, si Bungsu telah menyahut,
“Baik. Datanglah kemari, dan ambil sendiri samurai ini….”
Dia mengulurkan tangan kirinya yang memegang samurai. Sikapnya menentang
sekali. Semua orang yang ada di sana pada tertegun.
“Ambillah. Tapi untuk tuan mengerti, sebelum tuan, sudah ada lebih dari empat
puluh Jepang yang ingin mengambilnya dari saya. Dan saya telah bersumpah, jika
ada yang berniat mengambil samurai ini, maka hanya satu di antara dua pilihan.
Saya atau orang itu yang mati. Dan selama ini, saya masih bisa bertahan hidup,
Barangkali hari ini keadaan jadi lain, silahkan saja Tuan coba mengambilnya. .
..”
Keenam lelaki itu mengerti, ucapan anak muda ini tidak hanya sekedar gertak
sambal. Dari beberapa orang, mereka sudah mendengar kehebatan anak muda
tersebut. Namun beberapa orang diantara mereka memang belum pernah tahu tentang
si Bungsu. Kini mendengar betapa dalam rapat khusus ini ada anak muda yang
seperti takabur dan menantang pimpinan gerilya, salah seorang di antara mereka
tegak.
__ADS_1