TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 100


__ADS_3

Tikam Samurai - 100


“Kau memang tak mengenali salah seorang pun dari mereka?”


Letnan itu bertanya. Kari Basa menggeleng. Letnan itu menggertakkan gigi.


“Selain tak mengenali mereka, tapi kamu orang ikut dalam gerakkan melawan


Jepang, apakah juga kamu tak mengenali mereka sebagai orang kampungmu?”


Kari Basa menggeleng. Si letnan memberi isyarat lagi. Kopral yang memegang tang


itu maju. Dia membungkuk. sebelum si Bungsu sadar apa yang akan dilakukan


Jepang itu, terdengar Kari Basa memekik. Dan dengan terkejut si Bungsu melihat


betapa di mulut tang itu terjepit sesuatu. Kuku Yah Tuhan, kuku empu kaki Kari Basa


dicabut dengan tang Darah meleleh diempu kakinya itu.


“Jawablah Kau mengenali salah satu dari mereka ?”


Kari Basa menggeleng dengan gerakan keras.


“Baik. Kini saya baca yang berpangkat Itto-f Hei. (Prajurit Satu).”


Karena disetiap akhir mendengar nama yang dibacakan Kari Basa tetap menggeleng,


maka dia memekik lagi karena sebuah kukunya dicabut lagi. Dan. Lagi. Lagi


Nama-nama Gyugun itu disebut terus setelah Nitto f Hei, ftto f Hei, Tjo f Hei,


Hei cho, Go cho, Go-n syo, Syo cho, Djun-I, Syo-I, dan sampai ke ***-I (Kapten)


yang berpangkat tertinggi bagi para Gyugun yang berasal dari putera Indonesia


waktu itu.


Entah berapa kali Kari Basa memekik. Pingsan, Memekik, pingsan. Menggeleng,


memekik, pingsan. Menggeleng, memekik, pingsan. Disiram air. Begitu terus


berulang-ulang. Yang tak kurang menderitanya adalah si Bungsu. Tubuhnya


bersimbah peluh. Beberapa kali dia memejamkan mata. Ia menggigit bibir. Menahan


pendengaran agar tak tertangkap suara pekik Kari Basayang hanya beberapa depa


di depannya. Namun bagaimana dia akan menahan pendengarannya? Tiap pekik Kari

__ADS_1


Basa menyebabkan hatinya seperti tertikam.


Dan kesepuluh kuku jari Kari Basa ini habis tercabut Ya Tuhan, alangkah


menderitanya lelaki itu. Namun Tuhan jualah Yang Maha Kuasa, karena lelaki itu


tetap saja berkeras untuk menggeleng. Tubuhnya tergantung saja di rantai.


Tergantung tak sadarkan diri.


“Jahannam..” Letnan itu bersuara lagi.


Kopral dan prajurit bawahannya mengambil ember besar berisi air. Kemudian


menyiramkan pada Kari Basa. Kari Basa membuka mata, mengangkat kepala perlahan,


kemudian terkulai lagi. Letnan itu meninggalkan kursinya. Berjalan mendekati


Kari Basa. Dengan kasar dia mencekal rambut Kari Basa. Menyentakkan hingga


kepalanya tertegak. Bicaralah Letnan itu mengeram.


Tapi di wajah Kari Basa hanya tergurat kebencian, dan tangan Letnan itupun


bergerak. Sebuah pukulan karate jarak dekat menghajar mulut Kari Basa.


Terdengar bunyi tak sedap ketika pukulannya beradu dengan bibir Kari Basa.


Basa. Dan tiba-tiba…Tuih!!!! Kari Basa meludahi muka Letnan yang berjarak


sejengkal di hadapannya itu. Ludahnya bercampur darah dan gigi. Ya, pukulan


tidak hanya memecahkan bibirnya. Tapi juga merontokkan empat buah gigi depannya.


Letnan itu menyumpah-nyumpah dan muntah kena ludahnya. Dan tiba-tiba dia


berbalik.


Menghantam Kari Basa dengan tendangan, pukulan-Tendangan-Pukul Tendang Pukul


Lalu terhenti terengah-engah. Tubuh Kari Basa tergantung tak bergerak. Dan mata


si Bungsu berkunang-kunang. Tubuhnya basah oleh peluh. Dia jadi malu pada


dirinya. Teringat olehnya betapa cepatnya dia menyerah ketika di Koto Baru itu.


Kenapa dia turuti perintah Mayor itu untuk menyerah membuang samurai? Kenapa ?


Bukankah dia bisa melawan? Secepat itukah dia harus menyerah? Kini lihatlah

__ADS_1


Kari Basa ini. Tak segeming pun dia beranjak dari pendiriannya.


Dia jadi malu pada dirinya sendiri. Dan dia mengagumi lelaki yang barangkali


usianya telah melampaui empat puluh lima ini. Dia tatap tubuh lelaki yang terkulai


dalam ikatannya itu. Kelihatannya lemah dan tak berdaya. Tapi di dalam tubuhnya


yang kini tak berdaya itu, alangkah besarnya kehormatan yang dia miliki.


Alangkah mulia pribadinya. Alangkah banyaknya. pejuang-pejuang lainnya


berhutang nyawa padanya. Sekali saja dia buka mulut, mengatakan salah seorang


di antara Gyugun itu ikut dalam gerakkan mereka, bisa dipastikan bahwa Gyugun


yang lain akan bisa digulung dan dihukum tembak Si Bungsu berani bertaruh,


jarang satu diantara seratus ribu bangsanya yang akan tahan menutup rahasia


jika telah disiksa seperti Kari Basa ini. Kini dia melihat betapa teguhnya


lelaki tua ini memegang rahasia. Betapa teguhnya. Tak tergoyahkan oleh pukulan


kayu. Tak tercabikkan meski oleh cabutan kuku. Dan tak beranjak meski bibir dan


giginya rontok.


“Hari sudah pagi. Mari kita tinggalkan dia …..” letnan itu berkata. Mereka


bersiap untuk pergi. Letnan itu berhenti, kemudian menoleh pada si Bungsu.


“Beberapa saat lagi giliranmu Bungsu. Engkau telah banyak menimbulkan korban


diantara balatentara Tenno Heika. Apa yang akan kau terima jauh lebih nikmat


daripada yang diterima Kari Basa. Nah, bersiaplah menjelang kami datang. . . he


. .he. . .he”


Dan Kempetai itu kembali lenyap di balik pintu kayu betulang besi dan


berbingkai beton diujung kamar tersebut. Tinggallah kini si Bungsu dan Kari


Basa Sunyi cahaya lampu listrik yang menggantung tinggi di langit-langit


terowongan bersinar suram. Menerangi kamar tahanan mereka yang berukuran empat


kali meter tersebut. Si Bungsu meneliti ruangan itu. Meneliti kalau-kalau dia

__ADS_1


bisa menyelamatkan diri.


__ADS_2