
Tikam Samurai - 100
“Kau memang tak mengenali salah seorang pun dari mereka?”
Letnan itu bertanya. Kari Basa menggeleng. Letnan itu menggertakkan gigi.
“Selain tak mengenali mereka, tapi kamu orang ikut dalam gerakkan melawan
Jepang, apakah juga kamu tak mengenali mereka sebagai orang kampungmu?”
Kari Basa menggeleng. Si letnan memberi isyarat lagi. Kopral yang memegang tang
itu maju. Dia membungkuk. sebelum si Bungsu sadar apa yang akan dilakukan
Jepang itu, terdengar Kari Basa memekik. Dan dengan terkejut si Bungsu melihat
betapa di mulut tang itu terjepit sesuatu. Kuku Yah Tuhan, kuku empu kaki Kari Basa
dicabut dengan tang Darah meleleh diempu kakinya itu.
“Jawablah Kau mengenali salah satu dari mereka ?”
Kari Basa menggeleng dengan gerakan keras.
“Baik. Kini saya baca yang berpangkat Itto-f Hei. (Prajurit Satu).”
Karena disetiap akhir mendengar nama yang dibacakan Kari Basa tetap menggeleng,
maka dia memekik lagi karena sebuah kukunya dicabut lagi. Dan. Lagi. Lagi
Nama-nama Gyugun itu disebut terus setelah Nitto f Hei, ftto f Hei, Tjo f Hei,
Hei cho, Go cho, Go-n syo, Syo cho, Djun-I, Syo-I, dan sampai ke ***-I (Kapten)
yang berpangkat tertinggi bagi para Gyugun yang berasal dari putera Indonesia
waktu itu.
Entah berapa kali Kari Basa memekik. Pingsan, Memekik, pingsan. Menggeleng,
memekik, pingsan. Menggeleng, memekik, pingsan. Disiram air. Begitu terus
berulang-ulang. Yang tak kurang menderitanya adalah si Bungsu. Tubuhnya
bersimbah peluh. Beberapa kali dia memejamkan mata. Ia menggigit bibir. Menahan
pendengaran agar tak tertangkap suara pekik Kari Basayang hanya beberapa depa
di depannya. Namun bagaimana dia akan menahan pendengarannya? Tiap pekik Kari
__ADS_1
Basa menyebabkan hatinya seperti tertikam.
Dan kesepuluh kuku jari Kari Basa ini habis tercabut Ya Tuhan, alangkah
menderitanya lelaki itu. Namun Tuhan jualah Yang Maha Kuasa, karena lelaki itu
tetap saja berkeras untuk menggeleng. Tubuhnya tergantung saja di rantai.
Tergantung tak sadarkan diri.
“Jahannam..” Letnan itu bersuara lagi.
Kopral dan prajurit bawahannya mengambil ember besar berisi air. Kemudian
menyiramkan pada Kari Basa. Kari Basa membuka mata, mengangkat kepala perlahan,
kemudian terkulai lagi. Letnan itu meninggalkan kursinya. Berjalan mendekati
Kari Basa. Dengan kasar dia mencekal rambut Kari Basa. Menyentakkan hingga
kepalanya tertegak. Bicaralah Letnan itu mengeram.
Tapi di wajah Kari Basa hanya tergurat kebencian, dan tangan Letnan itupun
bergerak. Sebuah pukulan karate jarak dekat menghajar mulut Kari Basa.
Terdengar bunyi tak sedap ketika pukulannya beradu dengan bibir Kari Basa.
Basa. Dan tiba-tiba…Tuih!!!! Kari Basa meludahi muka Letnan yang berjarak
sejengkal di hadapannya itu. Ludahnya bercampur darah dan gigi. Ya, pukulan
tidak hanya memecahkan bibirnya. Tapi juga merontokkan empat buah gigi depannya.
Letnan itu menyumpah-nyumpah dan muntah kena ludahnya. Dan tiba-tiba dia
berbalik.
Menghantam Kari Basa dengan tendangan, pukulan-Tendangan-Pukul Tendang Pukul
Lalu terhenti terengah-engah. Tubuh Kari Basa tergantung tak bergerak. Dan mata
si Bungsu berkunang-kunang. Tubuhnya basah oleh peluh. Dia jadi malu pada
dirinya. Teringat olehnya betapa cepatnya dia menyerah ketika di Koto Baru itu.
Kenapa dia turuti perintah Mayor itu untuk menyerah membuang samurai? Kenapa ?
Bukankah dia bisa melawan? Secepat itukah dia harus menyerah? Kini lihatlah
__ADS_1
Kari Basa ini. Tak segeming pun dia beranjak dari pendiriannya.
Dia jadi malu pada dirinya sendiri. Dan dia mengagumi lelaki yang barangkali
usianya telah melampaui empat puluh lima ini. Dia tatap tubuh lelaki yang terkulai
dalam ikatannya itu. Kelihatannya lemah dan tak berdaya. Tapi di dalam tubuhnya
yang kini tak berdaya itu, alangkah besarnya kehormatan yang dia miliki.
Alangkah mulia pribadinya. Alangkah banyaknya. pejuang-pejuang lainnya
berhutang nyawa padanya. Sekali saja dia buka mulut, mengatakan salah seorang
di antara Gyugun itu ikut dalam gerakkan mereka, bisa dipastikan bahwa Gyugun
yang lain akan bisa digulung dan dihukum tembak Si Bungsu berani bertaruh,
jarang satu diantara seratus ribu bangsanya yang akan tahan menutup rahasia
jika telah disiksa seperti Kari Basa ini. Kini dia melihat betapa teguhnya
lelaki tua ini memegang rahasia. Betapa teguhnya. Tak tergoyahkan oleh pukulan
kayu. Tak tercabikkan meski oleh cabutan kuku. Dan tak beranjak meski bibir dan
giginya rontok.
“Hari sudah pagi. Mari kita tinggalkan dia …..” letnan itu berkata. Mereka
bersiap untuk pergi. Letnan itu berhenti, kemudian menoleh pada si Bungsu.
“Beberapa saat lagi giliranmu Bungsu. Engkau telah banyak menimbulkan korban
diantara balatentara Tenno Heika. Apa yang akan kau terima jauh lebih nikmat
daripada yang diterima Kari Basa. Nah, bersiaplah menjelang kami datang. . . he
. .he. . .he”
Dan Kempetai itu kembali lenyap di balik pintu kayu betulang besi dan
berbingkai beton diujung kamar tersebut. Tinggallah kini si Bungsu dan Kari
Basa Sunyi cahaya lampu listrik yang menggantung tinggi di langit-langit
terowongan bersinar suram. Menerangi kamar tahanan mereka yang berukuran empat
kali meter tersebut. Si Bungsu meneliti ruangan itu. Meneliti kalau-kalau dia
__ADS_1
bisa menyelamatkan diri.