TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 64


__ADS_3

Tikam Samurai - 64


Tendangan itu masuk keperutnya Tak ada ampun. Tubuhnya


terlipat dan terguling ketanah. Si Upik bersorak gembira. Mei-mei tertegun


melihat akibat tendangannya. Salim meringis dan merangkak bangun. Mei-mei


membantunya tegak dengan wajah penuh penyesalan.


“Maaf… maafkan saya tak sengaja …” Salim tegak tapi tersenyum.


“Benar benar jurus cuek Sadapo yang sempurna. Saya tak pernah berhasil sebaik


itu dalam mempergunakan jurus tersebut…”


Salim berkata jujur sambil menghapus peluhnya. Mereka terkejut tatkala mendengar


tepuk tangan dari rumah. Ketika mereka menoleh, mereka melihat si Bungsu tegak


dengan senyum di dekat jendela. Mei-mei menghambur gembira melihat anak muda


itu sudah bisa berdiri.


“Koko ..” serunya tersendat.


“Moy-moy. Selamatlah. Engkau telah menjadi seorang pesilat..” suara si Bungsu


terdengar bernada gembira dan bangga.


Mei-mei menatap anak muda itu. Dan tiba tiba dia memeluk anak muda itu dengan


isak tertahan. Gadis ini sangat merisaukan kesehatan si Bungsu, itu sebabnya


ketika kini dia melihatnya telah mampu berdiri, hatinya sangat bersyukur. Dia


menangis karena bahagia. Hanya si Bungsu yang jadi terheran heran, tatkala


mengetahui


“Mei-mei menangis. Hei, ada apa Mei-mei ..?”


“Saya bahagia, koko telah sembuh. Saya sangat khawatir koko tak sembuh sembuh.


Saya sangat hawatir …..”

__ADS_1


“Orang kalau gembira pasti tertawa. Ini gembira kok menangis. Hei Salim,


bagaimana ini. Pesilat tak boleh menangis bukan ?” Salim hanya tersenyum, si


Upik berlari pada Mei-mei.


“Jangan menagis, Uni…” katanya.


Mei-mei melepaskan pelukannya dari si Bungsu, kemudian menghapus air matanya.


Kemudian menatap pada si Bungsu. Si Bungsu tersenyum.


“Teruslah berlatih. Saya bangga melihatmu jadi seorang pesilat ..”


“Kami sudah selesai. Hanya tinggal menutup dengan pernafasan ..” terdengar suara


Salim.


“Ayolah kita tutup latihan ini Uni. Kesehatan bisa rusak bila tak diakhiri


dengan latihan pernafasan itu ..” Ujar Upik membujuk Mei-mei. Gadis itu


kemudian melangkah lagi ke lapangan kecil di belakang rumah tersebut. Lalu


Si Bungsu mengenal latihan ini. Pernafasan mempertajam pendengaran dan mengatur


tenaga yang telah terpaksa. Latihan begitu tiap hari dia lakukan ketika di


gunung Sago dahulu. Mei-mei memang telah mulai latihan silat sejak dua hari kedatangannya


kerumah Datuk Penghulu ini. Dia tertarik melihat si Upik berlatih.


Karena itu ketika Datuk Penghulu Basa menawarkan untuk ikut, tanpa malu malu


diapun ikut. Dengan cepat ternyata dia bisa menguasai pelajaran yang diberikan.


Sebenarnya Datuk Penghulu bukan sekedar menawarkan latihan saja pada Mei-mei.


Dia punya alasan yang kuat. sebagai guru gadang aliran Silek Tuo yang berasal


dari Pariangan Padangpanjang, yaitu aliran silat yang merupakan induk dari


silat silat yang ada di Minangkabau, seperti silat Lintau, Kumango, Pangian dan


lain lain, dia dapat melihat tulang seorang pesilat pada tubuh orang. Mula

__ADS_1


pertama melihat Mei-mei, hatinya berdetak keras. Susunan tulang Mei-mei


merupakan susunan yang hampir hampir sempurna bagi seorang pesilat. Dia yakin


gadis ini mempunyai bakat silat yang luar biasa.


Itulah sebabnya dia menawarkan gadis itu untuk belajar. Dan ketajaman


penglihatannya itu segera saja terbukti. Ketika dalam waktu tak sampai satu


bulan, Mei-mei telah melalap dan memahami dengan baik pelajaran pelajaran pokok


dan kunci kunci serangan yang diberikan Datuk Penghulu Basa. Tak seorangpun


yang mengetahui, bahkan Mei-mei sendiri, bahwa gadis itu sebenarnya adalah


turunan seorang pesilat tangguh. Ayah dari kakek Mei-mei berasal dari Tinggoan di


daratan Tlongkok sana.


Dan ayah kakeknya ini adalah seorang Tiang Bujin, atau dedengkot silat aliran


Siau Lim Pay yang sangat tersohor. Ayah dari kakeknya bergelar Bu Beng Tay


Hiap. Si Pendekar Pedang Tak Bernama. Setiap pesilat di daratan tlongkok pasti menaruh


segan pada pendekar itu. Dan ternyata bakat dan susunan tulangnya menurun pada


buyutnya yang dilahirkan di Indonesia, yaitu Mei-mei. Tak seorangpun yang


mengetahui hal ini. Dan itu pulalah sebabnya, kenapa ketika ditawarkan untuk


belajar silat oleh Datuk Penghulu gadis itu menerima dengan rasa gembira. Tentu


saja dia gembira, sebab darah pesilat di dalam tubuhnya mendorong-dorong. Hanya


saja selama ini tak pernah mendapat penyaluran Pelajaran silat yang diberikan


padanya, segera saja dapat dia terima secara sempurna. Di samping merasa bangga


dan gembira, Datuk Penghulu juga merasa kaget pada kemajuan yang dicapai gadis


itu. Si Upik yang telah setahun belajar, kini justru diajar oleh Mei-mei. Dan


kini kalau Datuk itu tak di rumah, Salimlah yang membimbing Mei-mei.

__ADS_1


__ADS_2