
Tikam Samurai - 32
”Hei pak tua, bukankah Sumite yang bertubuh gemuk itu minum
di sini lima hari yang lalu?”
Tentara jepang itu bertanya pada lelaki pemilik kedai. Lelaki itu tak segera
menjawab.
”Sumite. Kempetai yang bertubuh gemuk itu. Bukankah dia minum bersama dua orang
anak buahnya di sini lima hari yang lalu?”
Pemilik kedai itu segera tahu siapa yang ditanyakan jepang itu. Kempetai
bertubuh gemuk itu memang minum d is ini lima hari yang lalu. Kemudian dia
pergi. Tapi sejak hari itu, Kempetai itu lenyap tak berbekas. Dia harus
hati-hati menjawab .Jangan sampai dia berurusan pula ke Kempetai nanti.
Kempetai telah datang kemari dua kali. Dia menjawab seadanya.
”Ya tuan. Dia minum di sini bersama dua orang temannya.”
”Tak ada dia mengatakan kemana dia akan pergi?”
”Tak ada tuan”
”Nah, dia lenyap tak berbekas. Dia diperintahkan untuk menangkap dua orang
lelaki yang
mencuri senjata di kampung di kaki gunung sana. Tapi tak pernah kembali.
Kampung itu sudah diperiksa. orang yang ditangkap itu juga tak pernah pulang ke
kampungnya.”
”Barangkali dia melarikan diri ke Agam. Dan Sumite memburunya ke sana…” jepang
yang satu lagi memotong pembicaraan.
”Tak tahulah. Di negeri ini memang banyak setannya. Hei Siti, cepat bawa kemari
kopi itu…Naah, bagus, bagus….Yoroshi…”
Siti datang membawa empat gelas kopi. Ketika dia akan meletakkannya jepang yang
bertubuh kurus memeluk pinggangnya. Siti terpekik.
__ADS_1
”Tak apa. Tak apa. Saya sayang Siti. Saya sayang Siti. Saya akan belikan Siti
kain.” Jepang kurus itu merayu sambil mencium-cium punggung Siti. Siti
menangis. Segelas kopi terserak. Jepang-jepang itu tertawa. Ayah Siti pernah
belajar silat. Namun menghadapi empat serdadu dengan samurai ini hatinya jadi
gacar. Apalagi tak jauh dari kedainya terdapat kamp tentara jepang. Dia
terpaksa diam.
Jepang kurus itu sudah mendudukkan siti di pangkuannya. Kemudian membelai wajah
gadis itu. Kemudian mencium pipinya. Bau sake membuat Siti ingin muntah. Bau
keringat jepang itu membuat Siti hampir pingsan.
”Mana kopi saya Siti….”
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang jepang-jepang itu. jepang-jepang yang
sedang tertawa itu terdiam. Mereka menoleh. Dan melihat pada lelaki yang masuk
tadi yang duduk menunduk membelakangi mereka. Di kanannya di atas meja
kelihatan tongkat kayu melintang. Dialah yang barusan minta kopi pada Siti.
”Ya,” orang itu menjawab perlahan
”Apa bicara kamu orang?”
”Saya tadi meminta kopi. Dan siti terlalu lama.”
”Kamu bisa bikin sendiri kopi. Itu ada air di tungku.”
”Tidak. Saya meminta siti yang membikinkan…”
”Siti ada perlu dengan saya…”
”Tidak. Dia harus membikin kopi untuk saya…
”Bagero. Kurang ajar….”
”Siti mana kopi saya,” anak muda itu tetap tenang dan menunduk tanpa
mengacuhkan jepang yang berang itu. Siti melepaskan dirinya dari pelukan jepang
tersebut. Namun si kurus mendorong tubuh Siti ke pangkuan temannya satu lagi.
Lalu dia sendiri tegak dengan gelas kopi di tangannya. jepang itu berjalan ke
__ADS_1
arah anak muda yang meminta kopi itu.
”Kau minta kopi ya ini minumlah”
Berkata begitu si kurus menyiramkan kopi itu ke kepala anak muda tersebut.
Namun tiba-tiba ada cahaya berkelebat cepat sekali. Dan...trasss Gelas di
tangan jepang itu belah dua. Kopinya tumpah ke wajahnya sendiri. Tangannya luka
mengucurkan darah jepang itu terpekik kaget dan melompat mundur. Anak muda itu
masih membelakang. Kini kelihatan dia lambat-lambat meletakkan tongkatnya.
Samurai tanpa terasa keempat serdadu itu berkata sambil tegak. Mereka menatap
dengan kaget.
”Siti, ambilkan kopi untuk saya…”
Anak muda yang tak lain daripada si Bungsu itu berkata lagi perlahan. Dia masih
teap duduk memunggungi keempat serdadu jepang tersebut. Si kurus yang tangannya
luka, tiba-tiba dengan memekikkan kata Banzai yang panjang mencabut samurainya.
Dan menebas leher si Bungsu. Namun tiba-tiba setengah depa di belakang anak
muda itu, sebelum dia sempat membabatkan samurainya sebacokpun, tubuhnya
seperti ditahan.
Ternyata yang menahan adalah ujung tongkat kayu anak muda itu. Samurai itu tak
dia cabut. Hanya sarungnya yang dia hentakkan ke dada tentang jantung si kurus.
Kini mereka berempat, termasuk Siti dan ayahnya, baru dapat melihat dengan
jelas wajah anak muda itu. Seorang anak muda yang berwajah gagah, tapi amat
murung.
”Saya tak bermusuhan dengan kamu kurus. Kalau engkau coba melawan saya, engkau
akan mati seperti anjing. Pemilik kedai ini serta anak gadisnya juga tak
bermusuhan dengan kalian-Kalian datang menjajah kemari. Kalian telah banyak
menangkapi para lelaki. Dan memperkosa wanita negeri ini. Karena ini jangan
ganggu gadis ini. Saya meminta kopi, jangan ganggu saya minum…
__ADS_1