TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 14


__ADS_3

Tikam Samurai - 14


Saburo memegang hulu Samurainya. Si Bungsu jadi terkejut.


Dia tahu Jepang itu berniat membunuhnya. Dia segera bangkit. Sambil memekik


minta ampun dia menghambur mengambil langkah seribu. Namun anak muda pengecut


ini memang sial. Pedang Samurai Saburo bergerak amat cepat. Punggungnya belah.


Dia tersentak. Rubuh tertelungkup dengan punggung menganga mulai dari belikat


kiri sampai ke batas pinggul. Sementara itu, kampung tersebut telah jadi lautan


api. Pekik dan lolong terdengar bersahutan. Perempuan-perempuan berpekikkan


diseret ke bawah pohon. Diperkosa dan beberapa lelaki yang coba melawan


dibantai dengan samurai atau ditusuk dengan bayonet.


Menjelang sore, kampung itu hampir rata dengan tanah. Asap mengepul di


mana-mana. Burung elang dan gagak terbang rendah seperti melihat bangkai yang


bergeletakan. Itu adalah penyembelihan yang tak terlupakan bagi penduduk di


kampung itu. Tak kurang dari sepuluh nyawa melayang. Dan di pihak Jepang hanya


3 serdadu yang dimakan samurai di tangan Datuk Berbangsa. Beberapa rumah memang


masih tegak dengan utuh, yaitu rumah-rumah yang tak berpenghuni.


Serdadu Jepang itu sudah kembali ke Payakumbuh, dimana mereka bermarkas. Makin


hari makin banyak jumlah mereka yang datang ke Minangkabau lewat Sumatera


Utara. Kekuatan mereka dipencar ke beberapa kota utama di Minangkabau.


Sore itu hujan turun rintik-rintik. Membasahi kampung yang telah centang


perenang itu. Hujan rintik-rintik itu juga seperti mencuci tubuh mayat-mayat


yang bergelimpangan. Tak ada orang lain di kampung itu yang kelihatan hidup.


Mereka semua melarikan diri. Menyelamatkan nyawa mereka dari kebiadaban serdadu


Jepang. Jepang memang punya alasan untuk menyikat kampung itu hingga rata


dengan tanah. Sebab kampung itu merupakan basis pertama dalam sejarah


perlawanan rakyat di Minangkabau terhadap kekuasaan Jepang. Dan setelah Datuk

__ADS_1


Berbangsa sekeluarga dibunuh, kampung itu menjadi kampung tinggal buat


sementara.


Namun dari kesepuluh tubuh yang malang melintang itu ternyata masih ada yang


hidup. Hujan rupanya mengembalikan kesadaran yang hidup itu.  Di halaman


rumah Datuk Berbangsa ada sosok tubuh yang bergerak. Mula-mula tangannya. Tubuh


yang bergerak itu adalah si Bungsu!.


Wajahnya tertelungkup rapat ke tanah. Dia rasakan punggungnya amat pedih


dibasahi air. Dia masih terpejam. Namun tangannya digerakkan perlahan. Tercium


bau tanah dan sawah yang harum dari angin yang bertiup dari kaki gunung Sago


Terasa tetes air.


”Aku masih hidup…” bisik hatinya.


Dia mencoba bertumpu di tangan untuk membalikkan diri. Tapi alangkah sulitnya.


Dia menelungkup lagi diam-diam. Mengumpulkan tenaga, kini dia membuka mata.


Mula pertama yang kelihatan adalah tanah halaman rumah di mana di waktu


air yang memerah. Itu pastilah darahnya.


Dia coba kembali merekat ingatannya. Mulai dari dia ditangkap beberapa malam


yang lalu dekat sasaran rahasia itu. Dia mengetahui sasaran rahasia itu tatkala


mengikuti ayahnya disuatu malam. Sejak terakhir dilanyau Baribeh dan si Jul,


dia ingin sekali belajar silat. Tapi dia malu mengatakan kepada ayahnya. Dia


tahu ayahnya amat malu mempunyai anak seperti dia. Anak yang bikin malu


keluarga. Ayahnya seorang pendekar dan guru silat. Tapi anaknya seorang penjudi


yang pengecutnya Allahurobbi. Ini selalu menjadi tekanan bathin bagi si ayah


di  manapun dia  berada.


Dan suatu malam dia mengikuti ayahnya dari kejauhan. Dia melihat orang-orang


berlatih silat di sasaran. Dia tahu sasaran itu adalah untuk orang-orang yang


tingkat kepandaian sudah tinggi. Dia kenal pesilat-pesilat itu semua. Makanya

__ADS_1


dia tak berani menampakkan muka. Dia hanya mengintip dari balik belukar.


Mengintip cara mereka melangkah, membuka serangan. Menangkis dan meloncat.


Dia ingin sekali pandai bersilat. Tapi pada siapa dia akan belajar? Ayahnya


sudah sering keluar. Nampaknya ada sesuatu yang penting yang diurus. Seperti


menyusun suatu kekuatan melawan Jepang. Meski ayahnya tak ada di rumah. Si


Bungsu tetap datang diam-diam ke sasaran itu tengah malam. Melihat orang


berlatih.


Bila orang selesai latihan, dia segera buru-buru duluan pulang agar tak


ketahuan. Dan di rumah siang harinya, dia mencobakan gerakan yang dia lihat.


Tapi alangkah sulitnya belajar tanpa guru. Sebab yang dia lihat bukanlah


pelajaran dari awal. Melainkan pelajaran tingkat lanjut. Hanya sepekan dia


sempat melihat orang latihan itu. Malam terakhir adalah malam di mana Datuk


Maruhun tertangkap oleh serdadu Jepang.


Malam itu dia memang terlambat datang ke tempat pengintaiannya yang biasa. Dia


terlambat karena hujan. Tetapi keinginan untuk belajar tetap menyala. Maka


meski terlambat dan hujan masih turun, anak muda itu turun juga ke tanah.


Dengan mengendap-endap dia mendekati sasaran rahasia itu. Dia melihat cahaya


pelita yang samar-samar. Mendengar suara beradunya pedang dan keris. Dia lalu


menyeruak ke dekat belukar kecil dimana biasanya dia mengintip. Namun tiba-tiba


ada tangan yang menyekap mulutnya.


Dia ingin berteriak dan berontak. Tapi dekapan itu amat kuat. Dan tak lama


setelah itu, Jepang-Jepang itu telah mengepung sasaran tersebut. Dan dia


didorong ke tengah sasaran. Datuk Maruhun menyangka dialah yang membuka rahasia


keberadaan sasaran ini kepada Jepang. Sangkaan itu juga sama dengan semua


pesilat yang ada di sasaran itu. Mereka menyangka si Bungsu membuka rahasia itu


demi mendapatkan uang untuk berjudi.

__ADS_1


__ADS_2