
Tikam Samurai - 19
Tiba-tiba dia mendengar suara terpijaknya daun kering di
bawah di sekitar batu di mana kini dia duduk. Meski amat perlahan,
hampir-hampir tak terdengar oleh telinga orang biasa, namun dengan latihannya
selama belasan purnama dia dapat menebak ada sekitar selusin kaki di bawah batu
sana. Ketika dia lebih memusatkan pendengarannya ke atas, dia tambah kaget. Ada
dua makhluk berada di belakangnya. Satu di kiri, satu di kanan! Manusiakah ?
Darahnya mengencang. Tangannya melemas.
“Siapakah yang ada di belakang?” Dia bertanya tanpa menoleh.
Tatapannya lurus ke depan dengan konsentrasi penuh. Tak ada jawaban. Dia segera
tahu, siapapun yang ada dibelakangnya, pastilah tak berniat baik. Tangannya
makin melemas dan terasa panas. Bulu tengkuknya makin merinding. Tiba-tiba dia
merasakan ada angin menyambar! Dia tak segera mencabut samurainya. Namun dia
berguling ke kanan. Gerakan itu dia pelajari dari tingkah dua ekor tupai yang
berkelahi di cabang pohon di dekat batu pipih ini. Dia amati perkelahian itu
dengan seksama. Kemudian dia berlatih meniru cara bergulingan menyelamatkan
diri itu, menyelingi latihan samurainya.
Kini jurus berguling itu dia lakukan. Dia selamat dari terpaan makhluk itu.
Kemudian dia duduk berlutut. Namun sebelum dia lihat siapa yang menyerang,
kembali makhluk itu menyerangnya secepat kilat. Dia kembali mempergunakan gerak
tupai itu. Bergulung dua kali ke kanan dan melambung tegak. Dan kini makhluk
yang menyerang itu tegak empat depa di depannya.
“Ya Allah!!”
Dia terpekik dan surut dua langkah. Hampir saja dia terperosok jatuh dari atas
batu. Makhluk itu! Ya Tuhan, belum pernah dia melihat makhluk sedahsyat ini.
Dalam sinar senja yang masih terang-terang tanah, dia lihat dua makhluk yang
__ADS_1
luar biasa bentuknya.
“Harimau jadi-jadian!!” dia berbisik sendiri.
Tanpa dapat dia kuasai, tangannya gemetar. Ya, di hadapannya, kini berdiri dua
harimau jadi-jadian. Kepalanya mirip kepala harimau. Tubuhnya berbulu mirip
harimau. Namun dia tak berdiri di keempat kakinya. Mahluk ini berdiri di atas
dua kaki seperti manusia. Tangannya yang berbulu mirip tangan manusia. Demikian
pula kakinya. Bulunya berbelang seperti harimau. Matanya merah berkilat. Kuku
kaki dan kuku tangannya kelihatan menyembul runcing mengerikan. Makhluk ini
kelihatan dahsyat di mata si Bungsu. Dia tak dapat menahan gigilan
tubuhnya.
Sewaktu kecil di kampung dahulu, dia memang sering mendengar cerita
tentang harimau jadi-jadian. Cindaku kata orang-orang tua. Namun sejak dia
dewasa, cerita itu tak pemah lagi dia dengar. Kalaupun ada, maka cerita itu
hanya dimaksudkan sebagai menakuti anak-anak. Siapa menyangka, hari ini dia
benar-benar ada. Dongeng itu bukan sekedar isapan jempol. Senja ini dia
melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dia melirik ke kanan. Jauh di bawah
sana, dia lihat kampungnya. Di kampungnya dahulu kabarnya ada orang yang mati
dibunuh Cindaku. Di kampung lain juga pernah ada orang yang di teror Cindaku.
Apakah ini Cindaku yang meneror orang di kampung di bawah sana?
Kalau dilihat jarak antara gunung dengan kampung di bawah, nampaknya memang
inilah Cindaku itu. Tapi dia tak tahu berapa jumlah mereka. Dan dia segera
ingat pada suara kaki di bawah sekitar batu tadi. Dia segera menoleh. Dan
kembali dia menyebut nama Tuhan beberapa kali. Dia melangkah ke depan tiga
langkah. Si Bungsu benar-benar dicoba iman dan jiwanya. Di bawah dia lihat tak
kurang dari enam ekor harimau! Duduk di kaki belakang dan menegakkan kaki
depannya. Keenam harimau itu mengelilingi batu pipih di mana dia berada. Dia
__ADS_1
yakin, jumlahnya pasti lebih dari enam ekor. Sebab tadi dia dengar di sekitar
batu itu langkah-langkah yang halus. Inilah rupanya.
Dia kembali menoleh pada Cindaku itu. Keduanya kini mengangkat tangan. Dia tak
mengerti kenapa harimau-harimau itu berada di bawah. Seperti menonton ke atas.
Apakah harimau-harimau itu adalah bawahan Cindaku ini? Hatinya benar-benar terguncang.
Dia tak sempat berpikir banyak. Cindaku yang paling besar menyerang dengan satu
loncatan. Seharusnya dia segera mempergunakan samurainya. Namun terlambat!
Kehebatan peristiwa ini membuat reflek yang telah dia latih jadi kacau. Dia
hanya mampu menunduk. Dan itu menyebabkan punggungnya dirobek kuku Cindaku. Dia
terpental. Di bawah sana dia dengar geraman harimau. Nampaknya harimau-harimau
itu menunggu dirinya dilemparkan ke bawah.
Ketika dia terguling, Cindaku yang lebih kecil menyerang. Loncat tupai! Dia
segera menggunakan ilmu loncat tupai itu kembali. Berguling tiga kali ke kanan,
kemudian tiga kali ke kiri. Dua terkeman Cindaku itu berhasil dia elakkan.
Kemudian meloncat berdiri! Luka di punggungnya pedih sekali. Di punggungnya.
Tanpa sengaja dia meraba luka itu. Tiba-tiba dia sadar, luka itu persis di
tentang luka yang ditimbulkan oleh tebasan Samurai Kapten Saburo Matsuyama dua
belas purnama yang lalu. Persis melintang miring dari belikat kanan ke rusuk
kiri! Ingatannya kembali ke masa lalu. Kesaat ayah dan ibunya dibabat samurai.
Di saat kakaknya diperkosa dan dibabat samurai. Di saat dia juga dibabat
samurai!
Wajahnya mengeras tiba-tiba. Mulutnya tertarik ke bawah. Suatu rasa marah
yang tak terperikan tergambar pada wajahnya. Saat itu Cindaku yang kecil
menerjangnya. Tiba-tiba dalam pandangannya Cindaku itu berobah seperti Kapten
Saburo yang membunuh keluarganya. Tangannya bergerak ke Samurai di balik
sarungnya. Amat cepat.
__ADS_1