
Tikam Samurai - 47
Sumpah anak muda ini mau tak mau membuat bulu tengkuk Babah
itu merinding. Si Baribeh dan si Juling tak berani berkutik. Tegak mematung
dengan tubuh menggigil di tepi dinding. Kedua lelaki Minang ini sampai
terkencing-kencing di celananya. Si Babah gendut itu nampaknya juga mengetahui
bahwa anak muda di depannya ini tidak hanya menggertak sambal. Anak muda itu
sanggup melaksanakannya. Karena itu dia mulai menyerang, tubuhnya seperti
lenyap di bungkus sinar. Bukan main cepatnya dia bergerak. Si Bungsu buat
sesaat jadi tertegun. Dia bukan pesilat, apa yang harus dia perbuat?
Suatu saat dia rasakan angin mengarah keperutnya. Dia tak melihat serangan.
Tapi dia yakin angin itu berasal dari pukulan Gendut itu. Satu-satunya jalan
yang bisa diambilnya adalah menghantamkan samurainya.
Bersamaan dengan itu tubuhnya berguling kesamping. Namun terlambat! Sebuah
tikaman menghantam pahanya. Bukan main sakitnya, dia terpekik. Darah mengucur
lagi! Si Babah memburu terus.
Untuk beberapa saat si Bungsu terpaksa berguling dengan meniru loncat tupai
itu. Untuk beberapa saat nampaknya dia teringat lagi pada perkelahiannya yang
terakhir di gunung Sago melawan dua cindaku. Ya, kenapa dia tidak bertahan
tegak saja sambil memejamkan mata? Bukankah dia bisa mengandalkan
pendengarannya yang tajam itu.
Kalau dia mengelak terus begini, tenaganya akan habis. Gerakkannya akan lamban.
Dan bila sudah begitu maka kesempatan untuk menangkis serangan juga tak ada
lagi. Maka kini dia harus merobah taktik. Si Babah ini nampaknya memang seorang
pesilat Cina yang tangguh.
Firasatnya yang mencurigai si Babah ketika mula-mula masuk tadi ternyata benar.
Si Babah t idak hanya berilmu silat yang tinggi, tetapi juga seorang mata-mata
__ADS_1
yang amat berbahaya. Si Bungsu bergulingan menjauh. Saat berhasil menjauhi si
Babah dia tegak kemudian memejamkan mata. Dia mendengar nafas memburu dan suara
gigilan di belakangnya. Kemudian langkah menggeser.
Masih dalam keadaan memejamkan mata, dan masih dalam keadaan merasakan sakitnya
telinganya yang koyak, keningnya yang luka dihantam dadu si Babah, dan paha
yang luka kena tikam pisau, dia menghayunkan samurainya kebelakang. Si Baribeh
dan si Juling yang berada di belakangnya, yang ingin menggeser tegak dari
belakang anak muda itu, tiba-tiba terpekik. Bajunya robek dihantam samurai si
Bungsu. Dia tertegak diam dan merapat kembali kedinding.
”Engkau tak layak untuk hidup Baribeh. Selain penjudi, engkau ternyata
menghianati negerimu. Orang semacam engkau tak layak mengaku sebagai anak
Minangkabau.
Karenanya engkau juga tak layak hidup di negeri ini!”.
Suara si Bungsu bergema perlahan. Tapi nadanya mengirimkan gigilan yang amat
mata yang masih terkatub. Dia harus membagi inderanya antara mengawasi si
Baribeh dan si Juling dengan gerakan si Babah gemuk.
”Yiy … ya! Ya benar. Saya memang tak layak untuk hidup di negeri ini. Karena
itu mohonlah lepaskan saya. Saya akan berangkat meninggalkan negeri ini ..” si
Baribeh berkata memohon terbata-bata. Terdengar gelak renyai dari mulut si
Bungsu.
”Hee .. he. Engkau akan pergi dari sini Baribeh?”
”Ya. Ya. Tapi kata waang saya layak hidup di negeri ini. Saya akan pergi
jauh-jauh. Jauuuh sekali ..” ”Hidup adalah sesuatu yang amat mulia untuk kau
lumuri dengan dosa Baribeh. Kau tak berhak untuk hidup…..”
Baribeh terkejut dan hampir saja dia jatuh mendengar ucapan anak muda ini. Tapi
dia berusaha untuk tetap tenang. Meskipun tubuhnya menggigil dan celananya
__ADS_1
basah, dia angkat bicara lagi:
”Tet .. eh, tapi siapa yang menentukan bahwa saya tak berhak untuk hidup?”
”Saya!”
”Te .. eh. Tapi engkau bukan Tuhan!”
”Jangan bawa-bawa nama Tuhan dalam kehidupanmu yang kotor!”
Sehabis bicara dia berputar. Dia harus bertindak cepat, sebab si Babah
merupakan bahaya besar yang harus dia hadapi. Begitu dia berputar, tubuh
Baribeh dan si Juling menggeliat dimakan samurainya. Dada mereka belah dan
menyemburkan darah. Dua orang penghianat yang bekerja untuk seorang Cina yang
memata-matai negerinya telah mati.
Mati di tangan anak muda yang pernah mereka lanyau. Kini si Bungsu tinggal
memusatkan perhatiannya pada si Babah gemuk itu. Namun saat itu di luar
terdengar seruan dalam bahasa Jepang.. Kempetai! Ya, Kempetai telah mengepung
rumah itu. Kempetai rupanya telah diberitahu oleh seorang mata-mata yang
bertugas di luar.
Begitu mendengar pekikkan, dia segera ke pos Kempetai. Kini Polisi Militer
Jepang itu datang dengan kekuatan empat puluh orang. Si Bungsu berfikir cepat.
Dia sudah bersumpah untuk membunuh Babah mata-mata jahanam ini. Kalau tidak
maka lebih banyak lagi bencana yang akan ditimbulkan orang ini terhadap
negerinya. Dia kini tegak membelakangi dinding dan mayat Baribeh. Sedepa di
kanannya, terdapat pintu keruang depan. Dia melirik pintu itu besar dengan
palang pengunci dari balok. Rumah ini model rumah-rumah Cina kuno yang kukuh.
Dengan bergerak cepat dia menghantam pintu itu sampai tertutup. Kemudian
menyepak palangnya hingga jatuh dan mengunci pintu dari papan yang amat tebal
itu. Namun saat itu pula si Babah menyerangnya dari belakang. Pisau Babah itu
menancap di bahunya.
__ADS_1