TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 47


__ADS_3

Tikam Samurai - 47


Sumpah anak muda ini mau tak mau membuat bulu tengkuk Babah


itu merinding. Si Baribeh dan si Juling tak berani berkutik. Tegak mematung


dengan tubuh menggigil di tepi dinding. Kedua lelaki Minang ini sampai


terkencing-kencing di celananya. Si Babah gendut itu nampaknya juga mengetahui


bahwa anak muda di depannya ini tidak hanya menggertak sambal. Anak muda itu


sanggup melaksanakannya. Karena itu dia mulai menyerang, tubuhnya seperti


lenyap di bungkus sinar. Bukan main cepatnya dia bergerak. Si Bungsu buat


sesaat jadi tertegun. Dia bukan pesilat, apa yang harus dia perbuat?


Suatu saat dia rasakan angin mengarah keperutnya. Dia tak melihat serangan.


Tapi dia yakin angin itu berasal dari pukulan Gendut itu. Satu-satunya jalan


yang bisa diambilnya adalah menghantamkan samurainya.


Bersamaan dengan itu tubuhnya berguling kesamping. Namun terlambat! Sebuah


tikaman menghantam pahanya. Bukan main sakitnya, dia terpekik. Darah mengucur


lagi! Si Babah memburu terus.


Untuk beberapa saat si Bungsu terpaksa berguling dengan meniru loncat tupai


itu. Untuk beberapa saat nampaknya dia teringat lagi pada perkelahiannya yang


terakhir di gunung Sago melawan dua cindaku. Ya, kenapa dia tidak bertahan


tegak saja sambil memejamkan mata? Bukankah dia bisa mengandalkan


pendengarannya yang tajam itu.


Kalau dia mengelak terus begini, tenaganya akan habis. Gerakkannya akan lamban.


Dan bila sudah begitu maka kesempatan untuk menangkis serangan juga tak ada


lagi. Maka kini dia harus merobah taktik. Si Babah ini nampaknya memang seorang


pesilat Cina yang tangguh.


Firasatnya yang mencurigai si Babah ketika mula-mula masuk tadi ternyata benar.


Si Babah t idak hanya berilmu silat yang tinggi, tetapi juga seorang mata-mata

__ADS_1


yang amat berbahaya. Si Bungsu bergulingan menjauh. Saat berhasil menjauhi si


Babah dia tegak kemudian memejamkan mata. Dia mendengar nafas memburu dan suara


gigilan di belakangnya. Kemudian langkah menggeser.


Masih dalam keadaan memejamkan mata, dan masih dalam keadaan merasakan sakitnya


telinganya yang koyak, keningnya yang luka dihantam dadu si Babah, dan paha


yang luka kena tikam pisau, dia menghayunkan samurainya kebelakang. Si Baribeh


dan si Juling yang berada di belakangnya, yang ingin menggeser tegak dari


belakang anak muda itu, tiba-tiba terpekik. Bajunya robek dihantam samurai si


Bungsu. Dia tertegak diam dan merapat kembali kedinding.


”Engkau tak layak untuk hidup Baribeh. Selain penjudi, engkau ternyata


menghianati negerimu. Orang semacam engkau tak layak mengaku sebagai anak


Minangkabau.


Karenanya engkau juga tak layak hidup di negeri ini!”.


Suara si Bungsu bergema perlahan. Tapi nadanya mengirimkan gigilan yang amat


mata yang masih terkatub. Dia harus membagi inderanya antara mengawasi si


Baribeh dan si Juling dengan gerakan si Babah gemuk.


”Yiy … ya! Ya benar. Saya memang tak layak untuk hidup di negeri ini. Karena


itu mohonlah lepaskan saya. Saya akan berangkat meninggalkan negeri ini ..” si


Baribeh berkata memohon terbata-bata. Terdengar gelak renyai dari mulut si


Bungsu.


”Hee .. he. Engkau akan pergi dari sini Baribeh?”


”Ya. Ya. Tapi kata waang saya layak hidup di negeri ini. Saya akan pergi


jauh-jauh. Jauuuh sekali ..” ”Hidup adalah sesuatu yang amat mulia untuk kau


lumuri dengan dosa Baribeh. Kau tak berhak untuk hidup…..”


Baribeh terkejut dan hampir saja dia jatuh mendengar ucapan anak muda ini. Tapi


dia berusaha untuk tetap tenang. Meskipun tubuhnya menggigil dan celananya

__ADS_1


basah, dia angkat bicara lagi:


”Tet .. eh, tapi siapa yang menentukan bahwa saya tak berhak untuk hidup?”


”Saya!”


”Te .. eh. Tapi engkau bukan Tuhan!”


”Jangan bawa-bawa nama Tuhan dalam kehidupanmu yang kotor!”


Sehabis bicara dia berputar. Dia harus bertindak cepat, sebab si Babah


merupakan bahaya besar yang harus dia hadapi. Begitu dia berputar, tubuh


Baribeh dan si Juling menggeliat dimakan samurainya. Dada mereka belah dan


menyemburkan darah. Dua orang penghianat yang bekerja untuk seorang Cina yang


memata-matai negerinya telah mati.


Mati di tangan anak muda yang pernah mereka lanyau. Kini si Bungsu tinggal


memusatkan perhatiannya pada si Babah gemuk itu. Namun saat itu di luar


terdengar seruan dalam bahasa Jepang.. Kempetai! Ya, Kempetai telah mengepung


rumah itu. Kempetai rupanya telah diberitahu oleh seorang mata-mata yang


bertugas di luar.


Begitu mendengar pekikkan, dia segera ke pos Kempetai. Kini Polisi Militer


Jepang itu datang dengan kekuatan empat puluh orang. Si Bungsu berfikir cepat.


Dia sudah bersumpah untuk membunuh Babah mata-mata jahanam ini. Kalau tidak


maka lebih banyak lagi bencana yang akan ditimbulkan orang ini terhadap


negerinya. Dia kini tegak membelakangi dinding dan mayat Baribeh. Sedepa di


kanannya, terdapat pintu keruang depan. Dia melirik pintu itu besar dengan


palang pengunci dari balok. Rumah ini model rumah-rumah Cina kuno yang kukuh.


Dengan bergerak cepat dia menghantam pintu itu sampai tertutup. Kemudian


menyepak palangnya hingga jatuh dan mengunci pintu dari papan yang amat tebal


itu. Namun saat itu pula si Babah menyerangnya dari belakang. Pisau Babah itu


menancap di bahunya.

__ADS_1


__ADS_2