TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 90


__ADS_3

Tikam Samurai - 90


“Baik, saya ingin mencoba mengambil samuraimu buyung. Dan


jangan menangis kalau dapat merampasnya. . .”


Sehabis berkata ini lelaki itu meninggalkan tempat duduknya. Namun dia di cegat


oleh Datuk Penghulu.


“Sabarlah. Sebagai pimpinan saudara harus banyak sabar. Anak muda itu tak


bergurau dengan menyebutkan bahwa sudah puluhan Jepang mati di mata samurainya.


Kau akan sia-sia merebut samurainya itu. .”


Datuk Penghulu sebenarnya bermaksud baik. Ingin menyabarkan dan menghindarkan


pertumpahan darah di antara sesama awak. Tapi larangannya itu justru dianggap


sebagai gertak oleh lelaki itu. Dia menyentakkan tangannya yang tengah dipegang


oleh Datuk Penghulu. Datuk Penghulu tahu, demikian juga lelaki yang lain dalam


ruangan itu, bahwa lelaki yang satu ini cukup berisi. Dia juga seorang guru


silat dan guru ilmu batin. Kini dia tegak dua depa di depan si Bungsu.


“Nah buyung, kau serahkan baik-baik samurai celakamu itu atau kurampas dari


tanganmu. Mana yang kau pilih. . .?”


Semua yang hadir menatap dengan tegang. Datuk Penghulu sendiri jadi serba


salah. Dia menatap saja tepat-tepat pada si Bungsu.


“Saya rasa tak ada salahnya Tuan mengambil samurai celaka ini . .” si Bungsu


berkata sambil tanganya bergerak. Suatu gerakan yang alangkah cepatnya. Lelaki


itu, dan lelaki-lelaki yang ada dalam ruangan rapat khusus itu, hanya melihat


secarik cahaya putih. Muncul dari dalam sarung samurai dan masuk lagi ke sarung


samurai itu. Lamanya hanya sekitar empat detik. Ketika terdengar bunyi ‘trak’

__ADS_1


maka samurai itu sudah masuk lagi ke sarungnya.


“Ambillah. . .,” kata si Bungsu menyambung ucapannya.


Tapi lelaki itu tegak dengan kaget. Mukanya berobah jadi pucat pasi. Dia


memakai baju kemeja. Empat buah kancing baju kemeja itu sudah putus dan jatuh


ke lantai. Tidak hanya sampai disitu, persis tentang jantungnya kemeja itu


potong dua dari kanan ke kiri dan dua dari kiri ke kanan. Namun tak segores pun


kulitnya tersentuh oleh ujung samurai. Demikian cepatnya, demikian telitinya,


dan demikian terlatihnya gerakan anak muda itu.


Lelaki itu jadi pucat pasi. Karena kalau saja anak muda itu mau, maka tubuhnya


pasti sudah putus beberapa potong. Dia menjilat bibirnya yang serta merta jadi


kering. Si Bungsu tersenyum tipis. Wajahnya jadi keras. Matanya berkilat.


“Sudah kukatakan, kita tak punya sangkut paut. Ingatlah itu baik-baik. Saya tak


saya. . . .” Ujar si Bungsu perlahan. Kemudian dia menoleh pada Datuk Penghulu.


“Saya tunggu Pak Datuk di luar. Saya rasa rapat ini bukan untuk orang seperti


saya,”


Dia lalu mengangguk memberi hormat pada semua orang. Lalu berbalik dan


melangkah dengan tenang keluar. Beberapa lelaki yang masih duduk di kursinya


tiba-tiba bernafas lega. Mereka pada mengusap peluh yang entah kenapa mengalir


saja di wajah mereka. Luar biasa, benar-benar luar biasa Lelaki yang tadi


memimpim rapat berkata perlahan. Akan halnya lelaki yang buah bajunya dan


bajunya tercabik-cabik putus itu, lambat-lambat kembali ke tempat duduknya.


“Ya… dia sangat hebat. Saya beruntung dapat mengetahuinya dengan pasti. . .,”


katanya sambil duduk.

__ADS_1


“Tapi percobaan itu sangat berbahaya. . . .,” yang berbaju kuning berkata.


“Habis yang lain tak ada yang mau melaksanakan rencana itu. . . .,” dia membela


diri.


“Saya sendiri yakin anak muda itu akan mampu mengontrol dirinya. Tapi tetap


saja peluh membasahi tubuh saya. . . .,” Ujar yang seorang lagi.


Datuk Penghulu terheran-heran mendengar pembicaraan teman-temannya ini. Dan


yang memimpin rapat tadi mengetahui keheranannya itu. Dia lantas berkata:


“Ini semua sebuah sandiwara. Datuk dan anak muda itu sengaja kami undang kemari


untuk sebuah pembuktian. Sudah tersebar dari mulut ke mulut, dari bisik ke


bisik, bahwa ada seorang anak muda yang perkasa, anak Minang yang bangkit


menuntut balas kematian keluarganya justru mempergunakan samurai sebagai


senjatanya. Pimpinan tertinggi menyuruh kami mencek kebenaran itu. Dan


sampailah akhirnya berita bahwa anak dan istri Datuk binasa dilaknati Kempetai.


Kami berduka atas peristiwa itu. Hari ini, kami ingin menyampaikan duka cita


itu. Tapi harap maafkan, kami tak bisa menahan hati untuk tak membuktikan


sampai dimana kehebatan anak muda itu mempergunakan samurainya. Kami menyangka


hebat, sehebat yang diceritakan orang. Ternyata hari ini kami buktikan bahwa


kehebatannya jauh melampaui yang diceritakan orang banyak. . . .”


Datuk Penghulu masih saja terheran-heran. Yang berbaju kuning, yaitu yang


membawahi sektor Pasaman bicara pula, “Kita semua memerlukan anak muda seperti


dia. Coba bayangkan hasil yang akan kita capai kalau ada sepuluh orang seperti


dia. Sepuluh orang pemuda dengan kemahiran seperti itu. Ah …” lelaki itu tak menyudahi


ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2