TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 104


__ADS_3

Tikam Samurai - 104


Yang bertugas mengawasi pekerjaan atau mengawasi pemasukan


amunisi hanyalah balatentara Jepang asli. Karena itu Dakhlan Djambek dan


kawan-kawannya para Gyugun yang lain tak pernah mengetahui secara mendetail


tentang situasi terowongan itu.


Dia berusaha keras untuk mengetahui ruangan-ruangannya, tapi akhirnya dia


menyerah. Tak mungkin untuk mengetahui secara terperinci, apalagi dengan


pengawasan yang ketat dari Kempetai terhadap Gyugun. Pada hari kedua, yaitu


pada batas waktu yang diberikan, Kapten ini memberikan laporan akhir tentang


penyelidikannya.


Isi laporan itu:


“Tak mungkin untuk menyelediki terowongan itu dengan cara intelijen. Tapi saya


yakin, kedua mereka ditawan dalam salah satu kamar di dalam terowongan


tersebut. Sebab beberapa tawanan sekutu juga dibawa kesana. Untuk mengetahui


dimana mereka ditahan, satu-satunya jalan adalah menangkap dan memaksa salah


seorang Kempetai yang pernah membawa tawanan kesana. Saya akan mengatur


jebakan. Sediakan orang yang akan menanyainya.” Dan surat yang disampaikan


melalui kurir beranting itu akhirnya dilaksanakan. Seorang sersan Kempetai


dengan cara yang sangat halus berhasil dijebak di Kampung Cina ketika sedang


minum-minum sake dan memeluk seorang perempuan.


Perempuan itu dia bawa ke hotel. Di tangga hotel yang teram-temaram keduanya


dipukul hingga pingsan. Si perempuan yang berkulit hitam manis dibiarkan


tergolek di sana. Si sersan dibawa dengan sebuah truk ke sebuah tempat.


Dari mulut sersan inilah diketahui detail kamar tawanan tersebut. Semula si


sersan tak mau mengaku, tapi ketika sebuah jari tangannya dipatahkan meniru

__ADS_1


kekejaman Kempetai, sersan itu menyerah. Lalu membuka rahasia kamar tawanan


itu.


Dan ketika pengakuannya selesai, dia terkejut takkala melihat seorang perwira


Gyugun masuk rumah itu. Dia segera tegak dan memberi hormat dengan sikap


sempurna. Dia jadi gembira, karena denga kehadiran perwiranya itu berarti


kebebasan baginya dari tangkapan ekstrimis ini.


Namun dia segara terkejut takkala melihat perwira itu menatapnya. Orang yang


mematahkan jarinya itu mengambil sebilah samurai. Memberikan kepada sersan itu.


Sersan itu terheran-heran. Rasa herannya berobah jadi rasa terkejut ketika


perwira Gyugun itu berkata dengan nada memerintah:


“Harakiri….!”


Sersan Kempetai itu melongo.


“Harakiri..!!” lagi-lagi perintah perwira itu bergema. Dan kini sama-sama jadi


jelas soalnya oleh si sersan. Dia diperintahkan harakiri (bunuh diri) pastilah


militer. Kedua karena perwiranya ini berada dipihak orang yang menangkap dan


mematahkan jari tangannya. Dan dia menduga , bahwa sebab kedualah yang paling besar


kemungkinannya.


“Tai-i……..?” katanya lagi.


“Saya orang Indonesia. Jepang sudah terlalu banyak membunuh bangsa saya. Kini


kau harakiri atau gunakan samurai itu untuk melawan…membebaskan diri….,”


Perintah ***-I yang tak lain daripada Dakhlan Djambek itu membuat tubuh si


sersan menggigil.


Dia sudah tentu  memilih yang kedua. Yaitu mempergunakan samurai itu untuk


melawan. Sebab baginya tak ada harapan untuk hidup. Demikian putusan Dakhlan


Djambek. Kalau Jepang ini tak dibunuh, maka rahasia penangkapannya akan bocor.

__ADS_1


Dan kebocoran itu membahayakan perjuangan.


Sersan itu menebaskan samurainya. Orang pertama yang dia serang dengan


samurainya adalah orang yang paling dekat dengannya. Orang itu adalah ***-I


Dakhlan Djambek. Tebasan samurainya amat cepat mengarah pada leher Kapten itu.


Namun Dakhlan Djambek adalah seorang perwira yang dididik dengan kekerasan


disiplin militer Jepang. Karena dia perwira, maka kepadanya juga diajarkan cara


menggunakan samurai. Dan kemana-mana, perwira Jepang umumnya membawa samurai. Demikian


juga dengan Kapten ini.


Begitu sabetan samurai si sersan terayun, sesuai dengan latihan dasar yang


diterima, dia mundur dengan cepat dua langkah ke belakang. Kemudian ketika


serangan berikutnya datang, dia menggeser tegak dua langkah. Dan si sersan


lewat disampingnya.


Dengan cepat sersan itu memutar tegak dan kembali mengayunkan samurainya. Namun


saat itu pula samurai di pinggang ***-I Dakhlan Djambek keluar dari sarungnya.


Putaran tubuh si sersan di silang oleh tebasan samurai Dakhlan Djambek. Bahu


kanan sersan itu hampir putus. Sabetan kedua membuat kepalanya hampir putus.


Dia jatuh. Tapi kematian datang sebelum tubuhnya mencapai lantai rumah.


Perlahan-lahan Kapten itu memasukkan samurainya kesarangnya setelah melapnya ke


baju sersan yang rubuh itu


“Kuburkan dia malam ini. Dan malam ini juga kedua kawan-kawan itu harus


dibebaskan. Mulai hari ini kontak antara teman-teman dengan kami para Gyugun


harus diputuskan buat sementara waktu. Situasi tambah panas. Kabarnya di


Jakarta telah terjadi sesuatu. Saya yakin saatnya untuk kemerdekaan sudah


dekat. Karena itu, tunggu perkembangan selanjutnya. Salam saya untuk para


pimpinan yang lain. Juga buat kedua teman-teman yang ditawan itu….” Dan kapten

__ADS_1


ini lenyap ke dalam gelapnya malam.


__ADS_2