
“Diam kau! Jangan sembarang berkata. Tidak ada di antara
kami yang tidak berjiwa Samurai. Kau takkan pernah saya bebaskan. Kalaupun kau
memilih bertarung dengan salah seorang samurai, kau juga tetap takkan bisa
memenangkan perkelahian. Tak ada di antara kalian yang akan mampu mengalahkan
ilmu Samurai kami. Ilmu silat kalian masih terlalu rendah untuk berhadapan dengan
kecepatan Samurai . . “
“Kebenarannya akan kita buktikan sebentar lagi!” Datuk Berbangsa menjawab
dengan tenang dan pasti.
Saburo yang berang segera memberi perintah. Enam orang serdadunya segera
meletakkan bedil panjang mereka. Kemudian membentuk lingkaran besar di halaman
rumah gadang tersebut. Datuk Berbangsa yang terkenal sebagai Guru Silat Kumango
itu melangkah dengan pasti ke tengah lingkaran. Dia tak bicara sepatahpun pada
isteri dan anak gadisnya.
Nampaknya mereka sudah bicara saat bersembunyi di loteng. Datuk ini memang
seorang yang bernasib malang dalam pelariannya. Tengah malam tadi dia sampai
kemari bersama Datuk Maruhun dan teman-temannya. Mereka menyudahi nyawa kelima
serdadu Jepang yang berpos di surau. Kemudian dia mengatur pengungsian keluarga-keluarga
pelarian dari penjara itu. Ada sepuluh keluarga yang harus diungsikan keluar
kampung ini. Kalau mereka tidak diungsikan, mereka pasti ditangkap dan disiksa.
Tanpa mereka sadari, ketika pengungsian itu selesai, hari telah hampir siang.
Orang terakhir yang meninggalkan kampung itu adalah Datuk Maruhun dan
keluarganya.
“Duluanlah. Saya menyusul . .” ujar Datuk Berbangsa kepada Datuk Maruhun.
Dia tak dapat segera melarikan diri bersama Datuk Maruhun disebabkan isterinya
sakit. Dia telah diminta oleh isterinya untuk lari duluan bersama anak
__ADS_1
gadisnya. Namun Datuk Berbangsa menolak. Mana mau dia meninggalkan isterinya.
Dan anak gadisnya juga tak mau meninggalkan ibunya. Padahal si Ibu tak begitu
parah sakitnya. Perempuan ini sebenarnya tak mau pergi dari kampung itu karena
dia masih menunggu seorang anak lagi, si Bungsu!. Dia tahu suaminya tak
menyukai si Bungsu.
Tapi dia seorang Ibu. Bagaimana dia bisa membenci anak yang dia lahirkan, yang
dia kandung selama sembilan bulan, yang dia susui dari kecil, yang dia besarkan
dengan air mata dan keringat? Dia mengakui anaknya yang seorang itu tak bisa
dididik. Tapi bagaimana seorang Ibu akan membenci anaknya?. Demikianlah hati
seorang Ibu. Jika sangat terpaksa, sekali lagi ”jika sangat terpaksa”, dia
lebih rela kehilangan suami dari pada kehilangan anaknya.
Karena hari telah siang, untuk melarikan diri tak mungkin lagi. Mereka khawatir
akan bertemu dengan patroli Jepang. Mereka lalu memutuskan untuk bersembunyi di
loteng rumah. Bersembunyi dan menanti malam berikutnya datang. Sementara itu,
suaminya untuk membawa serta anaknya itu mengungsi. Namun nasib mereka memang
sedang malang. Persembunyian mereka diketahui oleh serdadu yang tadi memeriksa
rumah itu.
Serdadu itu melihat tangga naik ke loteng. Tangga itu rupanya tak ada yang
membuang. Sebab semua sudah naik ke loteng. Siapa lagi yang akan membuang
tangga? Waktu sudah kasip. Jepang sudah memasuki kampung. Maka mereka
tetap bertahan di loteng itu sambil berdoa. Perkelahian seperti yang akan
dihadapi Datuk Berbangsa ini juga sudah diperhitungkan tatkala tadi mereka
disuruh turun oleh Saburo. Dari pada mati di Logas atau mati ditembak di
penjara, lebih baik mati secara satria dalam perlawanan. Begitu mereka
putuskan. Dan kini, Datuk itu tegak di tengah lingkaran tersebut. Tegak dengan
__ADS_1
dada busung dan tangan terkepal. Kapten Saburo memberi isyarat. Seorang Jepang
berpangkat sersan maju. Tubuhnya besar berdegap. Di pinggangnya terdapat sebuah
Samurai.
“Kau boleh memilih senjata Datuk …,” kata Saburo.
“Terima kasih. Saya dilahirkan oleh Tuhan lengkap dengan bekal untuk melawan
kekerasan dengan tulang yang delapan kerat” suara Datuk itu terdengar perlahan.
Si Bungsu menegakkan kepalanya. Menatap tak berkedip pada ayahnya yang tegak
berhadapan dengan serdadu Jepang itu. Serdadu itu memberi hormat dengan
membungkukkan badan sebagaimana layaknya orang-orang Jepang menghormat.
Datuk Berbangsa tegak dengan dua kaki dirapatkan.
Tatapannya lurus ke depan. Dia berdoa dengan kedua tangannya menampung ke atas.
Kemudian tangan kanan meraba dahi, dan tangan kiri meraba dada di tentang
jantung. Setelah itu memberi hormat dengan tegak lurus dan kedua telapak tangan
dirapatkan di depan wajah. Dia memberi hormat dengan cara penghormatan Silat
Tuo Pariangan. Yaitu silat induk yang menjadi ibu dari silat-silat yang ada di
Minangkabau.
“Engkau boleh menyerang duluan Datuk……,” Saburo berkata.
Datuk Berbangsa tetap tegak dengan tubuh condong sedikit ke depan. Matanya melirik
ke tangan kanan Jepang besar di hadapannya. Semua orang pada terdiam. Tak
terkecuali Kapten Saburo sendiri. Ada sesuatu yang membuat Kapten ini iri pada
Datuk itu. Yaitu keyakinan pada kemampuan dirinya. Dia sudah banyak menyaksikan
kehebatan penduduk pribumi di Indonesia ini. Namun jarang yang punya keyakinan
atas dirinya seperti Datuk ini. Biasanya sesudah tertangkap, orang lalu
berhiba-hiba minta ampun. Jika perlu dengan membuka semua rahasia atau menjual
harga dirinya. Tapi tak demikian halnya dengan Datuk ini. Dia menantang
__ADS_1
berkelahi bukan karena dia kalap dan nekad. Tapi karena dia memang seorang
satria sejati.