TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 10


__ADS_3

“Diam kau! Jangan sembarang berkata. Tidak ada di antara


kami yang tidak berjiwa Samurai. Kau takkan pernah saya bebaskan. Kalaupun kau


memilih bertarung dengan salah seorang samurai, kau juga tetap takkan bisa


memenangkan perkelahian. Tak ada di antara kalian yang akan mampu mengalahkan


ilmu Samurai kami. Ilmu silat kalian masih terlalu rendah untuk berhadapan dengan


kecepatan Samurai . . “


“Kebenarannya akan kita buktikan sebentar lagi!” Datuk Berbangsa menjawab


dengan tenang dan pasti.


Saburo yang berang segera memberi perintah. Enam orang serdadunya segera


meletakkan bedil panjang mereka. Kemudian membentuk lingkaran besar di halaman


rumah gadang tersebut. Datuk Berbangsa yang terkenal sebagai Guru Silat Kumango


itu melangkah dengan pasti ke tengah lingkaran. Dia tak bicara sepatahpun pada


isteri dan anak gadisnya.


Nampaknya mereka sudah bicara saat bersembunyi di loteng. Datuk ini memang


seorang yang bernasib malang dalam pelariannya. Tengah malam tadi dia sampai


kemari bersama Datuk Maruhun dan teman-temannya. Mereka menyudahi nyawa kelima


serdadu Jepang yang berpos di surau. Kemudian dia mengatur pengungsian keluarga-keluarga


pelarian dari penjara itu. Ada sepuluh keluarga yang harus diungsikan keluar


kampung ini. Kalau mereka tidak diungsikan, mereka pasti ditangkap dan disiksa.


Tanpa mereka sadari, ketika pengungsian itu selesai, hari telah hampir siang.


Orang terakhir yang meninggalkan kampung itu adalah Datuk Maruhun dan


keluarganya.


“Duluanlah. Saya menyusul . .” ujar Datuk Berbangsa kepada Datuk Maruhun.


Dia tak dapat segera melarikan diri bersama Datuk Maruhun disebabkan isterinya


sakit. Dia telah diminta oleh isterinya untuk lari duluan bersama anak

__ADS_1


gadisnya. Namun Datuk Berbangsa menolak. Mana mau dia meninggalkan isterinya.


Dan anak gadisnya juga tak mau meninggalkan ibunya. Padahal si Ibu tak begitu


parah sakitnya. Perempuan ini sebenarnya tak mau pergi dari kampung itu karena


dia masih menunggu seorang anak lagi, si Bungsu!. Dia tahu suaminya tak


menyukai si Bungsu.


Tapi dia seorang Ibu. Bagaimana dia bisa membenci anak yang dia lahirkan, yang


dia kandung selama sembilan bulan, yang dia susui dari kecil, yang dia besarkan


dengan air mata dan keringat? Dia mengakui anaknya yang seorang itu tak bisa


dididik. Tapi bagaimana seorang Ibu akan membenci anaknya?. Demikianlah hati


seorang Ibu. Jika sangat terpaksa, sekali lagi ”jika sangat terpaksa”, dia


lebih rela kehilangan suami dari pada kehilangan anaknya.


Karena hari telah siang, untuk melarikan diri tak mungkin lagi. Mereka khawatir


akan bertemu dengan patroli Jepang. Mereka lalu memutuskan untuk bersembunyi di


loteng rumah. Bersembunyi dan menanti malam berikutnya datang. Sementara itu,


suaminya untuk membawa serta anaknya itu mengungsi. Namun nasib mereka memang


sedang malang. Persembunyian mereka diketahui oleh serdadu yang tadi memeriksa


rumah itu.


Serdadu itu melihat tangga naik ke loteng. Tangga itu rupanya tak ada yang


membuang. Sebab semua sudah naik ke loteng. Siapa lagi yang akan membuang


tangga? Waktu sudah kasip. Jepang sudah memasuki kampung.  Maka mereka


tetap bertahan di loteng itu sambil berdoa. Perkelahian seperti yang akan


dihadapi Datuk Berbangsa ini juga sudah diperhitungkan tatkala tadi mereka


disuruh turun oleh Saburo. Dari pada mati di Logas atau mati ditembak di


penjara, lebih baik mati secara satria dalam perlawanan. Begitu mereka


putuskan. Dan kini, Datuk itu tegak di tengah lingkaran tersebut. Tegak dengan

__ADS_1


dada busung dan tangan terkepal. Kapten Saburo memberi isyarat. Seorang Jepang


berpangkat sersan maju. Tubuhnya besar berdegap. Di pinggangnya terdapat sebuah


Samurai.


“Kau boleh memilih senjata Datuk …,” kata Saburo.


“Terima kasih. Saya dilahirkan oleh Tuhan lengkap dengan bekal untuk melawan


kekerasan dengan tulang yang delapan kerat” suara Datuk itu terdengar perlahan.


Si Bungsu menegakkan kepalanya. Menatap tak berkedip pada ayahnya yang tegak


berhadapan dengan serdadu Jepang itu. Serdadu itu memberi hormat dengan


membungkukkan badan sebagaimana layaknya orang-orang Jepang menghormat.


Datuk Berbangsa tegak dengan dua kaki dirapatkan.


Tatapannya lurus ke depan. Dia berdoa dengan kedua tangannya menampung ke atas.


Kemudian tangan kanan meraba dahi, dan tangan kiri meraba dada di tentang


jantung. Setelah itu memberi hormat dengan tegak lurus dan kedua telapak tangan


dirapatkan di depan wajah. Dia memberi hormat dengan cara penghormatan Silat


Tuo Pariangan. Yaitu silat induk yang menjadi ibu dari silat-silat yang ada di


Minangkabau.


“Engkau boleh menyerang duluan Datuk……,” Saburo berkata.


Datuk Berbangsa tetap tegak dengan tubuh condong sedikit ke depan. Matanya melirik


ke tangan kanan Jepang besar di hadapannya. Semua orang pada terdiam. Tak


terkecuali Kapten Saburo sendiri. Ada sesuatu yang membuat Kapten ini iri pada


Datuk itu. Yaitu keyakinan pada kemampuan dirinya. Dia sudah banyak menyaksikan


kehebatan penduduk pribumi di Indonesia ini. Namun jarang yang punya keyakinan


atas dirinya seperti Datuk ini. Biasanya sesudah tertangkap, orang lalu


berhiba-hiba minta ampun. Jika perlu dengan membuka semua rahasia atau menjual


harga dirinya. Tapi tak demikian halnya dengan Datuk ini. Dia menantang

__ADS_1


berkelahi bukan karena dia kalap dan nekad. Tapi karena dia memang seorang


satria sejati.


__ADS_2