
Tikam Samurai - 86
Pekik itu juga terdengar oleh beberapa penduduk yang
rumahnya berdekatan dengan rumah Datuk Penghulu. Namun tak seorang pun diantara
para lelaki yang ada disekitar itu yang berani memberikan pertolongan. Mereka
semua mengetahui bahwa di rumah Datuk itu ada Kempetai. Dan bila ada perempuan
memekik, itu bisa disadari apa artinya.
Tak ada yang berani menolong. Sebab pertolongan berarti melawan Jepang. Dan
melawan Jepang artinya cabut kuku atau dibunuh. Nah, dari pada mencari susah
lebih baik diam di rumah. Itu lebih selamat. ‘Bikin apa cari penyakit,’ pikir
mereka.
Tapi tak demikian halnya dengan si Bungsu dan Datuk Penghulu. Hampir bersamaan,
mereka yang sedianya akan melarikan diri itu, pada mengayunkan langkah panjang
ke ruamh Imam tersebut. Mereka sadar, jika mereka kelihatan oleh Jepang, itu
artinya maut mengintai. Tapi menyadari bahwa ada orang lain yang butuh
pertolongan, mereka melupakan bahaya yang mengancam diri mereka sendiri. Mereka
segera mancapai belukar di pinggir rumah itu. Pekik dan tangis masih terdengar
dari dalam.
“Ada tiga orang diluar” si Bungsu berbisik.
Lalu seperti sudah bermufakat, tiba-tiba saja mereka meloncat ke depan. Ketiga
Serdadu Jepang yang tegak di bawah cucuran atap itu, yang berteduh dari
gerimis, terkejut melihat kehadiran mereka yang amat tiba-tiba. Yang seorang
berniat membentak, tapi suaranya hanya sampai di tenggorokan. Kerampangnya kena
tendang Datuk Penghulu. Kemudian sebuah tinju mendarat di jantungnya. Dia
terjajar, mati.
Yang dua lagi mengangkat bedil. Namun bedil itu tak pernah meletus. Sebuah
sinar halus melesat amat cepat. Dan tahu-tahu yang satu lehernya hampir putus,
__ADS_1
yang satu lagi dadanya terburai. Mereka mati tanpa sempat mengeluh. Dan tak
sempat pula mengetahui, apa yang menjadi malaikat maut yang merenggut nyawa
mereka demikian cepatnya. Dan si Bungsu menyisipkan kembali samurainya.
Datuk Penghulu memberi isyarat. Si Bungsu mengangguk. Di dalam bilik si Letnan
tadi sudah merenggut seluruh pakaian anak gadis Imam itu. Gadis malang itu
tegak di sudut ruangan dengan tubuh menggigil tanpa pakaian secabikpun.
Kempetai itu menjilat bibir dan meneguk liurnya beberapa kali melihat tubuh
montok gadis itu.
“Hhhhh, bagusy badan . . .bagusy badaaaan . . . .,” katanya seperti orang
menggigil.
Dan dalam gigilannya itu dia membuka pula pakaiannya sendiri. Kemudian mendekat
pada si gadis. Gadis itu tak kuasa lagi memekik. Dia menutupi wajahnya. Dan
tiba-tiba dia terkulai pingsan saking ngeri dan malunya. Tubuhnya yang terkulai
cepat disambut oleh Jepang itu. Kemudian menghempaskannya ke pembaringan. Saat
itulah jendela kamar itu pecah di hantam dari luar. Seiring dengan masuknya
sudah tegak dalam kamar itu. Dia adalah Datuk Penghulu yang masuk dengan
meloncat menerjang jendela kamar Kempetai itu tertegun. Tapi itulah tegunnya
yang terakhir. Itulah kesempatan baginya untuk tertegun semasa hidupnya, sebab
setelah itu dengan penuh kebencian pukulan Datuk Penghulu menghujam ke arah
jantungnya. Dia berusaha untuk mengelak dengan mempergunakan tangkisan karate.
Namun Datuk itu sudah sampai ke puncak berangnya. Begitu tangannya ditangkis,
tangan yang menangkis itu dia tangkap.
Kemudian dengan sebuah pelintiran yang telak, tubuh Jepang itu terjerembab ke
tanah. Saat berikutnya, dengan masih memegang tangan kanan Jepang itu, kaki
Datuk Penghulu menghujam ke bawah. Hujaman pertama membuat tulang leher Jepang
itu berderak. Kemudian hentakkan kedua adalah hentakkan tumit ke hulu hati.
__ADS_1
Jantung dan hati Jepang itu pecah oleh jurus Hentak Alu yang dipergunakan oleh
Datuk tadi.
Pada saat Datuk itu menjebol jendela, saat itu pula si Bungsu membuka pintu
depan. Kemudian dia berdiri dua depa dari ketiga Jepang yang mengawasi imam dan
istrinya itu. Semula mereka tak acuh. Menyangka bahwa yang hadir itu adalah
temannya yang tadi keluar. Tapi begitu mendengar jendela dijebol, mereka
terkejut. Dan ketika diperhatikan, ternyata yang tegak dekat pintu adalah
pemuda yang mereka cari-cari.
“Bagero ini dia. Dia iniiiiii..!!” yang seorang memekik saking kagetnya.
Serentak mereka mengangkat bedil. Tiga letusan bergema mengoyak kesunyian. Tapi
saat si Bungsu sudah mempergunakan loncat tupainya yang tangguh itu. Tubuhnya
bergulingan ke depan sesaat sebelum ketiga bedil itu menyalak. Dalam saat
seperti itu, tak ada kalimat yang bisa menggambarkan kecepatan anak muda itu
mempergunakan samurainya yang tangguh itu. Dia mempergunakannya tak
tanggung-tanggung. Dia baru saja kematian kekasih. Gadis cina yang dicintainya
sepenuh hati. Mati karena ditembak dan diperkosa Jepang malam kemaren. Gadis
itu meninggal di depannya hanya beberapa detik sebelum mereka mengucapkan ijab
kabul di depan kadi Karenanya, dalam berang dan dendamnya yang amat sangat
menyala-nyala, dia menebaskan samurai di tangannya dengan tak tanggung-tanggung
pula. Hanya sekali tabas, ketiga kepala Kempetai itu putus Sebelum ketiga tubuh
mereka jatuh memecah lantai, sekali lagi samurai di tangan anak muda itu
bekerja. Tubuh mereka terpotong dua persis di tentang dada.
“Bungsu Jangan menganiaya mayat”
Suara Datuk Penghulu yang telah tegak di pintu bilik menyadarkan anak muda ini
dari gejolak dendam dan amarahnya. Dia tertegun, wajahnya yang semula tegang
menakutkan dengan sinar mata berkilat, lambat-lambat biasa kembali. Dia menatap
__ADS_1
kepala dan potongan tubuh serta darah yang berceceran di lantai. Kemudian
menunduk. Kemudian lambat-lambat menyarungkan kembali samurainya.