
Tikam Samurai - 83
“Uda saya… bahagia engkau suamiku.. dan aku mengabdikan
diriku menjadi istrimu,”
Rupanya gadis itu telah melafazkan akad nikahnya sebelum Imam datang. Dia sadar
Tuhan akan memanggilnya. Kiranya Tuhan pula yang menyuruhnya untuk melafazkan
ucapannya yang terakhir itu. Tiba-tiba si Bungsu berdiri.
“Jepang jahanam. Kubunuh kalian. Demi Allah, saya akan membunuh kalian sebanyak
yang bisa saya lakukan”
Habis berkata dia menyambar samurainya yang terletak di lantai. Kemudian
bergegas turun. Namun Datuk Penghulu mencegahnya.
“Jangan memperlihatkan diri saat ini Buyung.
Dijalanan berkeliaran ratusan serdadu Jepang..”
“Persetan . .saya akan membunuh mereka…”
Dia berbalik untuk turun. Tapi saat itu pula tangan Datuk Penghulu menghantam
tengkuknya. Anak muda itu terkulai, dia berusaha memutar wajah menatap Datuk
Penghulu, sinar matanya memancarkan rasa sakit dan heran, kenapa Datuk itu
sampai berbuat demikian. Kemudian dia jatuh pingsan. Imam yang ada di sana itu
juga menatap heran bercampur terkejut atas sikap Datuk Penghulu.
“Kenapa Datuk pukul dia?”
Datuk Penghulu menarik nafas panjang sebelum menjawab.
“Sudah terlalu banyak saya kehilangan Pak Imam. Malam tadi anak dan istri saya.
Sebentar ini gadis ini pula. Gadis yang telah saya anggap sebagai anak saya
sendiri. Kini, kalau saya biarkan dia mengamuk diluar sana, mungkin dia akan
__ADS_1
bisa membunuh sepuluh atau dua puluh Jepang dengan kemahirannya mempergunakan
samurai. Tapi setelah itu, betapapun jua peluru jauh lebih unggul dan lebih
ampuh dari samurai di tangannnya. Bagaimana hebatnya sekalipun, Saya tak mau
kehilangan dirinya. Dia sudah banyak berjasa pada bangsanya. Telah banyak
membunuh Jepang yang merampok dan memperkosa rakyat. Meskipun dia tak menyadari
jasanya itu, karena dia berbuat itu hanya untuk membela diri dan membalaskan
dendam keluarganya. Tapi Indonesia banyak berhutang padanya. Saya tak mau dia
mati terlalu cepat. Masih banyak hal-hal besar yang bisa dia lakukan daripada
harus mati cepat-cepat dia pelindung orang yang lemah…”
Imam itu terdiam mendengarkan keterangan Datuk penghulu. Kemudian menoleh pada
mayat Mei-mei.
“Kasihan gadis ini.. dia meninggal sebelum sempat merasakan kebahagiaan,” Kata
Imam itu perlahan.
di mana dia merasa bahagia. Yaitu di saat dia merawat si Bungsu yang sedang
luka. Saya sudah mengetahui sejak lama, bahwa kedua anak muda ini saling
mencintai. Ternyata ketika mereka telah saling mengetahui bahwa mereka saling
mencinta, maut datang menjemput Mei-mei.”
Mayat Mei-mei kelihatan tetap cantik, meski wajahnya pucat. Senyum tipisnya
seakan berkata bahwa dia rela pergi setelah mengetahui bahwa si Bungsu juga
mencintainya. Sementara si Bungsu terbaring sehasta di sampingnya.
“Bila kita kuburkan mayat Mei-mei..?” Imam itu bertanya perlahan.
“Kalau tak ada patroli, nanti malam kita kebumikan.” jawab si Datuk.
“Tapi siapa yang akan memandikan jenazahnya?”
__ADS_1
“Pak Imam tolonglah memanggil beberapa penduduk sekitar sini. Tek Munah, Tek
Niar dan Amai Zainab. Katakan pada mereka apa yang telah terjadi. Minta mereka
untuk datang seperti Sholat berkaum malam nanti kemari. Bawakan juga kain kapan
dan bunga rampai. juga tolong katakan pada Pak Bidin dan PakTamam untuk datang
membantu menggali pusara…”
“Ya. Ya. Saya akan mengerjakan semua pesan Datuk. Tapi bagaimana kalau tentara
Jepang yang berkeliaran itu sampai mengetahui bahwa kita berada disini ?”
“Jika itu terjadi, hanya ada dua kemungkinan pak Imam. Membunuh atau dibunuh.
Hanya berusahalah untuk tidak menimbulkan kecurigaan ..”
“Ya.Ya. Saya akan berhati-hati. . lebih baik saya turun sekarang. . .”
“Ya. Saya rasa juga begitu. Kalau kemari nanti tolong bawakan makanan.”
“Ya. Akan saya bawakan. Tunggulah disini. . ..”
Imam itu bergerak turun. Pada saat yang sama, si Bungsu mulai sadar diri. Dia
masih merasakan kepalanya berdenyut bekas dihantam Datuk Penghulu. Sebenarnya
dia sudah sadar agak lama. Hanya saja dia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia
mendengar pembicaraan terakhir antara Datuk Penghulu dengan Imam itu. Ketika
dia bangkit, dia terpandang pada mayat Mei-mei. Kemudian dia memandang pada
Datuk Penghulu.
“Maafkan saya buyung. Mei-mei berkata benar. Bukankah dia berpesan padamu, agar
engkau tak mencari si Atto, tidak lagi melibatkan diri dalam perkelahian? Dia
menginginkan keselamatanmu. Dan dia mengharapkan itu dikala ajalnya akan
datang. Tak ada salahnya engkau menuruti pesan orang yang akan meninggal dunia,
apalagi orang yang amat mencintai dirimu…”
__ADS_1
Si Bungsu menarik nafas. Lalu duduk disisi mayat Mei-mei. Manatap wajah mayat
itu diam-diam. Datuk Penghulu memperhatikan dengan sudut mata.