TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 41


__ADS_3

Tikam Samurai - 41


Satu !


Ya, ketiga dadu itu menunjukkan angka satu di atasnya. Baribeh tercengang.


Juling tercengang. Perwira Jepang yang satu itu, yang kali ini tak ikut


memasang taruhan juga tercengang. Si Bungsu ternyata menebak dengan tepat dan


memenangkan taruhan. Babah gemuk itu tersenyum.


Kemudian membayar pada si Bungsu sebanyak enam kali lipat dari taruhannya yang


dipasang. Lambat – lambat dia memasukkan lagi buah dadunya. Kemudian memutar


dadu dalam bambu itu. Setelah lima kali putaran cepat, bambu berisi dadu itu


dengan cepat dia telungkupkan.


Kembali terdengar suara mengerincing ketika buah dadu jatuh di atas piring di


bawah telungkupnya potongan bambu.


Si Bungsu memasang teliganya. Kalau dulu sebelum ”mengungsi” selama dua tahun


ke gunung dia selalu menang main dadu adalah berkat pandainya dia main curang,


maka kini lain halnya. Dulu dialah yang memegang dadu. Dan selalu dadunya hanya


sebuah.


Dia bisa memainkan dadu itu. Kini dengan tiga buah dadu, dia mengandalkan


pendengarannya. Kalau saja dia tak pernah berlatih di gunung Sago, mungkin kini


dia akan kalah terus. Sebab babah gemuk itu lihainya bukan main pula. Tapi kini


dia dibekali dengan pendengaran set ajam pendengaran macan tutul. Dengan jelas


dia mendengar jatuhnya buah dadu itu kepiring. Dia juga bisa membedakan bunyi


angin yang tertekan, tergantung dari banyak atau sedikitnya lobang pada dadu


itu yang menghadap ke bawah.

__ADS_1


Dadu yang keras bunyi jatuhnya, pastilah yang sedikit lobang yang menghadap ke


bawah. Sebab pada lobang – lobang itu sedikit angin yang tertahan. Kalau lobang


enam yang menghadap ke bawah, maka bunyinya akan lebih lunak dibandingkan


dengan angka satu. Sebab dalam lobang – lobang dadu yang enam buah itu angin


banyak tertahan dan membuat jatuhnya lebih pelan.


Hanya kini dibutuhkan kepandaian menerka tepat antara lobang enam dengan lobang


lima. Untuk membedakannya dibutuhkan keahlian bertahun – tahun. Namun bagi si


Bungsu hal itu sudah merupakan kaji menurun. Dia memang seorang penjudi ulung


sebelumnya.


Kini dengan pendengarannya yang tajam, dia segera dapat menebak. Kalau empat


taruhan terdahulu dia hanya ingin coba – coba, maka kini dia bertaruh dengan


penuh keyakinan.Semua uang kemenangannya tadi dia taruh di angka satu, empat


dan enam. Baribeh menaruh uangnya di angka tiga dan lima. Perwira Jepang yang


”Sudah ..?” si Babah bertanya.


Tak ada yang menyahut. Mereka semua menatap diam pada piring itu. Babah gemuk


itu mengangkat bambu. Dan kembali mereka terkejut. Ketiga buah dadu itu


menunjukkan angka persis seperti taruhan si Bungsu.


Yang muncul di atas adalah mata satu, empat dan enam. Dengan demikian dia


kembali memenangkan taruhan. Perwira Jepang yang memasang di angka enam ikut


bersorak gembira. Demikian pula si Ju ling yang menaruh uangnya di angka satu.


Mereka menerima bayaran taruhannya.


Si Babah membayar dengan tenang. Matanya sesekali menatap pada si Bungsu. Dan


bulu tengkuk si Bungsu merinding melihat kilatan mata Babah gendut itu. Namun

__ADS_1


dia tetap duduk diam di tempatnya. Tongkat samurainya dia letakkan di paha.


Siap menanti segala kemungkinan.


Lagi pula apa yang harus dia takutkan ? Bukankah pertaruhan ini jujur ? Bukan


dia yang jadi bandar. Dia hanya pemasang taruhan. Dalam perjudian, biasanya


yang selalu curang adalah bandar. Dan kinipun kalau akan ada huru hara, maka


itu hanyalah karena dua soal.


Pertama karena bandar curang, dan ini tak kelihatan tanda – tandanya. Dan kedua


karena bandar atau salah satu pihak tak rela kalah. Dan inipun tak ada atau


belum ada tanda – tandanya. Meski telah membayar cukup banyak dalam dua kali


taruhan ini, tapi Babah gemuk itu membayar masih dengan tersenyum. Dia


tampaknya memang cukong yang siap berjudi dengan siapapun dan dalam taruhan


berapapun. Kini jari – jarinya yang panjang dan kurus itu mulai mengambil buah


dadu. Memasukkan kedalam potongan bambu dan mengangkatnya tinggi. Si Bungsu


kebetulan sedang menatapnya pula. Mereka saling pandang. Babah itu tersenyum.


Dan kembali urat – urat darah di tubuh si Bungsu mengencang melihat tatapan


mata dan senyum Babah gemuk ini.


Lambat – lambat tangan si Babah mulai memutar bambu berisi dadu. Suara dadu


terdengar bersentuhan dan berputar di dinding tabung bambu pendek itu. Mata


Babah gemuk itu bergantian menatap si Bungsu, Baribeh, perwira Jepang dan si


Juling.


Menatap sambil tangannya tetap memutar tabung bambu berisi dadu tersebut. Si


Bungsu tidak lagi menatap pada si Babah. Meskipun dia tahu Babah itu memandang


padanya beberapa kali selama mengguncang dadu. Tapi kini dia menunduk.

__ADS_1


Telinganya dia pasang baik – baik.


__ADS_2