TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 39


__ADS_3

Tikam Samurai - 39


Anak gadisnya memang terkenal cantik dan bertubuh padat.


Setiap perwira bisa memakainya dengan bayaran yang tak tanggung – tanggung


tingginya. Selain tempat lacur dan tempat judi, pejuang – pejuang Indonesia


juga sudah lama mencurigai rumah itu sebagai sebuah pusat mata-mata untuk pihak


Jepang. Soalnya Cina itu sudah berdiam sejak lama di rumah tersebut. Ketika


zaman penjajahan Belanda, dia sudah menjadi semacam kepercayaan orang Belanda


pula. Kini ketika Jepang berkuasa, dia juga menjadi kepercayaan Jepang.


Pejuang – pejuang Indonesia sudah lama mengintai rumah tersebut. Namun kendati


memiliki beberapa bukti, mereka tak dapat melakukan apapun. Apalagi kini dia


mendapat perlindungan Jepang. Maka usaha pejuang – pejuang Indonesia untuk


menangkap Cina ini tak pernah berhasil. Padahal beberapa orang pejuang yang


tertangkap, diantaranya anak buah Mayor M yang berkedudukan di Piobang,


disebabkan oleh Cina gemuk ini. Dia menyebar intelnya diantara penduduk pribumi


dan perempuan – perempuan lacur. Bahkan tertangkapnya beberapa pejuang yang


mencuri senjata di Kubu Gadang empat bulan yang lalu juga atas petunjuk Cina


ini.


”Sudah datang dia ?” seorang perwira Jepang yang berpangkat Lettu (Chu – I),


bertanya sambil menambah uang taruhannya.


”Belum, mungkin sebentar lagi”, jawab Babah gemuk tersebut.


Mereka meneruskan main dadu. Tiba – tiba Chu – I itu tegak. Menatap pada ketiga


perempuan yang ada dalam ruangan itu.


”Hei, mana Amoy ..?” tanyanya.


Ketiga perempuan itu menatap pada si babah gepuk yang sedang duduk main dadu.

__ADS_1


Si gepuk main terus, meraih uang di tikar yang dimenanginya.


”Mana Amoy, gepuk?” tanya si Chu-I.


Si gepuk memberi isyarat dengan menggerakkan kepalanya ke arah kamar. Namun


ketika Jepang itu akan tegak, si gepuk memberi isyarat meminta uang terlebih


dahulu dengan menampungkan tangannya. Chu-I tersebut merogoh kantong dan


menyerahkan beberapa lembar uang, kemudian melangkah kekamar yang dimaksud si


babah gepuk.


Ketika dia baru sampai di depan pintu, pintu kamar itu terbuka, seorang Jepang


yang juga berpangkat letnan keluar dengan menyeka peluh di lehernya. Mereka


bertegur sapa sepatah dua. Sampai di dalam Jepang itu melihat Amoy anak babah


gemuk itu sedang merapikan tempat tidur. Posisinya yang sedang membungkuk


membelakangi pintu dengan handuk melilit tubuh, menampakkan pangkal pahanya


dari belakang. Jantung Jepang itu berdebar kencang. Seperti orang kesurupan dia


Di luar rumah Cina itu sejak tadi seorang lelaki kelihatan tegak. Dia seperti


menanti sesuatu. Dan setelah lebih dari dua jam dia tegak di sana, barulah dia


lihat dua orang lelaki mendekati rumah itu. Dia cepat – cepat melangkah


mendekati kedua lelaki itu.


” Hei. Jumpa lagi kita ..! ” dia berkata pada kedua lelaki itu. Dan kedua


lelaki itu berhenti. Menatap padanya. Dalam cahaya bulan, mereka segera


mengenali orang yang menegur mereka itu.


” Hmm. Kau Bungsu ..!”


” Ya. Aku si Bungsu. Sudah lebih dua tahun kita tak bertemu ya Baribeh ?”


Baribeh yang dulu pernah melanyau tubuhnya ketika mereka kalah berjudi di Surau


bekas di kampungnya, tertawa menggerendeng.

__ADS_1


” Tapi kudengar kau sudah ****** dihantam samurai Saburo.”


Baribeh yang pesilat itu berkata. Tubuh si Bungsu seperti jadi kaku mendengar


nama Saburo disebut. Untung saja malam hari, hingga perobahan air mukanya tak


kelihatan oleh Baribeh.


” Ah, itu cerita burung. Buktinya saya masih hidup.


Apa perlunya Jepang membunuh saya. Hmm, ini si Jul ya?” Si Bungsu tersenyum


pada lelaki juling yang dia sebut sebagai si Jul itu.


” Kalera!!. Jangan ikut – ikutan waang memanggil saya dengan sebutan itu


buyung. Kuremas mulut waang dengan cirik nanti ..!” ujar si Jul tersinggung.


Sebab orang yang berani dan yang boleh memanggilnya dengan sebutan si Jul itu


hanya pimpinannya, si Baribeh.


” Tenanglah Jul. Mungkin dia punya duit banyak seperti dulu. Hei Bungsu, apakah


waang masih suka berjudi ?”


” Akhirnya – akhir ini tidak lagi. Tak ada yang mau bertaruh besar. Percuma


saja main. Menghabiskan waktu saja ”.


Baribeh menyikut si Jul perlahan. Si Jul tahu maksudnya, yaitu anak muda ini


akan mereka jadikan korban lagi.


” Ah, saya jera main dengan kalian. Menang kalian ingin menerima, kalah tak


membayar. Kalau sekedar tak membayar saja tak apa. Ini diri saya kalian lanyau.


Itu membuat saya ngeri ..” ujar Bungsu.


Baribeh tertawa, memperlihatkan giginya yang merah karena sirih dan runcing –


runcing seperti gigi tikus.


” Ahaaa .. jangan takut. Jangan takut. Di tempat ini aman. Ada orang Jepang dan


Cina sebagai juri. Waang aman percayalah. Ayo. Ayooo ..!”

__ADS_1


__ADS_2