TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 8


__ADS_3

Anak muda itu hanya menarik nafas panjang. Wajahnya yang


murung, matanya yang sayu, menatap kelima lelaki orang kampungnya itu dengan


tenang. Dan ketenangan ini membuat kelima mereka rasa akan muntah saking jijik


dan berangnya. Yang memegang tombak tiba-tiba mengangkat tombaknya dan


menghayunkan pada si Bungsu. Namun samurai di tangan si Jepang bergerak. Tombak


itu potong dua sebelum sempat dilemparkan.


“Terkutuk kau Bungsu. Untung anakku tak jadi kawin denganmu. Tujuh keturunan


kau kami sumpahi. Laknat jahanam!!” Datuk Maruhun menyumpah saking berangnya.


Namun anak muda itu tetap saja tegak dengan diam. Komandan Jepang itu memberi


perintah pada si Jangkung di tengah sasaran. Kepada kedua lelaki itu dia lalu


berkata:


“Nah, kalau tadi kalian menyerang, kini tangkislah serangan Zenkuro. .


.”


 Sebelum ucapannya habis, si Jangkung yang memegang hulu samurai dengan


kedua tangannya, mulai menyerang. Serangan nampak biasa saja, membabat kaki,


perut dan leher. Serangan begini dengan mudah dielakkan oleh kedua pesilat itu.


Malah mereka bisa balas menyerang.


Beberapa kali pedang dan tangan di tangan pesilat yang satu beradu dengan


samurai di tangan Jepang itu. Bunga api memercik dari benturan kedua baja


tersebut. Kedua pesilat ini mengitari tubuh si Jangkung dengan melangkah


berlawanan arah. Jadi dia dipaksa untuk memecah kosentrasinya. Sepuluh jurus


berlalu.


Tak kelihatan pihak mana yang akan menang. Datuk Maruhun dan kedua temannya


merasa gembira dan berdoa agar teman mereka menang. Namun posisi itu tak


bertahan lama. Si Komandan memberi petunjuk dengan bahasa kampung mereka.

__ADS_1


Jepang Jangkung itu tiba-tiba tegak dengan diam. Dan ketika tiba-tiba kedua


pesilat itu menyerang lagi, dia bergerak berputar dengan cepat. Terdengar pekikan


beruntun. Kedua pesilat itu rubuh mandi darah. Mati saat itu juga. Yang tadi


memegang tombak buntung itu, dadanya robek lebar. Yang memegang pedang


kepalanya seperti akan belah dua.


Sasaran itu kini bergenang darah dalam hujan rintik yang makin lebat.


  “Nah, kalian sudah lihat. Bahwa silat kalian tak ada artinya jika


melawan Samurai. Karena itu jangan coba-coba membangkang perintah kami. Kini


kalian yang masih hidup ayo ikut kami kembali ke kampung. Tunjukkan di mana


teman-teman kalian yang lainnya. Termasuk Ayah monyet ini, . .”


Datuk Maruhun menatap pada si Bungsu yang disebut sebagai beruk oleh komandan


Jepang itu.


“Waang tidak hanya pantas disebut beruk buyung. Tapi waang memang seekor beruk


Ayah waang bersembunyi pada Jepang-Jepang ini?” Dia bertanya dengan penuh rasa


benci pada si Bungsu. Namun anak muda itu tetap diam. Berjalan dengan kepala


tunduk, mata sayu dan wajah murung. Kalau saja dia tak dibatasi oleh tiga orang


serdadu, mungkin dia telah mati ditikam oleh ketiga lelaki itu. Bahkan kalau


ayahnya ada di sana, mereka yakin bahwa Datuk Berbangsa yang akan membunuh


anaknya ini.


Sudah bisa dipastikan, bahwa untuk mendapatkan uang untuk berjudi, anak celaka


ini telah membuka rahasia tentang latihan yang diadakan di kampungnya pada


Jepang, berikut di mana latihan diadakan. Bisa diterima akal betapa berangnya


penduduk padanya.


Kabar tentang khianatnya si Bungsu segera menjalar seperti api dalam sekam di


kampung itu. Belum dua bulan yang lalu dia diberitakan dari mulut ke mulut

__ADS_1


perkara pertunangannya yang diputus pihak Reno, kini dia kembali diberitakan


dari mulut ke mulut soal khianatnya. Namun tak ada yang berani turun tangan


secara langsung. Di kampung itu kini ditempatkan lima orang serdadu Jepang.


Jepang-jepang itu tak berhasil menemukan Datuk Berbangsa dan teman-temannya.


Untuk itu mereka menempatkan lima orang serdadunya untuk menjaga dan menangkap


kalau-kalau Datuk itu muncul sewaktu-waktu. Sementara Datuk Maruhun serta kedua


temannya yang tertangkap di sasaran itu, dibawa ke Bukittinggi. Ditahan di


sana. Tapi ada yang mengatakan bahwa ketiga mereka telah dikirim ke Logas. Di


berbagai daerah perang melawan serdadu Jepang belum lagi mulai. Sebab Jepang


baru saja menggantikan kedudukan tentara Belanda.


Suatu malam terjadi kegemparan di kampung itu. Kelima serdadu Jepang yang


ditempatkan di surau mengaji, yang dijadikan pos darurat, subuh-subuh kedapatan


mati semua. Pada tubuh mereka ada bekas tikaman. Jelas tikaman keris. Lewat


subuh sedikit, hampir seratus serdadu Jepang mengepung kampung itu Ternyata


Datuk Maruhun dan kedua temannya lolos dari tahanan. Kabarnya bersama Datuk


Berbangsa dan beberapa pejuang lainnya mereka membunuh pula empat orang serdadu


Jepang di penjara. Lalu malam itu juga menyelusup ke kampung. Mereka membawa


anak dan isteri melarikan diri.


Ketika kampung itu dikepung Jepang, yang tinggal di sana hanya beberapa


keluarga saja. Umumnya perempuan yang suaminya telah tertangkap atau dikirim ke


Logas, atau bersembunyi. Empat lelaki yang tertangkap segera dibariskan di


depan surau di mana kelima serdadu Jepang itu mati malam tadi. Keempat lelaki


itu sebenarnya orang-orang biasa yang tak ada sangkut pautnya dengan kejadian


di kampung itu. Mereka hanya petani biasa. Malahan satu di antaranya adalah


seorang bisu dan tuli. Namun Jepang itu tak perduli.

__ADS_1


__ADS_2