
Anak muda itu hanya menarik nafas panjang. Wajahnya yang
murung, matanya yang sayu, menatap kelima lelaki orang kampungnya itu dengan
tenang. Dan ketenangan ini membuat kelima mereka rasa akan muntah saking jijik
dan berangnya. Yang memegang tombak tiba-tiba mengangkat tombaknya dan
menghayunkan pada si Bungsu. Namun samurai di tangan si Jepang bergerak. Tombak
itu potong dua sebelum sempat dilemparkan.
“Terkutuk kau Bungsu. Untung anakku tak jadi kawin denganmu. Tujuh keturunan
kau kami sumpahi. Laknat jahanam!!” Datuk Maruhun menyumpah saking berangnya.
Namun anak muda itu tetap saja tegak dengan diam. Komandan Jepang itu memberi
perintah pada si Jangkung di tengah sasaran. Kepada kedua lelaki itu dia lalu
berkata:
“Nah, kalau tadi kalian menyerang, kini tangkislah serangan Zenkuro. .
.”
Sebelum ucapannya habis, si Jangkung yang memegang hulu samurai dengan
kedua tangannya, mulai menyerang. Serangan nampak biasa saja, membabat kaki,
perut dan leher. Serangan begini dengan mudah dielakkan oleh kedua pesilat itu.
Malah mereka bisa balas menyerang.
Beberapa kali pedang dan tangan di tangan pesilat yang satu beradu dengan
samurai di tangan Jepang itu. Bunga api memercik dari benturan kedua baja
tersebut. Kedua pesilat ini mengitari tubuh si Jangkung dengan melangkah
berlawanan arah. Jadi dia dipaksa untuk memecah kosentrasinya. Sepuluh jurus
berlalu.
Tak kelihatan pihak mana yang akan menang. Datuk Maruhun dan kedua temannya
merasa gembira dan berdoa agar teman mereka menang. Namun posisi itu tak
bertahan lama. Si Komandan memberi petunjuk dengan bahasa kampung mereka.
__ADS_1
Jepang Jangkung itu tiba-tiba tegak dengan diam. Dan ketika tiba-tiba kedua
pesilat itu menyerang lagi, dia bergerak berputar dengan cepat. Terdengar pekikan
beruntun. Kedua pesilat itu rubuh mandi darah. Mati saat itu juga. Yang tadi
memegang tombak buntung itu, dadanya robek lebar. Yang memegang pedang
kepalanya seperti akan belah dua.
Sasaran itu kini bergenang darah dalam hujan rintik yang makin lebat.
“Nah, kalian sudah lihat. Bahwa silat kalian tak ada artinya jika
melawan Samurai. Karena itu jangan coba-coba membangkang perintah kami. Kini
kalian yang masih hidup ayo ikut kami kembali ke kampung. Tunjukkan di mana
teman-teman kalian yang lainnya. Termasuk Ayah monyet ini, . .”
Datuk Maruhun menatap pada si Bungsu yang disebut sebagai beruk oleh komandan
Jepang itu.
“Waang tidak hanya pantas disebut beruk buyung. Tapi waang memang seekor beruk
Ayah waang bersembunyi pada Jepang-Jepang ini?” Dia bertanya dengan penuh rasa
benci pada si Bungsu. Namun anak muda itu tetap diam. Berjalan dengan kepala
tunduk, mata sayu dan wajah murung. Kalau saja dia tak dibatasi oleh tiga orang
serdadu, mungkin dia telah mati ditikam oleh ketiga lelaki itu. Bahkan kalau
ayahnya ada di sana, mereka yakin bahwa Datuk Berbangsa yang akan membunuh
anaknya ini.
Sudah bisa dipastikan, bahwa untuk mendapatkan uang untuk berjudi, anak celaka
ini telah membuka rahasia tentang latihan yang diadakan di kampungnya pada
Jepang, berikut di mana latihan diadakan. Bisa diterima akal betapa berangnya
penduduk padanya.
Kabar tentang khianatnya si Bungsu segera menjalar seperti api dalam sekam di
kampung itu. Belum dua bulan yang lalu dia diberitakan dari mulut ke mulut
__ADS_1
perkara pertunangannya yang diputus pihak Reno, kini dia kembali diberitakan
dari mulut ke mulut soal khianatnya. Namun tak ada yang berani turun tangan
secara langsung. Di kampung itu kini ditempatkan lima orang serdadu Jepang.
Jepang-jepang itu tak berhasil menemukan Datuk Berbangsa dan teman-temannya.
Untuk itu mereka menempatkan lima orang serdadunya untuk menjaga dan menangkap
kalau-kalau Datuk itu muncul sewaktu-waktu. Sementara Datuk Maruhun serta kedua
temannya yang tertangkap di sasaran itu, dibawa ke Bukittinggi. Ditahan di
sana. Tapi ada yang mengatakan bahwa ketiga mereka telah dikirim ke Logas. Di
berbagai daerah perang melawan serdadu Jepang belum lagi mulai. Sebab Jepang
baru saja menggantikan kedudukan tentara Belanda.
Suatu malam terjadi kegemparan di kampung itu. Kelima serdadu Jepang yang
ditempatkan di surau mengaji, yang dijadikan pos darurat, subuh-subuh kedapatan
mati semua. Pada tubuh mereka ada bekas tikaman. Jelas tikaman keris. Lewat
subuh sedikit, hampir seratus serdadu Jepang mengepung kampung itu Ternyata
Datuk Maruhun dan kedua temannya lolos dari tahanan. Kabarnya bersama Datuk
Berbangsa dan beberapa pejuang lainnya mereka membunuh pula empat orang serdadu
Jepang di penjara. Lalu malam itu juga menyelusup ke kampung. Mereka membawa
anak dan isteri melarikan diri.
Ketika kampung itu dikepung Jepang, yang tinggal di sana hanya beberapa
keluarga saja. Umumnya perempuan yang suaminya telah tertangkap atau dikirim ke
Logas, atau bersembunyi. Empat lelaki yang tertangkap segera dibariskan di
depan surau di mana kelima serdadu Jepang itu mati malam tadi. Keempat lelaki
itu sebenarnya orang-orang biasa yang tak ada sangkut pautnya dengan kejadian
di kampung itu. Mereka hanya petani biasa. Malahan satu di antaranya adalah
seorang bisu dan tuli. Namun Jepang itu tak perduli.
__ADS_1