TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 69


__ADS_3

Tikam Samurai - 69


Kempetai ini tak melihat dengan jelas siapa lawannya. Namun


dia tahu, orang ini pastilah pesilat. Dan mereka sudah mengetahui, bahwa silat


di Minangkabau tak dapat dianggap enteng. Bedilnya sudah sejak tadi lepas.


Yaitu sejak mulutnya kena bogem mentah. Tapi kini dengan cepat kakinya melayang


kedepan. Mengirimkan sebuah tendangan karate bernama maei-geri yang telak.


Mei-mei melihat gerakan yang cepat itu. Dia menyilangkan kedua lengannya


kebawah, menanti tendangan itu. Sebuah tangkisan Silang Bawah yang ampuh dari


Silek Tuo dalam menangkis tendangan yang datang dari bawah. Tapi gadis ini


memang belum berpengalaman. Dia memang mahir bersilat, tapi baru kali ini


berkelahi langsung. Dan justru mempertaruhkan nyawa. Tangkisan silang bawah itu


sebenarnya memang ampuh untuk menangkis tendangan pesilat Minang yang umumnya


tak bersepatu. Tapi Kempetai ini memakai sepatu. Lagipula tangkisannya agak


teriambat. Tak ampun lagi, tulang tangannyalah yang kena tendang. Mei-mei


terpekik. Tangannya segera saja jadi bengkak. Dan Jepang itu segera menyadari


dari suaranya, bahwa lawannya ini adalah seorang perempuan.


“Onaaa …” serunya.


“Onaa ?” (perempuan) tanya kawan di belakangnya.


“Haik…” jawabnya.


Dengan jawaban begitu, Kempetai itu maju ingin memeluk Mei Mei. Ingin menangkap


dan meringkusnya hidup hidup, Namun disinilah kesalahan tentara Jepang itu.


Disini pula kebanyakan kesalahan setiap lelaki dalam menghadapi perempuan.


Selalu mendahului nafsu. Begitu dia mendekat, Mei-mei yang sudah bertekad untuk


membunuh atau dibunuh itu segera menghunus samurai pendek yang tadi dia ambil

__ADS_1


dari pinggang Kempetai yang mati dalam bilik.


Ketika tangan Kempetai ini terjulur, tangannya juga terulur….. crep samurai


tajam dan tipis itu masuk persis ke jantungnya. Kempetai itu terbelalak


menyeringai sakit. Suaranya seperti suara kerbau disembelih. Gadis itu tak mau


tanggung tanggung. Samurai itu dia renggutkan dengan kuat ke kanan. Merobek


dada Jepang itu selebar satujengkal. Lalu samurai itu dia cabut dengan cepat


dan dia tikamkan keleher Jepang itu Demikian cepat peristiwa itu. Demikian


lihai gadis ini menjadi pembunuh orang yang dia benci. Kehidupan keras yang


dialami selama tahun tahun yang hitam di Payakumbuh, membuat hatinya tak mudah


terguncang melihat kematian.


Umurnya masih sangat muda. Belum cukup delapan belas tahun. Tapi lihatlah,


Kempetai yang satu lagi benar benar tertegun melihat perkelahian itu. Tak


pernah dia sangka seorang wanita bisa berbuat begitu. Tapi dia sadar wanita ini


ke tengkuk Mei-mei. Mei Mei merasa ada gerakan angin di belakangnya. Dengan


cepat dia menjatuhkan diri. Kedua tangannya bertelekan di tanah. Namun tangan


kirinya terasa lumpuh. Kelumpuhan akibat tembakkan dan tendangan tadi. Dengan tangan


kanan bertelekan dia menghujamkan kakinya kebelakang. sebuah cuek belakang yang


telak. Jepang itu tersurut selangkah ketika kena hantam pahanya. Terasa sakit


kena hantam tumit gadis itu.


Kempetai ini memutar bedil, mengarahkan moncong bedil itu ke depan untuk


menembak, namun saat itu pula Mei-mei berputar sangat cepat. Tangan kanannya


yang memegang samurai terayun cepat pula. Samurai itu melesat dalam gelap dan


menancap persis di antara kedua mata si Kempetai. Begitu samurai pendek itu


lepas dari ujung ujung jarinya Mei-mei berguling lagi dengan cepat ke kanan.

__ADS_1


Bedil Jepang itu menyalak saat dia sudah dua kali dia bergulingan. Peluru bedil


itu menerpa tempat kosong, bersamaan rubuhnya tubuh Kempetai itu.


Mei-mei tersandar ke dinding rumah. Nafasnya memburu. Suasana sepi. Salak


anjing yang biasanya riuh di malam begini, kini pada terdiam mendengar suara


dua kali letusan itu. Mereka menyurutkan diri ke dalam semak atau ke bawah


rumah. Sebab sudah beberapa kali Jepang memburu anjing. Memburunya masuk kampung


keluar kampung. Menurut Jepang, anjing itu harus dibunuhi. Sebab dia memakan


makanan yang harusnya jadi makanan manusia. Tambahan lagi, yang paling parah,


anjing anjing itu sedang dijangkiti penyakit rabies.


Penyakit yang biasanya menulari anjing bila penduduk suatu negeri dilanda


kekurangan makanan. Dewasa itu pula, penduduk mana di Indonesia yang tak


kekurangan makanan di bawah Pemerintahan Rasisme Jepang ? Manusia dan anjing


memang saling berebutan makanan. Suatu tragedi sebenarnya. Tapi begitulah sejarah


mencatatnya. Penduduk Indonesia yang mengalami tahun tahun penderitaan di bawah


kuku Jepang itu, akan tetap mengingatnya sampai mati. Etek Ani dan si Upik yang


sejak tadi duduk berpelukan di ruangan tengah, yaitu sejak Mei-mei diseret


masuk bilik oleh Djun-i, kini menanti dengan tegang.


“Unii. Uni Uni Mei-mei…” si Upik memanggil di antara tangisnya.


Memanggil uninya yang tak kunjung keluar dan tak kunjung terdengar suaranya


dari dalam bilik yang tadi dimasuki dua orang Kempetai itu. Tak ada jawaban


dari dalam.


“Uni Mei Mei ..” si Upik mulai menangis. Dia berdiri menuju kepintu bilik.


“Uni … buka pintu uni ..”


Tak ada jawaban. Sepi…!

__ADS_1


__ADS_2