TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 88


__ADS_3

Tikam Samurai - 88


“Kenapa dia meninggal. . . ?” Fujiyama memotong.


“Ditembak dan diperkosa bergantian oleh…” Ucapan Imam itu berhenti, dia tak


berani melanjutkan bicaranya.


“Siapa yang menembak dan memperkosanya. Katakan, jangan takut. . . .”


“Kabarnya. . . .kabarnya anggota pasukan tuan yang datang ke rumah Datuk


Penghulu itu untuk menangkap Datuk itu. Tapi yang mereka temui hanyalah isteri


Datuk itu, si Upik anaknya dan Mei-mei. . ..”


“Siapa itu Mei-mei . . . ?”


“Gadis yang akan menikah dengan si Bungsu itu. . .”


“Namanya seperti nama cina. ..”


“Benar. Dia memang anak cina. Tapi dia telah masuk Islam. Hidupnya penuh


penderitaan. Dia ditolong oleh si Bungsu dan diakui anak oleh Datuk Penghulu….”


Fujiyama mengangguk-angguk. “Teruskan ceritamu pak Imam. . ..”


“Setelah Mei-mei meninggal, saya diminta Datuk mencari orang untuk


menguburkannya. Tapi di rumah saya, telah menanti enam orang serdadu tuan. Saya


disiksa untuk mengatakan dimana kedua orang itu bersembunyi. Ketika saya tak


mau mengatakan, anak saya akan diperkosa. Akhirnya saya katakan juga bahwa


kedua orang itu bersembunyi di loteng surau. Saya katakan setelah Letnan itu


berjanji takkan mengganggu anak dan isteri saya. Tapi begitu anak buahnya pergi


ke surau itu, dia menendang saya hingga rubuh kemudian menyeret anak saya ke


kamar. Dan . . .saya tak tahu lagi sampai si Bungsu dan Datuk itu membunuh


mereka semua. . . .”


Komandan tertinggi balatentara Jepang itu menjadi merah mukanya. Dia memanggil

__ADS_1


komandan Intelejen. Kemudian memerintahkan untuk membebaskan Imam anak beranak.


Diiringi dengan perintah untuk jangan mengganggu Imam itu. Dan dengan marah


pula dia memerintahkan untuk menangkap komandan Kempetai


kota itu. Komandan Kempetai itu berpangkat syo sha (Mayor) bernama Akiwara.


“Telah saya katakan bahwa engkau harus mengawasi dengan ketat tingkah laku


tentara Jepang yang ada di kota ini. Tentara tidak untuk ditakuti rakyat.


Tentara harus dihormati dan disegani. Dan rakyat tak akan menyegani dan


menghormati tentara kalau tentara itu sendiri kelakuannya tidak terhormat. Saya


sudah mendapat laporan tentang banyak perbuatan jahanam yang dilakukan oleh


tentara dalam wilayah Garnizun yang engkau bawahi. Bahkan Kempetai sendiri yang


seharusnya menjaga disiplin itu, berkelakuan demikian pula. Dan saya mendengar


pula tentang banyaknya korban jatuh dipihak tentara Jepang karena tak mampu


menangkap hanya dua orang penduduk pribumi. Untuk itu semua, engkau saya


dari Padang Panjang”


Tak ada kata yang bisa di ucapkan oleh Syo Sha Akiwara mendengar putusan


komandan tertingginya itu. Dia hanya tegak dengan sikap sempurna. Kemudian di


akhir perintah komandannya itu dia membungkuk dan berseru “Haik”. Namun


akhirnya, Mayor Jenderal Fujiyama itu tersingkir juga dari jabatannya sebagai


komandan Tertinggi Balatentara Kekaisaran Jepang di Sumatera.


Disiplin dan Hati Bersih dalam ketentaraan yang dia anut, yaitu sikap yang dia


terima tatkala mula pertama balatentara Kekaisaran Tenno Heika didirikan,


bersumber pada ajaran-ajaran Budha, dianggap tak cocok untuk tentara


pendudukan. Tak cocok bagi kebanyakan perwira-perwira bawahannya.


Memang ada beberapa perwira tinggi yang sependapat dengan dia. Tetapi

__ADS_1


sebagaimana jamaknya dalam tubuh ketentaraan, perwira-perwira senior selalu


dianggap makin lama makin tak mengikuti jaman. Tak mengikuti perkembangan dan


tak sesuai lagi untuk hal-hal yang praktis. Dengan segala cara mereka


disingkirkan. Dengan halus maupun kasar. Itulah yang dialami olehJenderal


Fujiyama. Namun satu hal yang pasti, dia dianggap sebagai prototip tentara


sejati. Yang melandaskan setiap tindakan pada sikap satria.


Si Bungsu dan Datuk Penghulu lenyap tak berbekas. Meski Komandan Kempetai untuk


Garnizun Bukittinggi ditahan dan dicopot, namun Fujiyama tetap memerintahkan


untuk mencari dan menangkap kedua orang pelarian itu. Mata-mata disebar. Tidak


hanya mata-mata dari kalangan militer Jepang. juga mata-mata dari kalangan


pribumi yang bersedia bekerja untuk fasis tersebut. Perintah itu telah membuat


penjagaan diperketat dimana-mana. Dan itu menyebabkan beberapa rencana yang


telah disusun oleh para pejuang bawah tanah Indonesia jadi berobah. Dirobah


sebab kewaspadaan yang sangat ditingkatkan oleh Jepang.


Hal ini membuat beberapa pemimpin perjuangan bawah tanah Indonesia menjadi


tidak senang. Datuk Penghulu dan si Bungsu dipanggil ke sebuah markas yang


tersembunyi di Birugo, mereka seperti diadili. Datuk Penghulu duduk


bersebelahan dengan si Bungsu. Sementara di depan mereka, duduk enam orang


lelaki. Di luar, di tempat yang tak kelihatan tak kurang setengah lusin lelaki


saling berjaga-jaga terhadap sergapan serdadu Jepang. sebab yang ada di dalam


rumah itu beberapa orang diantaranya adalah pucuk pimpinan pergerakan


kemerdekaan Indonesia di sumatera Barat.


“Datuk sengaja kami panggil beserta si Bungsu. . . .” yang duduk di tengah


memakai baju putih mulai bicara. Datuk Penghulu hanya diam.

__ADS_1


__ADS_2