
Tikam Samurai - 22
Azan! Ya, dia segera ingat pada azan. Bukankah ayahnya
yang taat beragama itu pernah bercerita, bahwa banyak ilmu-ilmu hitam yang bisa
dipunahkan dengan suara azan? Azan di subuh hari, azan di senja hari yaitu
setiap subuh dan maghrib, selain bermaksud memanggil orang sembahyang, juga
punya makna mengusir segala roh jahat dan pengaruh ilmu siluman yang coba
mempengaruhi kehidupan manusia. Menurut ayahnya azan di subuh hari bermakna
juga mengusir pengaruh setan yang menyelusup di waktu tidur lewat tengah malam.
Azan di waktu Maghrib mempunyai makna mengusir roh-roh jahat untuk tak terbawa
tidur.
Itu menurut cerita ayahnya sewaktu dia masih kecil. Apakah hal itu benar?
Apakah azan mampu memunahkan ilmu kebal makhluk siluman ini? Dia harus
mencobanya. Harus! Mustahil ayahnya bercerita sewaktu mereka kecil dulu hal-hal
yang tak bermanfaat. Ayahnya bukan jenis orang yang mau menakut-nakuti anaknya
dengan cerita-cerita seperti itu. Kini dia meletakkan sarung samurainya.
Memegang samurai itu dengan tangan kanannya. Meletakkan telapak tangan kiri di
telinga kiri. Dia memusatkan konsentrasi. Kemudian memejamkan mata.
Keselamatannya kini sepenuhnya digantungkan pada pendengarannya. Begitu matanya
terpejam, dia membaca Bismillah. Kemudian mulai melafaskan bait-bait azan.
”Allahuakbar – Allahuakbar”.
Suara bergema mengoyak kesunyian belantara. Dia dengar Cindaku itu tersurut
selangkah.
”Allahuakbar – Allahuakbar”.
Cindaku itu melangkah ke kanan tiga langkah. Kemudian selangkah lagi.
__ADS_1
”Ashadualaaa-ila haillallaaah!”
Cindaku itu meyerang dengan sebuah dengusan panjang. Sambil tetap melafaskan
kalimah Ashadualaaa-ila haillallaaah itu sekali lagi, samurainya bergerak
secepat kilat. Dua kali sabetan cepat. Dia yakin sabetan samurainya mengena.
Namun dia tetap memejamkan mata. Membaca terus lafas azan itu.
“Ashaduanna Muhammadarasulullah…!”
Tiga langkah di belakangnya Cindaku itu terdengar mendengus. Ketika dia
mengulangi kalimah itu sekali lagi, Cindaku itu kembali menyerang dengan sebuah
lompatan dan terkaman yang tak tanggung-tanggung. Dia berguling di lantai. Kemudian
sambil mempergunakan gerak tupai bergelut, samurainya menghantam ke atas. Sret!
Sret! Sret! Tiga sabetan berlainan arah. Kena!
Cindaku itu terhenti. Si Bungsu tetap tegak sambil memejamkan mata. Memusatkan
konsentrasi dan membaca terus lafas azan itu. Dia seperti mendapatkan tenaga
membaca kalimah ”Hayaalasholah” dia mendengar benda jatuh. Dia membuka mata.
Dan Cindaku itu tengah berlutut di batu, mendekap dadanya. Dalam temeram cahaya
dia lihat darah hitam kental mengalir dari sela tangan Cindaku itu.
”Allahuakbar. Maha Besar Engkau ya Allah…” dia berkata perlahan.
Tak terasa air mata merembes di pipinya. Dia selamat setelah mengingat
ajaran-ajaran yang pernah diberikan ayahnya dahulu. Ya, dia berkali-kali tak
mau tidur di rumah, karena kala dia tidur di rumah, subuh-subuh buta sudah
dibangunkan ayahnya. Disuruh azan. Dan dipaksa sembahyang. Alangkah bencinya
dia. Alangkah muaknya dia atas suruhan itu. Dia ingin bangun tengah hari.
Bahkan ingin bangun sore, sebab sepanjang malam dia berjudi.
Sewaktu kecil dia memang mengerjakan suruhan itu. Tapi setelah agak dewasa, dia
__ADS_1
lebih senang tidur di rumah temannya. Kini, ternyata ajaran ayahnya itu telah
menyelamatkan nyawanya. Dia menangis. Benar-benar menangis. Si Bungsu yang
dahulu ketika ayah, ibu dan kakaknya mati tak tahu bagaimana caranya menangis,
malam ini menangis di tengah rimba di Gunung Sago. Dia menangis karena menyesal
telah membangkang perintah ayahnya. Dia menangis karena rindu pada orang tua
yang keras dan angkuh itu. Sikap ayahnya adalah gambaran dirinya sendiri.
”Terima kasih Allah. Engkau selamatkan aku dengan ayat-ayatMu. Terima kasih
ayah. Engkau selamatkan aku dengan ajaranmu yang pernah aku ingkari. Terima
kasih. Aku yakin Tuhan akan menempatkan engkau di tempat yang bahagia….” dia
berbisik di antara air matanya yang mengalir turun.
Dan tiga depa di depannya, Cindaku itu jatuh terguling. Ada keluhan panjang
keluar dari mulutnya. Ada lenguhan sakit dan penderitaan yang amat sangat
terdengar. Tubuhnya terlonjak-lonjak seperti ayam tak sempurna dipotong. Ajal
seperti mempermainkannya. Menyakiti seluruh pembuluh darah dan setiap bulu di
tubuhnya. Mungkin sebagai pembalasan atas segala laknat yang telah dia
sebar semasa hidupnya.
Si Bungsu jadi hiba melihat penderitaan makhluk itu. Dia melangkah ke dekatnya.
Sinar mata jadi-jadian yang tadi merah menyala, kini menatapnya minta
dikasihani. Sinar mata itu seperti minta pertolongan. Lenguhnya menghiba
seperti meminta agar nyawanya cepat diambil.
”Maafkan saya…” si Bungsu berkata.
Dan samurai di tangannya berkelebat. Cres! Cres! Dua kali sabetan cepat dan
kuat. Membuat dada kiri jadi-jadian itu robek besar. Membuat lehernya hampir
putus.
__ADS_1