TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 22


__ADS_3

Tikam Samurai - 22


Azan! Ya, dia segera ingat  pada azan. Bukankah ayahnya


yang taat beragama itu pernah bercerita, bahwa banyak ilmu-ilmu hitam yang bisa


dipunahkan dengan suara azan? Azan di subuh hari, azan di senja hari yaitu


setiap subuh dan maghrib, selain bermaksud memanggil orang sembahyang, juga


punya makna mengusir segala roh jahat dan pengaruh ilmu siluman yang coba


mempengaruhi kehidupan manusia. Menurut ayahnya azan di subuh hari bermakna


juga mengusir pengaruh setan yang menyelusup di waktu tidur lewat tengah malam.


Azan di waktu Maghrib mempunyai makna mengusir roh-roh jahat untuk tak terbawa


tidur.


Itu menurut cerita ayahnya sewaktu dia masih kecil. Apakah hal itu benar?


Apakah azan mampu memunahkan ilmu kebal makhluk siluman ini? Dia harus


mencobanya. Harus! Mustahil ayahnya bercerita sewaktu mereka kecil dulu hal-hal


yang tak bermanfaat. Ayahnya bukan jenis orang yang mau menakut-nakuti anaknya


dengan cerita-cerita seperti itu. Kini dia meletakkan sarung samurainya.


Memegang samurai itu dengan tangan kanannya. Meletakkan telapak tangan kiri di


telinga kiri. Dia memusatkan konsentrasi. Kemudian memejamkan mata.


Keselamatannya kini sepenuhnya digantungkan pada pendengarannya. Begitu matanya


terpejam, dia membaca Bismillah. Kemudian mulai melafaskan bait-bait azan.


”Allahuakbar – Allahuakbar”.


Suara bergema mengoyak kesunyian belantara. Dia dengar Cindaku itu tersurut


selangkah.


”Allahuakbar – Allahuakbar”.


Cindaku itu melangkah ke kanan tiga langkah. Kemudian selangkah lagi.

__ADS_1


”Ashadualaaa-ila haillallaaah!”


Cindaku itu meyerang dengan sebuah dengusan panjang. Sambil tetap melafaskan


kalimah  Ashadualaaa-ila haillallaaah itu sekali lagi, samurainya bergerak


secepat kilat. Dua kali sabetan cepat. Dia yakin sabetan samurainya mengena.


Namun dia tetap memejamkan mata. Membaca terus lafas azan itu.


“Ashaduanna Muhammadarasulullah…!”


Tiga langkah di belakangnya Cindaku itu terdengar mendengus. Ketika dia


mengulangi kalimah itu sekali lagi, Cindaku itu kembali menyerang dengan sebuah


lompatan dan terkaman yang tak tanggung-tanggung. Dia berguling di lantai. Kemudian


sambil mempergunakan gerak tupai bergelut, samurainya menghantam ke atas. Sret!


Sret! Sret! Tiga sabetan berlainan arah. Kena!


Cindaku itu terhenti. Si Bungsu tetap tegak sambil memejamkan mata. Memusatkan


konsentrasi dan membaca terus lafas azan itu. Dia seperti mendapatkan tenaga


membaca kalimah ”Hayaalasholah” dia mendengar benda jatuh. Dia membuka mata.


Dan Cindaku itu tengah berlutut di batu, mendekap dadanya. Dalam temeram cahaya


dia lihat darah hitam kental mengalir dari sela tangan Cindaku itu.


”Allahuakbar. Maha Besar Engkau ya Allah…” dia berkata perlahan.


Tak terasa air mata merembes di pipinya. Dia selamat setelah mengingat


ajaran-ajaran yang pernah diberikan ayahnya dahulu. Ya, dia berkali-kali tak


mau tidur di rumah, karena kala dia tidur di rumah, subuh-subuh buta sudah


dibangunkan ayahnya. Disuruh azan. Dan dipaksa sembahyang. Alangkah bencinya


dia. Alangkah muaknya dia atas suruhan itu. Dia ingin bangun tengah hari.


Bahkan ingin bangun sore, sebab sepanjang malam dia berjudi.


Sewaktu kecil dia memang mengerjakan suruhan itu. Tapi setelah agak dewasa, dia

__ADS_1


lebih senang tidur di rumah temannya. Kini, ternyata ajaran ayahnya itu telah


menyelamatkan nyawanya. Dia menangis. Benar-benar menangis. Si Bungsu yang


dahulu ketika ayah, ibu dan kakaknya mati tak tahu bagaimana caranya menangis,


malam ini menangis di tengah rimba di Gunung Sago. Dia menangis karena menyesal


telah membangkang perintah ayahnya. Dia menangis karena rindu pada orang tua


yang keras dan angkuh itu. Sikap ayahnya adalah gambaran dirinya sendiri.


”Terima kasih Allah. Engkau selamatkan aku dengan ayat-ayatMu. Terima kasih


ayah. Engkau selamatkan aku dengan ajaranmu yang pernah aku ingkari. Terima


kasih. Aku yakin Tuhan akan menempatkan engkau di tempat yang bahagia….” dia


berbisik di antara air matanya yang mengalir turun.


Dan tiga depa di depannya, Cindaku itu jatuh terguling. Ada keluhan panjang


keluar dari mulutnya. Ada lenguhan sakit dan penderitaan yang amat sangat


terdengar. Tubuhnya terlonjak-lonjak seperti ayam tak sempurna dipotong. Ajal


seperti mempermainkannya. Menyakiti seluruh pembuluh darah dan setiap bulu di


tubuhnya. Mungkin sebagai pembalasan atas segala laknat  yang telah dia


sebar semasa hidupnya.


Si Bungsu jadi hiba melihat penderitaan makhluk itu. Dia melangkah ke dekatnya.


Sinar mata jadi-jadian yang tadi merah menyala, kini menatapnya minta


dikasihani. Sinar mata itu seperti minta pertolongan. Lenguhnya menghiba


seperti meminta agar nyawanya cepat diambil.


”Maafkan saya…” si Bungsu berkata.


Dan samurai di tangannya berkelebat. Cres! Cres! Dua kali sabetan cepat dan


kuat. Membuat dada kiri jadi-jadian itu robek besar. Membuat lehernya hampir


putus.

__ADS_1


__ADS_2