
Tikam Samurai - 53
“Terima kasih nona, nona telah menyelamatkan nyawaku. Apakah
Jepang itu sudah pergi ?”
“Sudah. Tapi rumah ini tetap mereka awasi. Rumah ini sudah ditutup untuk tempat
pelacuran. He,.. engkau tentu lapar. Sudah dua hari kau berada dalam lubang
ini”
“.. Dua hari …?”
“Ya. Engkau masuk kemari tengah malam yang lalu. Kini hari kedua hampir sore,
saya membawa makanan dengan gulai ikan, sambal la do dan petai. Suka sambal
lado dan petai?”
Si Bungsu tak banyak bicara. Dia makan dengan lahap. Gadis itu ternyata juga
belum makan. Mereka makan bersama.
“Engkau yang memasak makanan ini?” dia bertanya setelah selesai makan dengan
bertambah sampai tiga kali.
“Bagaimana, enak ?”
“Hampir menyamai masakan ibuku …”
“Yang memasak etek Munah, pembantu kami …”
Si Bungsu kemudian teringat, bahwa dia harus segera pergi dari rumah ini.
Tubuhnya meski belum segar, tapi dia rasa sudah kuat untuk melanjutkan
perjalanan.
“Siapa namamu ..?”
“Mei-mei…”
“Mei mei ?”
“Ya, dan namamu ?”
__ADS_1
“Bungsu …”
“Bungsu ? Engkau anak terkecil dalam keluargamu ?”
“Ya. Mei-mei.. Terima kasih atas bantuanmu. Saya tak bisa membalasnya. Saya
harus pergi sekarang.”
“Kemana engkau akan pergi?” Si Bungsu termenung.
Ya, kemana dia akan pergi ? Tak pernah ada tempat yang pasti dia tuju dalam set
iap perjalananya. Tapi, bukankah dia mencari Saburo ? ingatan ini membuatnya
ingin menanyakan pada Mei-mei. Bukankah tempat ini tempat perjudian dan tempat
bersenang senang para perwira ?
“Saya mencari seorang perwira Jepang bernama Saburo. Apakah engkau mengenalinya
Mei-mei ?”
“Saburo….., Saburo Matsuyama ?”
“Ya. Saburo Matsuyama Apakah engkau mengenalnya?”
“Di mana dia sekarang ?”
“Seingat saya sudah cukup lama dia tak kemari. Kabarnya dia pindah ke
Batusangkar…”
“Batusangkar…?”
“Ya …engkau akan ke sana, membalas dendammu padanya ?”
“Ya. Darimana kau tahu Mei-mei ?”
“Saya melihat seluruh perkelahianmu dengan Jepang dan dengan Bapak dua hari
yang lalu juga mendengar semua pembicaraan saat itu…”
“Bapak ?” Si Bungsu heran mendengar kata Bapak yang diucapkan Mei-mei.
“Ya. Babah gemuk itu adalah ayah tiriku …”
Si Bungsu sampai tertegak mendengar pengakuan Mei-mei. Hampir hampir tak dapat
__ADS_1
dia percayai, bahwa si Babah yang telah dia cencang itu adalah ayah tiri gadis
ini. Bukankah dia melihat bahwa dia telah mencencang si Babah itu ? Lantas
kenapa gadis ini menolongnya dari cengkeraman Jepang? Mei-mei menatapnya.
“Ayahmu ..?”
Si Bungsu bertanya perlahan “Duduklah Bungsu. Dia ayah tiriku. Aku melihat
engkau mencencang tubuhnya seperti di rumah bantai. Tapi engkau tak perlu
menyesal. Dia memang harus mendapat perlakuan yang demikian. Atas apa yang dia
perbuat pada bangsamu dan pada diriku ..”
si Bungsu tak mengerti apa maksud ucapan Mei-mei.
“Dia menjadi mata mata Belanda. Menjadi mata mata Jepang. Dan lebih daripada
itu dia adalah seorang Komunis ..”
“Komunis ..?” si Bungsu tak mengerti.
Sebagai anak desa yang memang lugu dia tak pernah mendengar nama komunis. Nama
itu teramat asing bagi telinga anak desa Situjuh Ladang Laweh di pinggang
Gunung Sago ini.
“Ya, komunis. Engkau tak tahu ..?” Gadis itu lalu bangkit. “Ikutlah saya ..”
Si Bungsu mengikuti gadis itu, yang membawa lampu dinding dan berjalan ke
sebuah gang. Lobang di bawah tanah ini nampaknya cukup besar. Mereka sampai ke
sebuah kamar lain yang lebih besar dari kamar pertama. Di dalam kamar itu
dindingnya dilapis kain merah. Di tengah, di depan sebuah meja, ada sebuah
gambar cina dalam ukuran besar. Di bawahnya ada bendera merah dengan sebuah
gambar kuning di tengahnya.
“Itu gambar pimpinan komunis cina. Mao TseTung. Dan bendera dengan gambar palu
arit itu adalah lambang komunis …” Mei-mei menjelaskan.
__ADS_1