TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 9


__ADS_3

Seorang Kapten yang memimpin pengepungan itu, bernama Saburo


Matsuyama, tampil ke depan. Wajahnya kelihatan angkuh sekali. Bibirnya tertarik


ke bawah dengan garis-garis wajah yang keras dan kuat. Semua penduduk


dikumpulkan. Tua muda lelaki dan perempuan. Saburo lalu berpidato dalam bahasa


Indonesia yang lebih banyak tak dimengerti orang kampung itu.


“Ini sebuah contoh dan peringatan bagi orang-orang yang coba melawan


balatentara Kaisar dari Negeri Matahari Terbit. Jika setelah ini ada seorang


serdadu Jepang mati oleh penduduk pribumi, maka akan dibalas dengan membunuh


tiga orang penduduk pribumi. Jika tak ada lelaki, maka perempuan yang akan


dibunuh. Jika tak ada, anak-anak kami jadikan gantinya. Ingat itu baik-baik.


Kalau di antara kalian ada yang mata-mata, sampaikan ucapan saya ini pada orang


orang yang menyusun kekuatan untuk melawan kami, yang kini bersembunyi entah di


mana. . .”


Keempat lelaki itu disuruh berjongkok. Perempuan dan anak-anak mulai


bertangisan. Dan dengan suatu komando, empat orang serdadu Jepang segera


berdiri di belakang keempat lelaki itu. Di tangan keempat serdadu itu


tergenggam sebuah Samurai. Sebuah komando dalam bahasa Jepang terdengar


bergema. Dan dalam sekejap, keempat kepala lelaki itu terpisah dari tubuhnya.


Beberapa perempuan jatuh terjerembab ke tanah menyaksikan kebuasan ini.


Beberapa anak-anak memekik-mekik.


Tiba-tiba seorang serdadu datang berlari dan berbisik ke telinga Kapten Saburo.


Kapten itu tertegak dan melihat ke Utara. Dia lalu memerintahkan penduduk bubar


dan memberi aba-aba pada pasukannya. Sekitar tiga puluh serdadu segera


berhamburan ke Utara. Dalam sekejap mereka kini telah mengepung sebuah rumah.

__ADS_1


Rumah itu adalah sebuah rumah adat yang besar, rumah si Bungsu! Saburo segera


tampil ke halaman rumah yang telah dikepung ketat itu. Dia menghadap ke atas


anjungan.


“Kalian telah terkepung. Keluarlah!. Kalau kalian tak keluar dalam lima menit,


saya akan membakar rumah ini. . !!” seru Komandan tentara Jepang itu.


Beberapa penduduk memberanikan diri melihat kejadian itu dari kejauhan. Mereka


tidak mengerti siapa yang disuruh keluar oleh Jepang itu. Sebab setahu mereka


Datuk Berbangsa sudah lari subuh tadi bersama anak isterinya. Sementara itu, si


Bungsu yang tadi tegak di antara penduduk, kini menyeruak ke depan di antara


barisan penduduk yang melihat dari kejauhan itu.


Wajahnya yang biasa murung kini jadi pucat. Dia menatap ke rumahnya dengan


tegang. Dan benar, tak lama kemudian kelihatan ayahnya, Datuk Berbangsa, muncul


di pintu! Menyusul ibu dan kakaknya.Melihat ayah, ibu dan kakaknya itu, si


Bungsu berlari ke depan.


Tapi seorang serdadu Jepang menghantamnya. Dia tersungkur di tanah. Ayah, Ibu


dan kakaknya tertegun. Mereka mamandang padanya dengan tatapan tak berkedip.


Ada jarak dua puluh depa antara dia tertelungkup dengan ayah dan ibu serta


kakaknya. Namun dia serasa dapat merasakan panasnya tatapan mata keluarganya.


Terutama sekali tatapan ayahnya.


“Engkau memang dilahirkan untuk menjadi dajal, buyung.  Saya menyesal


mempunyai anak seperti engkau! Kau jual negeri ini berikut penduduknya pada


Jepang semata-mata untuk mendapatkan uang agar kau bisa berjudi. Mengapa tak


sekalian kini kau ambil kepala kami dan kau jual?” suara ayahnya terdengar


bergema tajam.

__ADS_1


Si Bungsu tertegak kaku. Bulu tengkuknya merinding mendengar ucapan ayahnya


itu. Mulutnya bergerak ingin bicara. Namun tak satupun suara yang keluar dari


mulutnya. Dia menatap ayahnya. Menatap ibunya. Menatap kakaknya. Akhirnya dia


menatap pada ibunya. Perempuan itu tegak dengan gagah. Menatap padanya dengan


kepala tegak.


“Bungsu, barangkali banyak dosamu. Tapi Ibu tak menyesal melahirkanmu.. . Nak!”


Si Bungsu merasakan dirinya tiba-tiba jadi luluh. Dia seperti dapat melihat air


mata ibunya meleleh. Demikian juga air mata kakaknya. Dirinya tiba-tiba jadi


kecil di hadapan keluarganya yang gagah perkasa ini. Dan tiba-tiba dia jatuh


berlutut. Saat itu Datuk Berbangsa bersuara, ucapannya ditujukan kepada Kapten


Saburo.


“Saya bersedia ditangkap. Tapi isteri dan anak saya, harap dibebaskan. . .”


“Heh, setelah kau bunuh sembilan orang serdadu kami, kau minta keluargamu


dibebaskan he? Bagero!”


“Kalau tak ada jaminan itu, saya takkan menyerah!” Datuk Berbangsa berkata


dengan suara yang pasti.


Saburo mengagumi sikap jantan lelaki itu. Namun dia tertawa terbahak.


“He…he….ha! Apa yang kau banggakan, sehingga kau berani mengatakan bahwa kau


bisa tak menyerah Datuk”.


“Saya akan berkelahi sampai mati!”


“Siapa yang kau sangka bersedia mati konyol bersamamu?”


“Jangan lupa, Anda seorang Samurai. Saya tahu, seorang Samurai sejati takkan


menampik tantangan berkelahi dari orang lain!”


Saburo terdiam. Matanya menatap tajam pada Datuk itu.

__ADS_1


“Atau barangkali serdadu Jepang yang datang kemari adalah Samurai-samurai


pengecut yang mengabaikan sikap satria sebagaimana layaknya Samurai sejati?”


__ADS_2