TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 49


__ADS_3

Tikam Samurai - 49


Pimpinan tentara Jepang di Payakumbuh Mayor Sin Ici Eraito


mengumpulkan semua perempuan yang ada di rumah itu, termasuk semua serdadu yang


menggerebek rumah tersebut. Kepada mereka diperintahkan untuk tetap tutup


mulut. Tak seorangpun boleh membicarakan hal ini. Juga diperintahkan, agar set


iap kematian tentara Jepang dalam serangan atau perkelahian dengan penduduk


pribumi, harus dipeti-eskan. Jangan sampai menjalar ke luar. Sebab kalau berita


itu bocor ke luar maka ada dua hal yang membahayakan kedudukan tentara Jepang.


Pertama, penduduk pribumi yaitu bangsa Indonesia yang sudah berniat melawan


Jepang, akan bertambah semangatnya. Sebab ternyata ada orang yang mampu


membunuh tentara Jepang yang ditakuti itu. Dan hal ini bisa mempercepat


timbulnya pemberontakan anti Jepang di Minangkabau. Kedua adalah soal prestise.


Tentara Jepang sudah tentu akan malu jika tersiar kabar bahwa tentara kaisar


Tenno Heika dari negeri Matahari Terbit yang kesohor itu mati di tangan


penduduk pribumi. Apalagi jika pecah kabar, bahwa tentara Jepang itu justru


mati oleh sebuah Samurai. Tak terbayangkan geger yang akan timbul.


Sebagai komandan tertinggi yang membawahi Payakumbuh dan sekitarnya, Mayor


Eraito tidak mau mengambil resiko d ihukum oleh Kolonel Fujiyama karena


kematian perwira-perwiranya secara beruntun ini. Dia berusaha menutupi kejadian


ini untuk tak bocor keatas. Sebab saat itu hukuman yang terkenal diantara


perwira Jepang itu adalah hukuman Harakiri. Setiap perwira atau serdadu yang


dinilai gagal total, kepadanya diberi ”kehormatan” untuk bunuh diri. Dia tak


menginginkan hal itu terjadi. Itulah sebabnya dia memerintahkan untuk menutup

__ADS_1


berita pembantaian itu serapat mungkin.


Para tentara serta perempuan yang diperintahkan untuk tutup mulut itu memang


melaksanakan tugas mereka dengan baik. Sebab bila membocorkan rahasia, mereka


akan berhadapan dengan regu tembak. Mereka tahu, setiap orang yang ada di


sekeliling mereka bisa saja menjelma jadi mata-mata Kempetai. Mereka tak dapat


mempercayai seorangpun. Baik orang Cina maupun orang Melayu. Mereka bisa saja


jadi mata-mata Jepang. Babah gemuk itu dan Baribeh serta si Juling menjadi


contoh jelas tentang itu. Betapa Cina dan anak Minang sendiri rela menjadi mata-mata


bagi penjajah negerinya.


Buat sementara, si Bungsu aman. Sekurang-kurangnya tak begitu banyak tentara


Jepang yang mengetahui, bahwa saat ini ada seorang anak Minang yang berkeliaran


dengan samurai maut di tangannya. Yang telah membantai puluhan orang tentara


Jepang dalam tahun ini. Namun perbuatan Mayor Sin Ichi Eraito, komandan tentara


Kolonel Fujiyama di Bukittinggi, yaitu Komandan Tertinggi Balatentara Jepang di


Sumatera hanya bertahan beberapa bulan.


Terbongkarnya kematian itu bermula dari surat-surat tugas dari Markas Besar


Tentara Jepang di Bukittinggi. Ada beberapa perwira yang ditarik ke Bukittinggi


dari Payakumbuh. Nah diantara yang ditarik itu ada yang mati di tangan si


Bungsu. Semula masih akan ditutupi dengan menyebutkan bahwa perwira itu sakit


keras, dan tengah dirawat. Beberapa hari kemudian dilaporkan perwira itu mati


karena penyakitnya.


Ya. Untuk sementara peristiwa itu tak tercium. Tapi kemudian ada lagi perintah


untuk kenaikan pangkat bagi dua orang perwira. Dan kedua perwira itu diharuskan

__ADS_1


melapor ke Markas Besar di Bukittinggi. Kembali Eraito memberi jawaban bahwa


kedua perwira itu sakit. Kecurigaan mulai timbul di Markas Besar. Eraito


meminta waktu agak sepekan untuk merawat perwira itu, kemudian mengirimkannya


untuk upacara kenaikan pangkat di Bukittinggi.


Eraito berharap, waktu seminggu itu cukup baginya untuk alasan bahwa kedua


perwira itu mati dalam perawatan. Dan kematiannya karena minum racun sebelum


masuk rumah sakit. Penguburan seperti biasa bisa dilakukan sendiri tanpa


dihadiri Kolonel Fujiyama. Sebab sudah biasa kematian amat banyak dalam


pertempuran seperti tahun-tahun dalam amukan perang dunia ke II ini. Begitulah


harapan Eraito. Kolonel Fujiyama belum mencium siasat ini. Namun Perwira


Intelijen bawahan Fujiyama mencium sesuatu yang tak beres dalam laporan Eraito.


Perwira Intelijen itu adalah Chu Sha (Letnan Kolonel) Fugirawa. Diam-diam Chu


Sha ini mengirim dua orang Intelijennya ke Payakumbuh dihari d iterimanya


laporan Eraito.


Kedua mata-mata itu langsung menuju rumah sakit. Memeriksa daftar pasien.


Mereka tak menemui nama kedua perwira itu di sana. Mereka kemudian memeriksa


markas dan daftar nama pada pos-pos komando di seluruh Luhak 50 Kota. Ternyata


nama kedua perwira itu, dan beberapa nama lainnya, termasuk prajurit-prajurit


Kempetai beberapa orang, telah lenyap. Kedua Intelijen ini menghentikan


penyelidikannya. Langsung ke Bukittinggi dan melapor pada Chu Sha Fugirawa.


Letnan Kolonel Kepala Intelijen ini memberi laporan dan analisa staf pada


Fujiyama. Fujiyama segera pula mencium sesuatu yang tak beres dalam laporan


Eraito. Dia menulis surat pada Eraito, agar segera datang melapor ke Markas

__ADS_1


Besar. Dia harus datang bersama kedua perwira yang dia laporkan sakit. Bila


keduanya sudah mati, maka dia harus datang bersama mayatnya.


__ADS_2