
Tikam Samurai - 45
Demi Tuhan, akan dia cincang semua lelaki yang ada dalam
ruangan ini. Terutama Cina gemuk seperti **** ini. Namun Babah itu memang orang
sadis. Di tangannya tiba-tiba telah berada pula sebuah bijih dadu. Meletakkan
dadu itu kembali di antara ibu jari dan telunjuknya. Dadu itu siap lagi unt uk
dia sentilkan pada si Bungsu.
”Dadu ini bisa menembus jantungmu. Engkau mati. Atau bisa menembus matamu.
Engkau buta. Maka sebelum salah satu di antara kemungkinan itu terjadi,
bicaralah yang benar. Tak peduli ada bayonet atau tidak di lehermu!”
Benar-benar sadis. Mau tak mau si Bungsu memang harus buka mulut.
”Saya ingin menuntut balas kematian keluarga saya ..” katanya perlahan.
”Dengan apa akan kau tuntut? Dengan menembaknya? Atau dengan menyerang rumahnya
bersama gerombolan Indonesia? Hmm ..? Katakan bagaimana caranya!!”
”Dengan cara saya sendiri ..”
”Bagaimana caramu!”
Si Bungsu terdiam. Babah gemuk itu bangkit. Kemudian mendekatinya.
”Katakan bagaimana caramu ..!” desis Babah itu.
Perwira-perwira Jepang yang lain menatap dengan diam. Si Bungsu jadi sadar,
Cina ini nampaknya adalah salah seorang Perwira Intelijen Jepang, karena
kelihatan sekali dia disegani perwira-perwira itu. Hanya saja jabatannya itu
dia rangkap sebagai penjudi dan pengusaha rumah lacur. Demikian tak bermoralnya
dia, sehingga demi pangkat dan karirnya di mata Jepang, dia rela mengorbankan
anak gadisnya untuk memuaskan nafsu perwira-perwira Jepang tersebut. Karena si
Bungsu masih tetap diam, Babah itu menjitak kepalanya. Terdengar suara berdetak
__ADS_1
ketika lipatan jari babah itu menghantam keningnya. Keningnya segenap bengkak sebesar
telur.
”Katakanlah dengan siapa kau akan pergi menyerang ***-i Saburo, dan dimana
kalian akan berkumpul, monyet!”
Kepalanya yang kena jitak amat sakit, tapi yang lebih sakit adalah hatinya.
Benar-benar sakit hati si Bungsu menerima perlakuan Babah gemuk ini. Pertama
cara dia menekek atau menjitak kepalanya tadi. Benar-benar menyinggung hatinya.
Kemudian ucapannya menyebut ”monyet” benar-benar menyakitkan. Saking sakit
hatinya, anak muda itu lupa mengontrol diri. Tanpa dapat dia tahan, dia
meludahi muka Babah gemuk itu. Ludahnya menghantam wajah si Babah. Anak muda
ini benar-benar lupa diri saking marahnya. Dia tak sadar sama sekali, bahwa
dengan perbuatannya ini dia bisa dibunuh si Babah seketika. Kalau itu terjadi,
maka dendamnya pada Saburo takkan pernah terbalaskan.
memberi ampun. Kakinya melayang. Si Bungsu yang memang tak pernah belajar silat
itu kena hantam dadanya. Tubuhnya tercampak. Dan masih belum mencecah lantai,
dia sudah muntah darah. Kemudian tubuhnya jatuh. Masih belum dia sadari apa
yang terjadi, ketika sebuah tendangan kembali mendarat di rusuknya. Sakitnya
bukan main. Dia mendengar tawa si Babah. Yang menendangnya barusan ini ternyata
si Baribeh. Untung si Baribeh. Sebab kalau Cina itu yang menendang, dia yakin
empat rusuknya akan patah. Tendangan Baribeh itu membuat dia terguling lagi.
Dia tertelungkup diam. Kening, telinga, mulut dan hidungnya melelehkan darah.
”Anjing! Melayu anjing, berani kau meludahiku, kupotong lidahmu ” Sumpah si
Babah dan mendekati tubuhnya. Si Bungsu benar-benar berada dalam keadaan
kritis. Babah itu mengambil sebuah pisau dari atas meja. Dia nampaknya memang
__ADS_1
berniat melaksanakan sumpahnya untuk memotong lidah si Bungsu. Namun saat itu si
Bungsu merasa ujung jarinya menyentuh sesuatu. Tanpa terlihat, masih dalam
posisi tertelungkup, dia membuka mata.
Tiba-tiba semangatnya timbul lagi. Yang berada di ujung jarinya itu adalah
samurainya! Langkah si Babah makin mendekat. Makin dekat. Kaku berjongkok dan
berniat memegang wajah anak muda itu untuk mengeluarkan lidahnya. Namun dengan
gerakan yang hampir-hampir tak dapat dipercaya oleh semua orang yang ada dalam
ruangan itu, si Bungsu berguling dua kali kekanan. Dua kali kekiri. Dalam
gulingan yang amat cepat dan ringan dia melompat berdiri. Secarik cahaya putih
berkelebat amat cepat. Tiga orang serdadu Jepang yang tadi menekan leher dan
dadanya dengan sangkur masih melongo tatkala kilatan cahaya itu menerpa wajah
mereka. Mereka terpekik dan roboh.
Darah muncrat dari tubuh mereka. Kini si Bungsu tegak di atas unggukan uangnya
dengan sikap seperti seekor Rajawali yang siap menyambar mangsanya. Samurainya
terhunus melintang di depan dada. Samurai itu berlumuran darah. Matanya menatap
tajam pada Babah gemuk itu.
”Siapa saja yang bergerak mencabut senjata atau berniat lari atau memekik, akan
kucabut nyawanya. Tegak saja di tempat kalian baik-baik!” Ujar anak muda itu
perlahan. Suaranya dingin dan penuh ancaman. Perwira Ichi yang semula berniat
mencabut pistol, jadi tertegun. Tangannya terhenti di gagang pistolnya. Ancaman
anak muda ini menggetarkan jantungnya. Namun jarak antara dia dengan anak muda
itu cukup jauh. Lagipula tubuhnya terlindung oleh tubuh seorang wanita. Dia
pasti aman kalau mencabut pistol itu diam-diam kemudian menembaknya pada
tengkuk anak muda pongah ini. Dia sudah berniat untuk melaksanakan maksudnya.
__ADS_1