TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 13


__ADS_3

Tikam Samurai - 13


Datuk itu bicara lagi, perlahan :


“Kau takkan selamat Saburo! Aku bersumpah akan menuntut balas dari akhirat. Kau


juga akan mati oleh samurai. Akan kau rasakan betapa senjata negerimu menikam


dirimu, ingat itu baik-baik. Itu sumpahku………Saburo….!”


Ucapannya tererhenti, darah menyembur dari mulutnya. Dan lelaki perkasa itu,


yang memakai kopiah berlilit berukir-ukir pertanda jabatan penghulunya, jatuh


tertelentang. Dia tak pernah mengeluh. Samurai yang tertancap di dadanya tegak


seperti tonggak peringatan. Tegak angkuh dan kukuh. Sekukuh lelaki yang mati di


ujungnya.


Datuk itu mati sedepa dari tempat isterinya. Matanya menatap ke langit yang


tinggi. Seekor Elang terbang melintas. Suara pekiknya terdengar menyayat pilu.


Saburo merasa bulu tengkuknya berdiri mendengar sumpah Datuk itu tadi. Anak


gadis Datuk itu tiba-tiba menghambur ke tengah mengejar ibu dan ayahnya yang


bermandi darah. Namun tangannya disambar oleh Saburo.


“Bersihkan kampung ini !” teriaknya pada anak buahnya.


Dan begitu anak buahnya memencar, dia segera menyeret gadis bertubuh montok itu


naik ke rumah Adat. Gadis itu meronta dan memberikan perlawanan. Dia belajar


silat Kumango dari ayahnya. Kini dia mencoba melawan kehendak Jepang laknat


itu. Namun di tangan Saburo, yang tidak hanya mengerti ilmu samurai, tapi juga


mahir dalam Karate dan Judo, kepandaian gadis ini jadi tak ada artinya.


Tangannya memang berhasil menampar Kapten itu tiga kali. Tapi begitu Saburo


membalas menamparnya sekali saja, gadis itu pingsan. Saburo memangku tubuhnya


yang tersimbah itu ke atas rumah. Di tengah ruang dia tegak. Mencari dimana

__ADS_1


letak bilik. Saat terpandang pada kamar gadis itu sendiri, dia melangkah ke


sana. Kamar itu bersih dan indah. Bau harum bunga melati menyelusup ke


hidungnya. Itu menyebabkan nafsunya menyala.


Dia menghempaskan tubuh anak gadis Datuk Berbangsa itu ke kasur. Kaki gadis itu


terkulai ke bawah tempat tidur. Dan kainnya tersimbah lebar. Di bawah rumah itu


ada kandang ayam sedang mengerami selusin anaknya yang gemuk-gemuk. Suara


berdentam di atas rumah, yang ditimbulkan oleh sepatu Saburo ketika naik tadi


mengejutkan ayam-ayam tersebut.


Induk ayam itu tegak dan berlari ke tempat gelap. Anak-anaknya memburu dan


menyeruak sayap ibunya dan masuk ke bawah sahap induknya. Salah seekor di


antaranya, yang berwarna putih pucat, gemuk dan besar, masih berputar-putar di


luar.


Induknya diam saja melindungi anaknya yang sebelas ekor. Anak ayam yang satu


itu mulai memutari tubuh induknya. Kemudian menyeruak di antara bulu sayap


anak ayam gemuk itu tak berhasil masuk ke bawah ruangan di bawah perut ibunya.


Tapi akhirnya, dia berhasil juga. Dia merasa hangat di bawah perut induknya


itu. Tubuhnya berputar-putar di antara sebelas saudaranya yang lain. Tubuh


induknya tergoyang-goyang karena dia berputar-putar di bawah.


Di halaman, enam depa dari kedua tubuh ayah dan ibunya, si Bungsu masih tetap


tertunduk. Dia tak berani bergerak sedikitpun. Meski di halaman itu hanya ada


seorang serdadu, dan serdadu itu tegak sebelas depa darinya, membelakanginya


pula. Menghadap ke belakang rumah. Namun si Bungsu tak pernah punya keberanian


sedikitpun untuk tegak mendekati tubuh Ayah dan Ibunya.


Dia juga tak punya keberanian untuk menolong kehormatan kakaknya yang dirajah

__ADS_1


Saburo Matsuyama di atas rumah mereka. Tidak. Dia memang tak punya keberanian


sedikitpun selama ini. Keberaniannya hanya satu. Yaitu main judi. Tapi kini apa


guna kepandaiannya yang satu itu? Sebagai anak lelaki dia anak lelaki yang ”tak


lengkap”, betapapun dia pernah amat membanggakan ”ilmu” judinya.


Di kamar di atas rumah gadang itu, kakak si Bungsu tiba-tiba tersadar. Dia


merasa lehernya pedih dan panas. Merasa ada nafas mendengus di wajahnya. Merasa


tubuhnya disimbahi peluh. Merasa ada beban berat menghimpitnya. Dan tiba-tiba


dia memekik dan melambung tegak. Tapi pekiknya terhenti tatkala Saburo


menyabetkan samurainya.


Gadis itu terkulai ke jendela. Dia menutup dadanya dengan tangan. Matanya


menatap sayu ke halaman. Menatap pada mayat ayah dan ibunya. Dan matanya


terhenti pada wajah si Bungsu yang masih duduk berlutut dan memandang padanya.


Bibir gadis itu bergerak. Seperti bicara pada adiknya. Namun tak ada suara yang


keluar. Matanya segera layu. Dan kepalanya terkulai ke bendul jendela. Si


Bungsu masih terpaku di tempatnya dengan penuh ketakutan. Tertunduk dengan


diam.


Tak lama kemudian dia lihat Kapten Saburo Matsuyama turun dari rumah sambil


melekatkan ikat pinggang. Di halaman dia terhenti tatkala terpandang pada si


Bungsu. Dia segera ingat pada sumpah Datuk Berbangsa. Ingat pada sumpahnya yang


akan menuntut balas. Siapa yang akan menuntutkan balasnya selain dari anaknya


ini? Dengan kesimpulan begitu dia lalu mendekati si Bungsu. Takut Si Bungsu


muncul.


“Aaaa..ampuun tuan. Ampuun!” dia bermohon-mohon dengan tubuh menggigil.


Beberapa penduduk yang melihatnya dari kejauhan menjadi jijik dan mual melihat

__ADS_1


sikap anak muda ini. Mereka seakan ingin menginjak-injak anak muda pengecut


itu. Benar-benar jahanam! Benar-benar laknat. Anak haram jadah!, maki mereka.


__ADS_2