TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 61


__ADS_3

Tikam Samurai - 61


Markas Datuk itu dan anak buahnya terletak di dalam rimba


buluh di Tambuo. Suatu tempat angker di dekat kampung Tigobaleh di tepi Kota


Bukittinggi. Banyak orang yang mengetahui bahwa rimba buluh Tambuo itu adalah


markas dan sekaligus tempat persembunyian para perampok. Namun tak ada yang


berani mengadukan pada Jepang. Apalagi bertindak sendiri menangkap mereka.


Datuk ini terkenal bengis. Hal itu hampir saja terbukti kalau anak muda ini tak


cepat dengan samurai nya tadi.


Kini kusir bendi itu dapat menangkap dari pembicaraan kedua penompangnya ini,


bahwa mereka kesulitan tempat menginap. Hatinya jadi hiba.


 “Seluruh kota akan segera diperiksa oleh Kempetai ..” kusir itu berkata


perlahan. Si Bungsu menoleh padanya.


“Apakah orang orang itu dilindungi oleh Jepang ? “ tanyanya ingin tahu.


“Tidak. Tapi Jepang akan mencari setiap pembunuh. Apalagi yang kau bunuh malam


ini tujuh orang. Suatu jumlah yang tak sedikit Jepang membiarkan gerombolan


Datuk itu merajalela untuk kepentingan mereka secara tak langsung. Dalam setiap


kekacauan, mereka memetik untungnya …” Si Bungsu menarik nafas panjang.


Mereka sama sama terdiam. Yang terdengar memecah sunyi adalah suara ladam kuda


yang beradu dengan aspal. Membelah malam yang telah jauh menikam larut. Si


Bungsu tak menyadari kemana bendi itu tengah menuju. Rusuknya yang patah


membuat dirinya letih tak terkira. Makan kaki lelaki lelaki di penginapan tadi


benar benar meluluhkan tubuhnya. Mei-meilah yang pertama menyadari, bahwa bendi


itu makin jauh dan makin masuk kepalunan gelap. Dia menggoyang tubuh si Bungsu

__ADS_1


yang bersandar ke dirinya. Si Bungsu tak bergerak.


“Koko .. Koko …” panggilnya perlahan dekat telinga si Bungsu. Si Bungsu


mengeluh pendek. Tak bisa menjawab, tapi keluhan itu sebagai tanda bahwa dia


mendengarkan panggilan Mei-mei.


“Kemana kita Koko ?” ada nada cemas dalam suara gadis itu.


“Kemana …?” si Bungsu balas bertanya perlahan.


“Lihatlah, kita dibawa kepalunan rimba …” bisik Memei. Masih dalam keadaan


menyandarkan kepalanya yang terasa amat berat, tanpa membuka mata, si Bungsu


bertanya perlahan.


“Akan bapak bawa kemana kami ?”


“Kalian tak punya tempat untuk menginap di kota anak muda ..”


“Ya. Tapi kini kami akan bapak bawa kemana ?”


“Ke rumah saya …”


“Ya. Di rumah saya kalian akan aman. Hais ck ck ..” kusir itu mendecah kudanya.


Terasa goncangan agak keras ketika bendi itu mulai meninggalkan jalan beraspal


dan memasuki jalan kecil yang tak datar. Mei-mei memeluk bahu si Bungsu agar


jangan sampai melosoh turun.


“Kerumah bapak …?” si Bungsu mengulangi tanyanya perlahan.


Dan setelah itu dia tak sadar diri. Mei-mei tak bisa berbuat apa apa. Kalaupun


dia berniat melawan, dan bisa melarikan diri, namun dia tak akan melakukannya.


Dia tak mau meninggalkan anak muda yang telah menolongnya ini. Kalaupun bencana


akan menimpa dirinya, dia ingin tetap berada di dekat si Bungsu.


“Haissy ck … ck Haissy …” kusir bendi tersebut mendecah kudanya lagi. Kuda itu

__ADS_1


seperti berjalan dalam cahaya terang. Berlari seenaknya. Melangkahi lobang dan


batu sebesar-besar tinju. Dia hafal jalan itu. Meski malam yang hampir disambut


subuh itu amat kental gelapnya. Mei-mei coba memperhatikan jalan dan belantara


yang mereka lalui.


Jalan itu di kiri kanannya penuh oleh pohon pohon. Seperti hutan saja layaknya.


Tapi yang paling banyak di antara pohon pohon itu adalah pohon bambu. Besar dan


tinggi seperti akan menjangkau langit. Dahulu waktu kecil, dia pernah tinggal


di kota ini. Tapi saat itu dia masih kecil, kemudian si Babah, ayah tirinya


itu, membawa mereka pindah ke Payakumbuh. Waktu kecil itu, dia tak pernah


sampai kemari. Paling paling hanya ke rumah tetangga di kampung cina. Tiba tiba


bendi itu berhenti. Kusir berseru, kemudian dia berjalan ke belakang. Ke tempat


si Bungsu dan Mei-mei duduk.


“Mari kutolong menurunkannya …” kata kusir tua itu lagi sambil memegang tangan


si Bungsu. Lalu tiba tiba, dalam gerakannya yang amat cepat tubuh si Bungsu


telah berada di bahunya. Pintu pondok terbuka. Seorang perempuan separoh baya


muncul dengan lampu togok di tangannya. Mei-mei turun dari bendi dan mengikuti


kusir itu. Saat akan masuk kepondok perempuan paroh baya itu tertegun menatap


Mei-mei. Tapi hanya sebentar. Kemudian menghindar dari pintu memberi jalan pada


Mei-mei..


“Masuklah ..” katanya.


Suaranya lembut. Mei-mei melangkah masuk. Pondok itu cukup besar. Berdinding


bambu, berlantai tanah beratap rumbia. Seorang anak perempuan muncul.


Barangkali usianya sekitar dua belas tahun. Namun tubuhnya kelihatan segar.

__ADS_1


Kusir bendi itu meletakkan tubuh si Bungsu di sebuah kamar di atas balai balai


bambu. Mei-mei tegak di sisi pembaringan.


__ADS_2