
Tikam Samurai - 31
Malam itu gerimis turun membasahi bumi. Empat orang serdadu
jepang kelihatan berkumpul di sebuah kedai kopi di kampung Tabing. Kampung itu
masih terletak dikaki gunung Sago. Sebuah desa kecil yang tak begitu ramai.
Namun karena letak kampung itu di dalam kacamata militer cukup strategis, maka
jepang menjadikan kampung itu sebagai salah satu markasnya.
Ada beberapa markas jepang yang termasuk besar di sekitar kaki Gunung sago di
Luhak 50 kota ini. Yaitu Padang Mang atas, Tabing, Pekan Selasa dan Kubu Gadang
. jepang menganggap daerah Luhak 50 Kota ini sebagai daerah strategis. Karena
dari sini dekat mengirimkan pasukan atausuplay ke Batu Sangkar atau ke Logas
dan Pekanbaru. Di daerah mana jepang mempunyai tambang-tambang emas dan
berbagai kepentingan militer lainnya.
Kedai kopi itu sebenarnya sudah akan tutup, Pemiliknya seorang lelaki tua sudah
akan tidur. Namun keempat serdadu jepang itu tetap menggedor pintu kedainya.
”Jangan bobok dulu Pak tua. Kami ingin makan paniaram dengan sake. Ayo
keluarkan paniaramnya..” salah seorang bicara. Dari mulut mereka tercium bau
sake. Semacam minuman keras khas jepang.
”Paniaram sudah habis tuan…”
”Ah jangan ngicuh laa. Tak baik ngicuh. Tadi siang masih banyak. Ayooo.”
Dan orang tua itu mereka dorong sampai terdede-dede masuk ke kedainya. Mereka
langsung saja duduk di kursi panjang dan mengambil empat buah gelas. Dari
kantong mereka mengeluarkan beberapa buah botol porselin. Menuangkan isi botol
itu ke dalam gelas. Hanya sedikit, lalu meminumnya. Mereka lalu berbisik. Salah
seorang lalu berseru : ”Hei, pak tua. Mana paniaramnya.”
Lelaki itu terpaksa mengambil kaleng empat segi yang berisi paniaram. Kemudian
__ADS_1
meletakkannya ke depan tentara jepang tersebut.
”Mana Siti pak tua. Suruh dia membuatkan kami kopi”
Hati gaek itu jadi tak sedap. siti adalah anak gadisnya. Biasanya dia berada di
Padang Panjang. Sekolah Diniyah Putri di sana. Tapi sejak jepang masuk. dia
merasa anak gadisnya tak aman di sana. Lagipula, banyak orang tua yang menyuruh
pulang anak-anaknya yang sekolah jauh. Pak tua ini juga menjemput Siti. Dan
selama di kampung dia lebih banyak di rumah.
”Tak ada lagi air panas untuk membuat kopi tuan…” dia masih coba mengelak.
Tapi terus terang saja hatinya sangat kecut. Keganasan jepang terhadap
perempuan bukan rahasia lagi. Meskipun belum lewat dua tahun mereka di
Minangkabau ini. Beberapa hari yang lalu, dua orang penduduk yang dituduh
mencuri senjata di Kubu Gadang, dipenggal ditepi batang Agam. Dan segera saja
tentara jepang itu memaki. Belasan perempuan, tak peduli gadis atau bini orang,
telah jadi korban perkosaan.
kami….” bentak salah seorang tentara itu.
Lelaki tua itu tak punya pilihan lain selain menyuruh anaknya turun dan
membuatkan kopi. Siti memakai pakaian yang buruk. Mengusutkan rambutnya
kemudian turun membuatkan kopi. Namun meski dia berusaha memburuk-burukkan
badannya dan pakaian yang dia pakai longgar, tetap tak dapat menyembunyikan
kecantikan dan kepadatan tubuhnya. Tak dapat menghilangkan bahwa pinggulnya
padat berisi. Dadanya sedang ranum. Semua itu masih jelas terbayang. Bahkan
makin merangsang dalam cahaya pelita yang eram temaram dalam kedai kecil itu.
Ketika dia lewat hendak ke dapur di dekat ke empat serdadu itu, dengan kurang
ajar sekali yang seorang meremas pinggulnya. Yang seorang dengan cepat mencubit
dadanya, gadis ini terpekik dan menangis. Dia segera akan lari ke atas rumahnya
__ADS_1
kembali. Namun dia terpekik lagi ketika larinya dihadang oleh sebuah samurai.
Samurai itu berkelebat. Dan ujung kain batik yang dia pakai sebagai selendang
putus Dapat dibayangkan betapa tajamnya senjata itu.
”Kau Siti, dan kau juga pak tua, jangan banyak tingkah. Kami ingin minum kopi,
makan Paniaram sediakan cepat kalau tidak ingin dimakan mata samurai ini…”
Siti menggigil. Ayahnya mengangguk tanda menyuruh. Sambil menangis
terisak-isak, gadis berumur tujuh belas tahun itu menghidupkan api untuk
membuat kopi.
”Assalamualaikum…….” tiba-tiba terdengar suara perlahan dari luar.
Tak ada yang menyahut kecuali tolehan kepala. Lelaki tua itu, anak gadisnya,
dan keempat serdadu jepang itu menoleh ke pintu. Di ambang pintu muncul seorang
lelaki muda dengan wajah murung. Matanya yang kuyu menatap isi kedai. Dia
memandang pada siti. Sebentar saja. Tapi dia melihat pipi gadis itu basah. Dia
memandang pada pemilik kedai. Kemudian pada keempat serdadu itu. Dia mengangguk
memberi hormat. Anggukan pelan saja. Meski tak di balas, dia melangkah masuk.
Di tangannya ada sebuah tongkat kayu.
Ke empat serdadu jepang itu kembali meminum sake mereka. Nampaknya minta
kopi hanya sekedar untuk menyuruh anak gadis itu untuk turun ke kedai ini
saja. Untuk minum mereka mempunyai sake. Anak muda yang baru masuk itu duduk di
sudut kedai. Membelakangi pada keempat serdadu itu.
Apakah saya bisa minta kopi secangkir upik? dia bertanya perlahan pada Siti
yang duduk dekat tungku menuggu air, sedepa di sampingnya. Gadis itu menoleh
padanya. Anak muda itu menunduk. Seperti sedang melihat daun meja. Gadis itu
tak menyahut. Meski dia yakin anak muda itu tak melihat anggukannya, dia
mengangguk juga sebagai tanda akan menyediakan kopi yang diminta. Meski
__ADS_1
menunduk, anak muda itu dapat melihat anggukan gadis itu.