
Tikam Samurai - 116
“Pergilah sebelum saya berobah niat…” kata si Bungsu. Yang
lima mundur menjauh, Sersan itu juga. Namun si Sersan kini mempunyai niat lain.
Si Bungsu ternyata lupa melucuti senjata pistol dipinggangnya. Kini jarak
mereka ada sepuluh depa. Bukankah samurai si Bungsu tak berdaya dalam jarak
begitu? Dia pasti bisa menghajar anak muda itu.
Maka dengan perhitungan begini, tiba-tiba tangan kirinya mencabut pistol
dipinggang.
“Bagero! Bungsu jahanam, kubunuh kau!” teriaknya begitu pistolnya keluar dari
sarangnya. Dan kelima serdadu Jepang yang lain pada berhenti.
Mata si Bungsu tiba-tibamenyipit.
Sepuluh depa! Dia perhitungkan jarak itu. Berapa kalikah dia harus bergulingan
maka sampai ke Jepang yang pontong tangannya itu? Atau dia lemparkan sajakah
samurainya dari sini? Peluru pistol itu pasti lebih cepat.
Perhitungan ini diambil dalam waktu yang hanya dua detik. Sebab pistol itu
sudah akan diangkat untuk ditembakkan. Penduduk pada terpekik dan mundur. Dan
saat itulah tubuh si Bungsu bergulingan di tanah. Lompat tupai!
Tiga kali, empat kali bergulingan tiba-tiba dia dengar letusan. Kakinya terasa
panas, luka! Saat itulah dia bangkit. Sebuah letusan lagi, dan rusuknya terasa
pedih. Luka! Jaraknya masih empat depa. Samurainya tiba-tiba keluar dan
melayang! Creep!!
Lemparannya tepat mengenai jantung Sersan Mayor itu. Tertancap hingga kehulunya
dan tembus terjulur panjang dibahagian punggung. Sersan itu berusaha menarik
__ADS_1
pelatuk pistolnya. Namun tubuhnya terkulai tiba-tiba. Jatuh, dan mati!
Si Bungsu cepat memburu, menyentakkan samurai itu dn menatap lima Jepang yang
hanya bercelana kolor di depannya. Kelima Jepang itu tiba-tiba balik kanan dan
ambil langkah seribu! Lari.
“Jangan lupa sampaikan pada Akiyama, saya mencarinya!! Si Bungsu berteriak.
Dua orang tentara Jepang saking takutnya sambil berlari itu lalu mengiyakan.
Angguk ketakutan.
Si Bungsu melihat kaki dan rusuknya yang pedih tadi. Hanya luka tergores. Tak
Parah. Meski darah mengalir cukup banyak.
“Jika ada diantara kalian pejuang bawah tanah, ambillah bedil ini dan pergi
cepat sebelum Jepang tiba….” Dia berkata. Sunyi sejenak.
Dan tiba-tiba saja empat lelaki berkain sarung dibahunya muncul ketengah.
menatap sejenak pada si Bungsu.
“Kami sudah banyak mendengar tentang nama besarmu anak muda. Dan hari ini kami
lihat betapa nama besarmu itu tidak kosong semata. Terimakasih atas bantuanmu.
Tuhan akan selalu melindungimu…..” salah seorang dari yang barkain dan bersebo
yang berkumis dan bertubuh kekar berkata. Dan sehabis berkata begini, keempat
mereka hilang diantara palunan manusia. Menyelinap dibalik-balik rumah. Dan
lenyap entah kemana.
“Kalian menghindarlah dari sini, jangan sampai didapati Kempetai nanti….” Si
Bungsu memberi ingat pada penduduk sambil berjalan cepat-cepat.
Pendudukpun pada bertebaran menghindarkan diri. Namun beberapa orang masih
tegak disana menatap pada sersan yang mati itu. Dan saat itulah selusin lebih
__ADS_1
Kempetai telah mengepung tempat tersebut.
Ada enam orang lelaki, dan tiga orang perempuan yang tak sempat menghindarkan
diri. Yang masih terlongo-longo menatap mayat sersan itu ketika Kempetai
datang. Semua mereka ditangkap untuk pemeriksaan dan menanyakan kemana si
Bungsu dan siapa yang mengambil bedil yang ditinggalkan tadi.
Kalau saja mereka mengikuti petunjuk si Bungsu agar menghindar cepat dari sana,
maka mereka tentulah tak usah dapat kesusahan ditangkap Kempetai. Tapi mereka
tak dapat pula disalahkan sepenuhnya. “Pertunjukkan” seperti yang baru saja
mereka lihat, dimana seorang pemuda Indonesia melawan dan menelanjangi tentara
Jepang, seorang lawan enam orang, dan pemuda Indonesia yang seorang itu menang pula,
benar-benar belum pernah bersua dalam hidup mereka.
Bahkan mungkin takkan pernah lagi mereka menemuinya. Mereka sudah banyak
mendengar dari mulut ke mulut, bahwa ada seorang anak muda yang bernama si
Bungsu, yang berasal dari Payakumbuh, dari kakai gunung Sago, yang selalu
berhasil membunuhi Jepang.
Diam-diam, nama anak muda itu menjadi macam tokoh dongeng dan legenda kehidupan
mereka. Kaum lelaki dan perempuan, tua dan muda, menganggap anak muda itu
sebagai suatu tokoh pahlawan yang hanya hidup dalam zaman dongeng.
Namun tiba-tiba saja, hari ini pahlawan dongeng mereka itu muncul. Dan
kemunculannya tidak hanya sambil lenggang kangkung. Dia muncul lengkap dengan
kemahirannya melucuti dan membunuh Jepang dengan samurainya. Dia muncul lengkap
dengan kehebatannya memainkan samurai. Suatu kemunculan yang komplit seperti
didalam dongeng yang mereka dengan selama ini.
__ADS_1