
Namun keempat laki-laki itu tidak
memberi ampun sedikitpun. Dari atas surau perkelahain yang tidak bisa disebut
perkelahian itu, beralih ke bawah. Beralih karena tubuh anak muda itu tercampak
menghantam dinding karena sebuah tendangan yang telak. Tubuhnya menghantam
dinding lapuk dan jebol, tubuhnya melayang ke bawah lewat dinding lapuk yang
jebol itu. Dan di bawah surau itulah nasibnya selesai.
Kini dia mengingat kembali semua peristiwa itu. Wajahnya yang murung, matanya
yang sayu, terangkat perlahan. Dia menarik nafas panjang. Seharusnya dia sudah
berhenti main setelah menang besar sepekan yang lalu. Dia berniat membeli
sawah, atau pergi merantau dengan uang itu. Hidup di kampung ini terasa
membosankannya. Tapi dasar penjudi, begitu mengetahui ada penjudi lain, dia
segera berselera lagi. Dan inilah akibatnya. Lambat-lambat dia merangkak ke
sumur. Mencuci muka dan sekujur tubuhnya yang bergelimang luluk. Meminum air
sumur itu beberapa teguk. Kemudian naik kembali ke surau.
Dia memungut beberapa puntung rokok daun nipah. Membuka gulungannya. Kemudian
mengumpulkan tembakau dari sisa rokok itu. Dari kertas usang yang masih
menempel di dinding surau dia menggulung sebatang rokok dengan tembakau sisa
tadi. Lalu bersandar ke tiang tengah. Lalu mengambil anak korek api yang
terserak. Lalu membakar rokoknya. Matanya terpejam mengisap rokok assembling
itu. Saat matanya yang sayu terpandang pada kertas-kertas koa yang berserakan,
dia memungutnya beberapa buah.
“Babi halus … Jarum udang … Tali sirah…” katanya sambil melemparkan koa itu ke
lantai satu demi satu seraya menyebutkan nama kertas-kertas tersebut.
Rokok itu tak habis dia hisap. Dia terbatuk-batuk. Pikirannya melayang pada
Baribeh dan ketiga temannya. Dia bersumpah untuk mencari mereka. Akan dia ajak
__ADS_1
lagi berjudi. Dan dia yakin akan mengalahkan orang-orang itu. Hanya kini dari
mana dia harus mencari modal? Akan dia jualkah kambingnya yang tiga ekor itu?
Ah, Ibu dan ayahnya pasti marah. Marah ibunya mungkin dapat dia amankan. Ibunya
paling-paling marah sebentar. Yang dia takuti adalah ayahnya.
Ayahnya suka main tangan. Mentang-mentang guru silat. Puih, dia jadi mual
melihat ayahnya yang dia anggap banyak lagak itu. Apalagi kalau ayahnya sudah
mengajar di sasaran silat. Hatinya jadi bengkak melihat. Dia paling benci
melihat orang belajar silat. Apa untungnya belajar silat? Mending belajar judi.
Uang dapat perut kenyang, pikirnya. Meski telah berkali-kali dia dikeroyok
orang dalam berjudi, dan berkali-kali pula ayah dan kakaknya memaksa untuk
belajar silat, namun dia tetap tak menyukai silat.
Dia memang termasuk anak yang aneh. Ayahnya adalah seorang guru silat ternama,
demikian pula kakaknya. Tapi dia sendiri lebih suka main koa atau main
layang-layang. Dia tahu ayahnya tak menyenangi perangainya itu. Tapi apa
pedulinya. Dia tidak pernah menyusahkan mereka toh? Dia memang beberapa kali
tak pernah mengadu pada ayah dan saudaranya yang jagoan silat itu.
Tidak. Pantangan baginya untuk mengadu. Bagi dia judi merupakan suatu lambang
kejantanan. Kenapa hanya pesilat yang disebut jantan? Kenapa pejudi tidak?
Bukankah berjudi juga membutuhkan keahlian? Malah baginya judi lebih tinggi
nilainya dari silat. Dalam judi orang mengadu otak. Sementara dalam silat orang
mengadu otot.
Nah, secara harafiah bisa diartikan bahwa dia jauh lebih berotak dari pada ayah
atau pesilat manapun! Begitu alur fikirannya. Tambahan lagi, berjudi dia anggap
mempunyai seni yang tinggi. Dalam main dadu dibutuhkan semacam firasat yang
tajam untuk mengetahui ”mata” berapa yang akan muncul di atas. Dan diperlukan
perhitungan yang teliti untuk gim sampai tiga kali dalam main koa. Dalam silat
mana ada seninya? Yang ada hanya main sepak, pukul, siku, tangkap, cekik, atau
__ADS_1
tendang uncang-uncang di kerampang, atau banting. Bah, benar-benar keras dan
kasar. Dia benar- benar tak menyukainya.
Dia lalu tertidur karena lelah. Dalam tidurnya dia bermimpi jadi seorang
pesilat yang jauh lebih tangguh dari ayah dan kakaknya. Bahkan jauh lebih
tangguh dari pesilat pesilat tangguh manapun jua. Lewat tengah hari dia
terbangun. Dia menyumpahi mimpinya yang jadi pesilat tangguh itu. Kenapa tak
mimpi menjadi seorang raja judi. Dengan masih menyumpah-nyumpahi mimpinya dia
turun dari surau tersebut. Kakinya melangkah ke arah kampung. Perutnya terasa
amat litak. Ketika akan sampai di rumahnya, sebuah rumah gadang beratap ijuk,
dia lihat beberapa perempuan berada di rumah. Dia memutar ke belakang. Lewat
pintu belakang dia naik ke rumah. Terus ke dapur. Di dapur dia berpapasan
dengan kakaknya.
“Hei Bungsu, orang mencari . . . Astaga ! Berantam lagi kau ya … ?”
Anak muda itu, yang merupakan anak yang paling bungsu di antara mereka dua
beradik, dan karena itu dia dipanggil dengan sebutan si Bungsu, tak
menghiraukan kekagetan kakaknya. Dia mengambil piring. Dan mulai menyenduk
nasi.
“Duduklah ke sana. Jangan mengambil nasi sendiri. Awak laki-laki. Biar kakak
ambilkan . .”
“Ah tak usah susah-susah. Saya bisa mengambil sendiri “
“Duduklah, tukar pakaianmu. Di depan ada tamu yang akan bicara denganmu”.
“Tak ada urusanku dengan mereka . .”
“lni tentang pertunanganmu . .”
Dia tetap tak peduli, yang jelas dia ingin makan sekenyang-kenyangnya. Ketika
mulai menyuap, ibunya muncul. Perempuan itu tertegun melihat anak bungsunya
ini. Dia tak usah bertanya kenapa muka dan tubuhnya biru-biru. Tak usah
ditanyakan kenapa pakaiannya robek-robek. Perempuan ini sudah arif akan apa
__ADS_1
yang telah terjadi. Dia tatap anaknya yang tengah makan dengan lahap itu.