TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 4


__ADS_3

 


 


Namun keempat laki-laki itu tidak


memberi ampun sedikitpun. Dari atas surau perkelahain yang tidak bisa disebut


perkelahian itu, beralih ke bawah. Beralih karena tubuh anak muda itu tercampak


menghantam dinding karena sebuah tendangan yang telak. Tubuhnya menghantam


dinding lapuk dan jebol, tubuhnya melayang ke bawah lewat dinding lapuk yang


jebol itu. Dan di bawah surau itulah nasibnya selesai.


Kini dia mengingat kembali semua peristiwa itu. Wajahnya yang murung, matanya


yang sayu, terangkat perlahan. Dia menarik nafas panjang. Seharusnya dia sudah


berhenti main setelah menang besar sepekan yang lalu. Dia berniat membeli


sawah, atau pergi merantau dengan uang itu. Hidup di kampung ini terasa


membosankannya. Tapi dasar penjudi, begitu mengetahui ada penjudi lain, dia


segera berselera lagi. Dan inilah akibatnya. Lambat-lambat dia merangkak ke


sumur. Mencuci muka dan sekujur tubuhnya yang bergelimang luluk. Meminum air


sumur itu beberapa teguk. Kemudian naik kembali ke surau.


Dia memungut beberapa puntung rokok daun nipah. Membuka gulungannya. Kemudian


mengumpulkan tembakau dari sisa rokok itu. Dari kertas usang yang masih


menempel di dinding surau dia menggulung sebatang rokok dengan tembakau sisa


tadi. Lalu bersandar ke tiang tengah. Lalu mengambil anak korek api yang


terserak. Lalu membakar rokoknya. Matanya terpejam mengisap rokok assembling


itu. Saat matanya yang sayu terpandang pada kertas-kertas koa yang berserakan,


dia memungutnya beberapa buah.


“Babi halus … Jarum udang … Tali sirah…” katanya sambil melemparkan koa itu ke


lantai satu demi satu seraya menyebutkan nama kertas-kertas tersebut.


Rokok itu tak habis dia hisap. Dia terbatuk-batuk. Pikirannya melayang pada


Baribeh dan ketiga temannya. Dia bersumpah untuk mencari mereka. Akan dia ajak

__ADS_1


lagi berjudi. Dan dia yakin akan mengalahkan orang-orang itu. Hanya kini dari


mana dia harus mencari modal? Akan dia jualkah kambingnya yang tiga ekor itu?


Ah, Ibu dan ayahnya pasti marah. Marah ibunya mungkin dapat dia amankan. Ibunya


paling-paling marah sebentar. Yang dia takuti adalah ayahnya.


Ayahnya suka main tangan. Mentang-mentang guru silat. Puih, dia jadi mual


melihat ayahnya yang dia anggap banyak lagak itu. Apalagi kalau ayahnya sudah


mengajar di sasaran silat. Hatinya jadi bengkak melihat. Dia paling benci


melihat orang belajar silat. Apa untungnya belajar silat? Mending belajar judi.


Uang dapat perut kenyang, pikirnya. Meski telah berkali-kali dia dikeroyok


orang dalam berjudi, dan berkali-kali pula ayah dan kakaknya memaksa untuk


belajar silat, namun dia tetap tak menyukai silat.


Dia memang termasuk anak yang aneh. Ayahnya adalah seorang guru silat ternama,


demikian pula kakaknya. Tapi dia sendiri lebih suka main koa atau main


layang-layang. Dia tahu ayahnya tak menyenangi perangainya itu. Tapi apa


pedulinya. Dia tidak pernah menyusahkan mereka toh? Dia memang beberapa kali


tak pernah mengadu pada ayah dan saudaranya yang jagoan silat itu.


Tidak. Pantangan baginya untuk mengadu. Bagi dia judi merupakan suatu lambang


kejantanan. Kenapa hanya pesilat yang disebut jantan? Kenapa pejudi tidak?


Bukankah berjudi juga membutuhkan keahlian? Malah baginya judi lebih tinggi


nilainya dari silat. Dalam judi orang mengadu otak. Sementara dalam silat orang


mengadu otot.


Nah, secara harafiah bisa diartikan bahwa dia jauh lebih berotak dari pada ayah


atau pesilat manapun! Begitu alur fikirannya. Tambahan lagi, berjudi dia anggap


mempunyai seni yang tinggi. Dalam main dadu dibutuhkan semacam firasat yang


tajam untuk mengetahui ”mata” berapa yang akan muncul di atas. Dan diperlukan


perhitungan yang teliti untuk gim sampai tiga kali dalam main koa. Dalam silat


mana ada seninya? Yang ada hanya main sepak, pukul, siku, tangkap, cekik, atau

__ADS_1


tendang uncang-uncang di kerampang, atau banting. Bah, benar-benar keras dan


kasar. Dia benar- benar tak menyukainya.


Dia lalu tertidur karena lelah. Dalam tidurnya dia bermimpi jadi seorang


pesilat yang jauh lebih tangguh dari ayah dan kakaknya. Bahkan jauh lebih


tangguh dari pesilat pesilat tangguh manapun jua. Lewat tengah hari dia


terbangun. Dia menyumpahi mimpinya yang jadi pesilat tangguh itu. Kenapa tak


mimpi menjadi seorang raja judi. Dengan masih menyumpah-nyumpahi mimpinya dia


turun dari surau tersebut. Kakinya melangkah ke arah kampung. Perutnya terasa


amat litak. Ketika akan sampai di rumahnya, sebuah rumah gadang beratap ijuk,


dia lihat beberapa perempuan berada di rumah. Dia memutar ke belakang. Lewat


pintu belakang dia naik ke rumah. Terus ke dapur. Di dapur dia berpapasan


dengan kakaknya.


“Hei Bungsu, orang mencari . . . Astaga ! Berantam lagi kau ya … ?”


Anak muda itu, yang merupakan anak yang paling bungsu di antara mereka dua


beradik, dan karena itu dia dipanggil dengan sebutan si Bungsu, tak


menghiraukan kekagetan kakaknya. Dia mengambil piring. Dan mulai menyenduk


nasi.


“Duduklah ke sana. Jangan mengambil nasi sendiri. Awak laki-laki. Biar kakak


ambilkan . .”


“Ah tak usah susah-susah. Saya bisa mengambil sendiri “


“Duduklah, tukar pakaianmu. Di depan ada tamu yang akan bicara denganmu”.


“Tak ada urusanku dengan mereka . .”


“lni tentang pertunanganmu . .”


Dia tetap tak peduli, yang jelas dia ingin makan sekenyang-kenyangnya. Ketika


mulai menyuap, ibunya muncul. Perempuan itu tertegun melihat anak bungsunya


ini. Dia tak usah bertanya kenapa muka dan tubuhnya biru-biru. Tak usah


ditanyakan kenapa pakaiannya robek-robek. Perempuan ini sudah arif akan apa

__ADS_1


yang telah terjadi. Dia tatap anaknya yang tengah makan dengan lahap itu.


__ADS_2