
Tikam Samurai - 66
Dia tertegak diam melihat pada perempuan sembahyang yang
tadi dia sangka istri Datuk Penghulu itu. Perempuan itu nampaknya baru selesai
sembahyang. Kini dia tengah menampungkan tangannya membaca doa. Dan ketika dia
benar benar melesai sembahyang, dia menoleh pada si Bungsu. Si Bungsu
benar-benar terkesima. Dia ingin bicara, namun lidahnya terasa kelu.
“Koko ..” akhirnya perempuan itulah yang bicara perlahan.
Masih dalam keadaan terpukau, si Bungsu melangkah kembali ke ruang tengah.
Perlahan dia duduk di depan perempuan itu. Perempuan yang baru saja selesai
sembahyang itu tak lain daripada Mei-mei.
“Koko .. sebentar ini aku berdoa untuk arwah ibu dan ayahku. Dan aku berdoa
untukmu. Untuk kesembuhanmu. Untuk keselamatanmu ..”
“Mei-mei kau ..?” hanya itu kalimat yang terucap si Bungsu.
Ada perasaan yang amat luar biasa menyelusup ke hatinya melihat gadis itu
sembahyang Lohor.
“Ya, koko. Telah saya pikirkan. Dan saya memilih islam sebagai agama saya ..”
“Tapi …”
“Saya merasa tentram dan damai setelah sholat. Bukankah koko yang mengatakan
itu dipenginapan dulu?” si Bungsu masih tak kuasa bicara.
“Masih ingatkah koko waktu saya bertanya, apakah tak meletihkan sembahyang lima
kali sehari semalam? Koko katakan, bahwa diri koko merasa tentram dan damai set
iap selesai sembahyang. Diri koko merasa mendapatkan tenaga dan semangat baru
setiap selesai sholat. Itulah yang mendorongku untuk masuk Islam. Tak ada yang
membujuk. Tak ada yang memaksaku. Di rumah ini kulihat mereka sembahyang semua.
__ADS_1
Dan mereka bahagia, damai, sabar. Meskipun mereka miskin. Bukankah kedamaian
dan kebahagian itu yang dicari orang? Kusampaikan niatku itu pada Pak Datuk.
Kusampaikan pada istrinya Mak Ani. Mereka membawaku ke Mesjid. Mak Ani
memandikanku. Dan Imam yang ada di mesjid itu membacakan dua Kalimah Shahadat,
dan kuikuti. Pak Datuk dan Salim serta Mak Ani sebagai saksi. Sejak hari itu,
dua pekan yang lalu, aku telah menjadi seorang muslimah. Dan aku memang
mendapatkan kedamaian, ketentraman, semangat baru set iap selesai sholat .. aku
bahagia memilih Islam menjadi agamaku …”
Tanpa dapat ditahan, mata si Bungsi jadi basah. Mei-mei menatap matanya yang
basah. Dan pelan pelan, mata gadis itu ikut basah. Dan tiba tiba mereka
berpelukan.
“Koko, engkau sedih aku masuk Islam ?”
“Tidak Moy-moy. Tidak. Aku hanya akan sedih kalau kau masuk Islam hanya karena
ing in menyenangkan hatiku. Percayalah, tanpa masuk Islam pun engkau, aku tetap
“Tidak koko. Aku masuk Islam bukan karena engkau. Aku masuk Islam karena takdir
Tuhan. Bukankah takdir manusia di tangan Tuhan Yang Satu? Tuhan mentakdirkan
aku bertemu denganmu. Tuhan pula yang mentakdirkan aku masuk Islam. Aku bahagia
menerima takdir itu koko. Sama seperti aku juga bahagia berada di dekatmu…”
“Terima kasih Moy-moy. Terima kasih adikku ..”
Peristiwa itu dilihat oleh Datuk Penghulu yang baru pulang. juga dilihat dan
didengar oleh Mak Ani, ibu si Upik yang tegak di ruang tengah. Karenanya mereka
pada mengusap matanya yang basah. Terharu melihat persaudaraan kedua anak muda
yang berlainan bangsa ini. Yang satu kehilangan seluruh familinya di tangan
Jepang. Yang satu kehilangan kehormatannya di tangan Jepang. Nasib
__ADS_1
mempertemukan mereka. Persis seperti diucapkan oleh Mei-mei sebentar ini. Bahwa
mereka dipertemukan oleh Takdir yang telah diatur oleh Yang Satu.
-o0o-
Tanpa terasa setahun telah berlalu. Selama setahun itu Mei-mei dan si Bungsu
tetap tinggal di rumah Datuk Penghulu di kampung Padang Gamuak Tarok. Mereka
seperti tinggal di rumah orangtua sendiri. Datuk Penghulu dan istrinya menerima
mereka dengan tangan terbuka. Datuk Penghulu ternyata seorang pejuang yang
menghubungi anggota Gyugun, yaitu tentara Jepang yang berasal dari pemuda
pemuda Indonesia. Dia menginventarisir senjata yang berhasil dicuri, juga
logistik, dikumpulkan untuk mempersiapkan bila terjadi perang kelak. Dia juga
mencatat nama nama para anggota Gyugun yang bersedia menjadi tentara Peta yaitu
pasukan Pembela Tanah Air. Kesibukan Datuk Penghulu akhir akhir ini memang
makin meningkat.
Sementara itu, kemahiran Mei-mei dalam persilatan setahun ini maju dengan amat
pesat. Salim yang selama ini bertindak sebagai pembantu Datuk Penghulu untuk
mengajar Mei-mei, kini sudah tercecer jauh sekali. Bahkan dalam beberapa kali
latihan, Mei-mei berhasil mengalahkan Datuk Penghulu. Datuk Penghulu jadi
sangat bangga dan bahagia mempunyai murid seperti dia. Berbeda dengan guru guru
silat pada umumnya, yang merasa terhina bila muridnya berhasil mengalahkannya.
Datuk Penghulu justru merasa karena tak ada lagi ilmu yang bisa dia turunkan
kepada Mei-mei.
Sedangkan si Bungsu juga melatih samurainya. Dia tak ikut belajar silat.
Meskipun Datuk Penghulu pernah menawarkan padanya untuk ikut namun dia merasa
sudah terlambat. Keinginannya kini hanya satu, membalaskan dendam keluarganya
__ADS_1
membunuh Saburo dengan samurainya. Ayahnya telah bersumpah sesaat sebelum mati,
bahwa dia akan menuntut balas membunuh Saburo dengan samurai.