
Tikam Samurai - 95
Dan kali terakhir kepalanya putus Semua yang hadir di sana
memalingkan kepala .Tak sanggup melihat kejadian itu. Si Bungsu benar-benar menjadi
amat buas. Dia seperti bukan manusia lagi. Dia seperti sudah menjelma menjadi
tukang jagal yang tidak punya perikemanusiaan.
“Bungsu . . .”
Datuk Penghululah yang berteriak itu. Datuk itu sendiri merasa ngeri dan merasa
bahwa perbuatan si Bungsu itu sudah melampaui batas. Si Bungsu tertegak diam.
Dia segera menyadari kebuasannya sebentar ini. cepat sekali samurainya sudah
masuk ke sarungnya. Dia menatap pada belasan Serdadu Jepang yang tegak terpaku
dekat truk. Dan semua mereka pada merinding ketakutan ditatap anak muda itu.
Kemudian dia berbalik menatap pada mayor tadi. Mayor itu tersurut. Dia seperti
melihat malaikat maut. Kecepatan dan kehebatan anak muda itu mempergunakan
samurainya hampir-hampir tak masuk akalnya.
“Nah, sekarang terserah pada Datuk apa langkah selanjutnya. . .”
Akhirnya si Bungsu berkata pada Datuk Penghulu. Datuk itu menatap pada
teman-temannya. Nampaknya mereka sudah punya rencana. Semua tentara Jepang itu
mereka giring ke sebuah tebat. Dan setelah disuruh telanjang bulat, mereka
disuruh masuk ke dalam tebat yang banyak taik itu.
“Tetap saja berendam di dalam tabek itu, mayor. Jika ada yang keluar, akan kami
bunuh….” kata Datuk Penghulu.
Dan mayor itu bersama belasan anak buahnya terpaksa tegak diam dalam tebat
tersebut. Berendam dalam air setinggi leher dalam keadaan bugil. oo, tak pernah
mereka dipermalukan begini. Tidak pernah, seumur hidup mereka Dengan cepat
__ADS_1
Datuk Penghulu dan teman-temannya mengumpulkan semua senjata. Melemparkannya ke
atas jip milik Kempetai yang sudah mereka rampas.
Kemudian mereka naik. Sebelum berangkat mereka terlebih dahulu merusak truk di
dekat itu agar tak bisa digunakan memburu mereka. Lalu Datuk Putih Nan Sati
menjalankan jip itu kearah Padang Luar melarikan diri. Tak seorang pun yang
tahu ke mana arah mereka. Begitu terdengar mesin jip dihidupkan, mayor tadi
melompat naik ke atas. Tapi ketika lanciriknya yang tak bertutup itu sudah ada
di tebing tebat, sementara betis ke bawah masih di dalam air, seorang anak
buahnya yang masih di tebat berkata:
“Awas, Yor. Anak muda bersamurai itu mungkin masih ada di atas”
Mayor itu tertegun. Kemudian cepat tubuhnya meluncur kembali ke dalam tebat.
Ya, kalau kepadanya diingatkan bahwa yang masih ada di sekitar tebat itu awas,
beberapa orang berbedil masih mengawasi, barangkali mayor itu takkan merasa
gentar. Ia akan tetap naik, berpakaian dan kembali kemaerkas untuk menyusun
mungkin masih ada di atas, maka gacarnya timbul. Saking gacarnya, dia tak dapat
menahan kentutnya. Berantai dan kuat seperti bunyi mercon pula tu.
Prep..prep..thoot…Thootthoot..pohh..pooh..!!
Dua bunyi poh.. yang terakhir terpancar ketika pantatnya sudah masuk ke air
tebat. Hal itu menyebabkan air tebat tentang pantatnya seperti menggelegak
sesaat, karena ada beberapa gelembung udara memecah ke atas. Belasan anak
buahnya yang masih kedinginan dalam tebat busuk itu tiba-tiba terbagi menjadi
tiga kelompok. sebagian tetap diam karena amat kedinginan- Sebagian juga
kedinginan, tapi tak berani tertawa. Mereka hanya nyengir. Tapi sebagian lagi,
kendati tebat itu dingin dan busu, tak dapat menahan rasa gelinya. Suara kentut
__ADS_1
si mayor akibat ketakutan itu benar-benar menjadi hiburan langka, karenanya
merekapun tertawa “Huhu.. hihi..hehe..”
Mayor ini benar-benar merasa gacar. Dan tak seorang pun diantara mereka yang
berani cepat-cepat naik ke darat. Seperti terbayang di mata, betapa kalau
mereka naik, tiba-tiba saja anak muda bersamurai itu muncul. Lalu menebas
batang leher mereka seperti menebas leher Atto tadi.
Hiii…!
Tapi setelah hari agak senja, karena tak tahan dingin akhirnya mayor itu
merangkak juga ke atas. Apalagi bau tebat yang busuk karena *** manusia itu
membuat beberapa dari mereka sudah mutah kayak. Bahagian bawah tubuh mereka
juga jadi geli karena disundul-sundul ikan emas.
Setelah merangkak ke atas si mayor bergegas berpakaian dan berteriak memanggil
prajuritnya yang masih di dalam tebat untuk naik semua. Tatkala semua sudah
naik dan berbaris mengikuti perintahnya, yang tadi berteriak menakut-nakutinya
dengan mengatakan mungkin si Bungsu masih ada, yang menyebabkan kentutnya
terpancar saat dia kembali melosoh ke dalam tebat, dia perintahkan tegak ke
depan. Lalu dengan sepenuh berang dia tampar prajurit **** itu.
“Bagerooo Waang takut-takuti saya yaa”
Puak. . . .puak. . . .plak. . plak.!
Muka prajurit itu lapuak-lapuak di lampang si mayor yang mukanya sudah membiru
kedinginan itu. Tidak hanya yang satu itu, semua dapat bagian tempelengnya,
sebab hampir semua tertawa ketika kentutnya tabosek tadi. Si prajurit hanya
tegak dengan sikap sempurna.
Untunglah tak lama setelah mereka kena tempeleng, sebuah jeep dan sebuah truk
__ADS_1
datang. Seorang ***-I (Kapten) turun. Dia memberi hormat. Namun segera
terheran-heran melihat pasukan yang ada di depannya basah kuyup.