TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 6


__ADS_3

Dalam tiga kali pertemuan itu, tak sepatahpun mereka sempat


bicara. Mereka hanya bertatapan sejenak dalam jarak yang jauh. Kemudian dia


sibuk dengan teman-temannya. ltulah modelnya pertunangan itu. Dia bukannya tak


tahu bahwa Reno adalah gadis cantik yang jadi rebutan banyak orang. Tapi dia


tak mau gadis itu menyangka bahwa dia termasuk salah satu di antara lelaki yang


memburu cintanya. Puih!


Kini pertunangannya yang tak berkelincitan itu sudah tamat riwayatnya. Hatinya


jadi lega. Ya, dia jadi lega. Sebab dia semakin bebas untuk berjudi.


”Hmm, kemana harus mencari modal untuk berjudi?”, pikirnya sambil terus


melangkah meninggalkan surau tua itu.


Kabar tentang putusnya pertunangan itu segera tersebar di kampung-kampung


berdekatan. Namun para pemuda di kampung-kampung itu tak segera dapat


bergembira dengan kabar tersebut. Sebab bersamaan dengan putusnya pertunangan


itu, ke kampung mereka, dan juga ke kampung-kampung lainnya, berdatangan


serdadu Jepang. Mula-mula para serdadu itu datang dengan baik-baik.


Tapi itu hanya sebentar.  Sepekan kemudian segera diketahui bahwa mereka


sebenarnya tengah mencari kaum lelaki. Semula dikatakan bahwa kaum lelaki


dibutuhkan tenaganya untuk bekerja di kota. Beberapa kantor di Bukittinggi,


Payakumbuh, Padang Panjang dan Padang membutuhkan tenaga lelaki. Begitu menurut


kabar yang disiarkan. Namun kabar itu hanya mampu bertahan sebentar. Sebab


pekan berikutnya Jepang-jepang itu tak lagi meminta kaum lelaki dengan bujukan.


Kini mereka main tangkap. Penduduk segera tahu dari beberapa orang di kota,


bahwa lelaki yang ditangkapi dan dibujuk dahulu, ternyata dikirim ke Logas.


Sebuah tempat pendulangan emas di hutan belantara Riau. Selain dipekerjakan di


tambang batu bara, kaum lelaki juga dipaksa membuat jalan kereta api. Tidak


hanya sampai di situ kekejaman Jepang-jepang tersebut. Mereka mulai mengganggu

__ADS_1


anak isteri orang. Dalam beberapa kali perkelahian sudah ada dua tiga penduduk


yang mati kena tebas samurai. Sejenis pedang panjang yang tajamnya bukan main,


dan baru kali itu mereka lihat


Beberapa lelaki mulai menyusun kekuatan untuk melawan kekejaman Jepang itu.


Mereka terutama adalah pesilat-pesilat di bawah pimpinan Datuk Berbangsa, ayah


si Bungsu. Mereka berlatih silat di tengah malam buta. Disaat serdadu Jepang


tak merondai kampung itu. Tempat mereka latihan juga tersembunyi. Sangat


dirahasiakan. Latihan mereka kini ditambah dengan cara menghindarkan serangan


dengan pedang panjang seperti yang dipakai para Jepang itu.


Sebelum ini mereka tak pernah berfikir bahwa ada senjata seperti itu. Yang


pernah mereka latih adalah menghindarkan tikaman keris yang panjangnya hanya


dua tiga jengkal. Atau tebasan pedang yang panjangnya tak sampai dua hasta.


Tapi samurai Jepang itu panjangnya luar biasa. Lebih panjang dari kelewang yang


selama ini mereka kenal. Cara mempergunakannya juga luar biasa cepatnya.


Serdadu Jepang itu nampaknya juga pesilat-pesilat tangguh menurut ukuran negeri


Minang di kampung mereka, pesilat-pesilat Minang itu pasti mati langkah


dibuatnya. Tak sampai beberapa hitungan, si pesilat pasti rubuh dengan dada


atau perut robek. Atau dengan leher hampir putus.


Jepang-jepang itu demikian cepat mencabut samurainya. Kemudian demikian


cepatnya samurai itu berkelebat. Lalu dalam hitungan yang amat singkat, samurai


itu kembali mereka masukkan ke sarungnya. Mulai saat dicabut, sampai memakan


korban dua tiga orang, kemudian masuk kembali ke sarungnya, mungkin hanya dalam


lima hitungan cepat. Artinya hanya dalam  lima detik lebih sedikit!


Sebagai pesilat, Datuk Berbangsa dan teman-temannya mengakui secara jujur


kecepatan Jepang-Jepang itu mempergunakan senjata tradisionil mereka. Kini


mereka berlatih bagaimana caranya melumpuhkan serangan senjata maut panjang

__ADS_1


itu. Sebagai alat latihan mereka mempergunakan kayu sebesar ibu jari kaki dan


panjangnya hampir sedepa.


Malam inipun mereka sedang berlatih di tempat rahasia itu, dipimpin Datuk


Maruhun, ayah Renobulan, bekas tunangan si Bungsu. Gerimis turun malam itu.


Jumlah yang ikut latihan hanya tujuh orang. Yang lain tengah bertugas menyusun


kekuatan di tempat lain. Termasuk ayah si Bungsu. Datuk Maruhun tengah


memberikan petunjuk di tengah sasaran(gelanggang silat) tatkala tiba-tiba


mereka dikejutkan oleh cahaya senter. Mereka berusaha menghindar dengan


menyebar. Tapi ternyata sasaran itu telah dikepung oleh lebih selusin serdadu


Jepang.


“Hemmm, latihan silat ya. Latihan menghindarkan serangan Samurai ha!? Bagus!


Bagus..!”


ujar seorang Jepang berperut gendut bermata sipit sambil maju ke depan.


Ke tujuh lelaki itu tegak dengan diam di tengah sasaran. Di tangan mereka hanya


ada keris. Tapi keris itu takkan berdaya menghadapi bedil yang diacungkan pada


mereka oleh Jepang-Jepang itu. Satu-satunya jalan terbaik bagi mereka adalah


tetap menanti. Menanti apa yang akan terjadi. Mereka berbaris tegak tujuh


orang. Menatap ke depan, ke arah si gemuk yang barangkali merupakan komandan


penyergapan ini.


“Teruslah latihan!. Saya suka silat Minang. Bagus banyak, eh banyak bagus”,


ujar si gemuk sambil menerkam ketujuh lelaki itu dengan tatapan matanya.


Ketujuh pesilat itu tak bergerak dari tempat mereka.


“Dari mana mereka tahu tempat sasaran ini?,” bisik Datuk Maruhun pada lelaki


yang tegak di sisinya.


Lelaki itu tak menyahut. Semua mereka memang merasa terkejut atas kemunculan


serdadu Jepang itu.

__ADS_1


Tak seorangpun yang mengetahui tempat latihan ini selain anggota mereka. Apakah


di antara mereka ada yang berkhianat?


__ADS_2