
Dalam tiga kali pertemuan itu, tak sepatahpun mereka sempat
bicara. Mereka hanya bertatapan sejenak dalam jarak yang jauh. Kemudian dia
sibuk dengan teman-temannya. ltulah modelnya pertunangan itu. Dia bukannya tak
tahu bahwa Reno adalah gadis cantik yang jadi rebutan banyak orang. Tapi dia
tak mau gadis itu menyangka bahwa dia termasuk salah satu di antara lelaki yang
memburu cintanya. Puih!
Kini pertunangannya yang tak berkelincitan itu sudah tamat riwayatnya. Hatinya
jadi lega. Ya, dia jadi lega. Sebab dia semakin bebas untuk berjudi.
”Hmm, kemana harus mencari modal untuk berjudi?”, pikirnya sambil terus
melangkah meninggalkan surau tua itu.
Kabar tentang putusnya pertunangan itu segera tersebar di kampung-kampung
berdekatan. Namun para pemuda di kampung-kampung itu tak segera dapat
bergembira dengan kabar tersebut. Sebab bersamaan dengan putusnya pertunangan
itu, ke kampung mereka, dan juga ke kampung-kampung lainnya, berdatangan
serdadu Jepang. Mula-mula para serdadu itu datang dengan baik-baik.
Tapi itu hanya sebentar. Sepekan kemudian segera diketahui bahwa mereka
sebenarnya tengah mencari kaum lelaki. Semula dikatakan bahwa kaum lelaki
dibutuhkan tenaganya untuk bekerja di kota. Beberapa kantor di Bukittinggi,
Payakumbuh, Padang Panjang dan Padang membutuhkan tenaga lelaki. Begitu menurut
kabar yang disiarkan. Namun kabar itu hanya mampu bertahan sebentar. Sebab
pekan berikutnya Jepang-jepang itu tak lagi meminta kaum lelaki dengan bujukan.
Kini mereka main tangkap. Penduduk segera tahu dari beberapa orang di kota,
bahwa lelaki yang ditangkapi dan dibujuk dahulu, ternyata dikirim ke Logas.
Sebuah tempat pendulangan emas di hutan belantara Riau. Selain dipekerjakan di
tambang batu bara, kaum lelaki juga dipaksa membuat jalan kereta api. Tidak
hanya sampai di situ kekejaman Jepang-jepang tersebut. Mereka mulai mengganggu
__ADS_1
anak isteri orang. Dalam beberapa kali perkelahian sudah ada dua tiga penduduk
yang mati kena tebas samurai. Sejenis pedang panjang yang tajamnya bukan main,
dan baru kali itu mereka lihat
Beberapa lelaki mulai menyusun kekuatan untuk melawan kekejaman Jepang itu.
Mereka terutama adalah pesilat-pesilat di bawah pimpinan Datuk Berbangsa, ayah
si Bungsu. Mereka berlatih silat di tengah malam buta. Disaat serdadu Jepang
tak merondai kampung itu. Tempat mereka latihan juga tersembunyi. Sangat
dirahasiakan. Latihan mereka kini ditambah dengan cara menghindarkan serangan
dengan pedang panjang seperti yang dipakai para Jepang itu.
Sebelum ini mereka tak pernah berfikir bahwa ada senjata seperti itu. Yang
pernah mereka latih adalah menghindarkan tikaman keris yang panjangnya hanya
dua tiga jengkal. Atau tebasan pedang yang panjangnya tak sampai dua hasta.
Tapi samurai Jepang itu panjangnya luar biasa. Lebih panjang dari kelewang yang
selama ini mereka kenal. Cara mempergunakannya juga luar biasa cepatnya.
Serdadu Jepang itu nampaknya juga pesilat-pesilat tangguh menurut ukuran negeri
Minang di kampung mereka, pesilat-pesilat Minang itu pasti mati langkah
dibuatnya. Tak sampai beberapa hitungan, si pesilat pasti rubuh dengan dada
atau perut robek. Atau dengan leher hampir putus.
Jepang-jepang itu demikian cepat mencabut samurainya. Kemudian demikian
cepatnya samurai itu berkelebat. Lalu dalam hitungan yang amat singkat, samurai
itu kembali mereka masukkan ke sarungnya. Mulai saat dicabut, sampai memakan
korban dua tiga orang, kemudian masuk kembali ke sarungnya, mungkin hanya dalam
lima hitungan cepat. Artinya hanya dalam lima detik lebih sedikit!
Sebagai pesilat, Datuk Berbangsa dan teman-temannya mengakui secara jujur
kecepatan Jepang-Jepang itu mempergunakan senjata tradisionil mereka. Kini
mereka berlatih bagaimana caranya melumpuhkan serangan senjata maut panjang
__ADS_1
itu. Sebagai alat latihan mereka mempergunakan kayu sebesar ibu jari kaki dan
panjangnya hampir sedepa.
Malam inipun mereka sedang berlatih di tempat rahasia itu, dipimpin Datuk
Maruhun, ayah Renobulan, bekas tunangan si Bungsu. Gerimis turun malam itu.
Jumlah yang ikut latihan hanya tujuh orang. Yang lain tengah bertugas menyusun
kekuatan di tempat lain. Termasuk ayah si Bungsu. Datuk Maruhun tengah
memberikan petunjuk di tengah sasaran(gelanggang silat) tatkala tiba-tiba
mereka dikejutkan oleh cahaya senter. Mereka berusaha menghindar dengan
menyebar. Tapi ternyata sasaran itu telah dikepung oleh lebih selusin serdadu
Jepang.
“Hemmm, latihan silat ya. Latihan menghindarkan serangan Samurai ha!? Bagus!
Bagus..!”
ujar seorang Jepang berperut gendut bermata sipit sambil maju ke depan.
Ke tujuh lelaki itu tegak dengan diam di tengah sasaran. Di tangan mereka hanya
ada keris. Tapi keris itu takkan berdaya menghadapi bedil yang diacungkan pada
mereka oleh Jepang-Jepang itu. Satu-satunya jalan terbaik bagi mereka adalah
tetap menanti. Menanti apa yang akan terjadi. Mereka berbaris tegak tujuh
orang. Menatap ke depan, ke arah si gemuk yang barangkali merupakan komandan
penyergapan ini.
“Teruslah latihan!. Saya suka silat Minang. Bagus banyak, eh banyak bagus”,
ujar si gemuk sambil menerkam ketujuh lelaki itu dengan tatapan matanya.
Ketujuh pesilat itu tak bergerak dari tempat mereka.
“Dari mana mereka tahu tempat sasaran ini?,” bisik Datuk Maruhun pada lelaki
yang tegak di sisinya.
Lelaki itu tak menyahut. Semua mereka memang merasa terkejut atas kemunculan
serdadu Jepang itu.
__ADS_1
Tak seorangpun yang mengetahui tempat latihan ini selain anggota mereka. Apakah
di antara mereka ada yang berkhianat?