TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 81


__ADS_3

Tikam Samurai - 81


Datuk Penghulu menyulut korek api. Kemudian melemparkannya


ke mayat yang telah disiram bensin tersebut. Api segera saja menyala dengan


marak. Melalap bangkai-bangkai Jepang itu. Kemudian mereka menghilang ke dalam


palunan hutan bambu. Meninggalkan truk dan bangkai-bangkai Jepang itu dimakan


api. Tak berapa lama kemudian, subuh buta itu dipecahkan oleh dentuman dahsyat


data truk itu meledak berkeping-keping. Menghancurkan dan menghamburkan bangkai


hangus menjadi serpihan-serpihan tak berbentuk. Hari itu pecah kabar di kota


Bukittinggi tentang pembantaian tentara Jepang tersebut. Kempetai dan


pasukan-pasukan Jepang memeriksa dan memasuki seluruh hutan bambu di Tarok dan


Padang Gamuak.


Mereka mencari tempat persembunyian Datuk Penghulu dan si Bungsu. Sampai sore


seluruh rimba bambu itu mereka periksa dengan lebih dari lima puluh tentara dan


tiga ekor anjing pelacak. Namun kedua orang yang mereka cari tak kelihatan


batang hidungnya. Bahkan dekat rumah Datuk Penghulu yang terbakar itu pun tak


kelihatan ada bekas kuburan. Syo-iAtto yang pada malamnya memimpin penyergapan


dan memperkosa perempuan-perempuan itu menjadi penunjuk jalan.


Dari dia komandan Garnizun Jepang di Bukittinggi mendapatkan kabar bahwa


setidak-tidaknya ada dua orang yang mati malam sebelumnya. Yaitu istri dan anak


Datuk Penghulu.Setelah tak berhasil mencari jejak Datuk penghulu, kini Kempetai


mulai memeriksa seluruh tanah perkuburan kaum di kota itu. Mereka mencari


kuburan yang baru digali. Kalau ada yang baru maka diselidiki, kuburan siapa


itu.


Mereka berharap menemukan kuburan anak dan istri Datuk Penghulu. Dengan


menemukan kuburan itu, mereka berharap dapat mencium jejak kedua orang

__ADS_1


tersebut. Penjagaan dan pemeriksaan di seluruh tempat dalam kota dilakukan


dengan ketat dan keras. Setiap kendaraan, motor, pedati, bendi, gerobak dan


tempattempat yang mencurigakan diperiksa dengan cermat.


Tapi kedua orang itu lenyap seperti embun di siang hari. Tapi kemanakah


lenyapnya kedua orang itu ? Dan kemana pula mayat-mayat si Upik dan ibunya


mereka sembunyikan? Ternyata kedua orang itu tak pergi jauh. Mereka bersembunyi


di sebuah surau kecil di kampung Tarok itu juga. Entah karena apa, surau itu


ternyata tak diperhatikan oleh Jepang. Padahal belasan tentara Jepang lalu


lalang di depannya.


Mungkin karena surau itu letaknya di pinggir jalan. Atau mungkin karena Tuhan


memang melindungi mereka, surau itu tak sempat diperiksa. Dibahagian belakang


surau itu ada pekuburan yang terlindung di balik pohon pisang. Subuh tadi kedua


mayat anak dan istri Datuk Penghulu telah mereka kuburkan di belakang surau


itu. Mereka dibantu oleh garin di surau tersebut.


loteng surau itu. Di atas loteng itu pula Mei-Mei terbaring. Loteng surau itu


cukup lebar untuk menampung enam orang dewasa. Jalan naik dan turunnya dari


belakang. Yaitu dari arah kuburan. Di balik tanah perkuburan kecil itu terdapat


hutan bambu. Dan di hutan bambu itu sejak tadi puluhan tentara Jepang telah


mondar-mandir bersama anjing pelacaknya.


Kedua mereka mendengarkan pencarian itu dengan tegang dari atas pagu di surau


itu. Si Bungsu tiba-tiba mendengar suara Mei-mei memanggil. Gadis itu


dibaringkan di atas sehelai tikar dan diselimuti dengan kain panjang. Dia telah


diberi obat-obatan yang dibuat oleh si Bungsu.


“Uda. . . .”


“Mei-mei. . . ,” si Bungsu mendekat dan memegang tangan gadis itu dengan

__ADS_1


lembut.


“Uda. . .”


“Ya sayang. . .”


“Mana Bapak. . .?”


Si Bungsu menoleh pada Datuk Penghulu, kemudian mengangguk perlahan. Datuk itu


mendekati mereka.


“Saya disini nak. . .”


“Pak, . . . maafkan saya. Saya tidak bisa membantu ibu dan Upik. . .”


“Tenanglah nak. Jangan menyesali dirimu. Memang janjian mereka sudah begitu…”


“Tapi. . . harusnya saya bisa membantu mereka.”


“Jangan dipikirkan juga nak. . .”,


Mei-mei menangis.


“Terima kasih atas budi bapak selama ini. Menompangkan diri saya, mengajarkan


saya silat. Memberikan saya kasih sayang, seperti bapak menyayangi si Upik.


Kasih sayang yang tak pernah saya terima dari ibu bapak saya. . .”


“Tenanglah nak. . .jangan itu dipikirkan . .”


“Saya memikirkannya karena saya orang cina. Selama ini orang cina selalu


disisihkan oleh orang Melayu.”


“Mei-mei, jangan begitu sayang. . .” si Bungsu berkata perlahan.


Mei-mei memegang tangan si Bungsu.


“Uda. . . benarkah uda mencintai saya. . . .?”


“Kenapa tidak. Saya seorang lelaki, dan saya tak pernah berbohong dengan ucapan


saya.”


“Uda, tidak menyesal dengan keputusan uda ?”


“Uda, saya tak kuat lagi. Maut sudah menjangkaukan tangannya pada saya. . .”

__ADS_1


“Mei-mei, tenanglah…” tapi meskipun dia berkata begitu, si Bungsu merasakan


bulu tengkuknya tetap saja merinding mendengar kata-kata gadis itu.


__ADS_2