
Tikam Samurai - 97
Si Bungsu melakukan perintah Mayor itu. Dan melemparkan
samurainya ke tanah. Kemudian samurai itu dipungut oleh seorang sersan. Mayor
yang pernah mereka rendam di dalam tebat di Birugo beberapa hari yang lalu itu
melangkah mendekat, begitu dia lihat samurai si Bungsu sudah dipungut anak
buahnya.
Mayor ini merasa malu bukan main sejak peristiwa berendam dalam tebat tersebut.
Marah serta dendam itu kini dia muntahkan. Dia tegak setengah depa di depan si
Bungsu. Menatap anak muda itu dengan pandangan seperti akan melulurnya
mentah-mentah. Tiba-tiba tangannya bergerak. cepat sekali. Demikian cepatnya, sehingga
Datuk penghulu sendiri tak melihat bagaimana cara mayor itu menggerakkan
tangannya. Si Bungsu terdengar memekik.
Tangan mayor itu bergerak lagi, dan meski sudah ditahan sekuat mungkin, namun
tetap saja si Bungsu tak dapat untuk tidak memekik. Gerakan Mayor itu adalah
sebuah gerakan karate bern chudan Nukite choki. Yaitu sebuah tusukan dengan
keempat jari-jari tangan ke luka di bahu kiri si Bungsu. Tusukan jari-jari
tangan yang dirapatkan itu amat telak dan amat cepat.
Kembali menusuk luka bekas tebasan samurai Syo-i Atto itu seperti pisau menusuk
daging. Pada tusukan keempat jari pertama, kain yang membalut luka sementara
dibahu si Bungsu jebol, amblas ke dalam luka tersebut. Pada hantaman ke dua,
keempat jari tangan mayor tersebut masuk hampir sepertiganya. Demikian kuat dan
cepatnya gerakan itu. Dilakukan oleh seorang ahli karate yang telah memiliki
tingkatan Dan IV. Yaitu tingkatan keempat bagi pemegang sabuk hitam. Mendengar
pekik yang menahan sakit luar biasa dari mulut si Bungsu, itu Datuk Penghulu
__ADS_1
yang tegak empat depa di belakangnya tersentak.
Anak muda itu rubuh ke tanah. Saat itulah, dengan melupakan setiap mara bahaya,
semata-mata karena kasihan dan sayangnya pada si Bungsu, Datuk Penghulu
tiba-tiba menghambur. Tubuhnya melayang di udara. Dan sebelum Kempetai-Kempetai
itu sadar apa yang terjadi, tendangannya mendarat di kepala Syo Sha tersebut.
Mayor itu terpelanting dua depa. Jatuh berguling di tanah, seorang prajurit
mengangkat bedil.
Namun Datuk yang sudah kalap itu bergulingan di Ketika dia berdiri,
tendangannya menghantam kerampang prajurit yang tengah membidik senapan itu
meledak, tapi alat-alat di kerampangnya juga meledak kena tendang. Peluru itu
senapannya menghantam tanah. Masih dalam kecepatan yang hanya dimiliki oleh
pesilat-pesilat tangguh, pada langkah keempat setelah menyepak kerampang si
prajurit, dia sampai kedekat Mayor yang kini sudah akan bangkit.
ketika samurainya sudah keluar separoh. Tapi saat itu pula tendangan Datuk
Penghulu menghajar dadanya. Namun saat itu pula samurainya berkelebat. Tubuh
mayor itu tercampak. Dari mulutnya menyembur darah merah. Rusuknya patah tiga
buah, lalu tergeletak tak sadar diri dengan muka membiru.
Datuk Penghulu tegak dengan kaki terpentang. Menghadap Mayor itu dengan
perasaan muak. Disamping mayor itu tergeletak samurainya. Si Bungsu yang baru
saja tergolek jatuh, melihat betapa perkasanya Datuk itu. Demikian cepat dia
bergerak. Benar-benar seorang pesilat yang tangguh. Dia melihat betapa Datuk
itu tetap tegak tanpa bergerak ketika Kempetai-kempetai itu mengepungnya dengan
sangkur terhunus. Lalu tiba-tiba tubuh Datuk itu meliuk. Dan lambat-lambat dia
berputar di atas kedua lututnya. Dan lambat-lambat dia jatuh di atas kedua
__ADS_1
lututnya. Tubuhnya berputar, menghadap pada si Bungsu yang masih tertelentang.
Dengan terkejut, sesaat sebelum jatuh pingsan, si Bungsu melihat betapa perut
Datuk itu robek mengalirkan darah perlahan ke bawah. Mereka bertatapan. Mulut
Datuk itu bergerak. Tapi satu suara pun tak keluar. Namun, meskipun tak ada
suara, si Bungsu seperti dapat menangkap apa yang akan diucapkan Datuk itu,
“Jaga dirimu baik-baik. Tetap bertahanlah untuk hidup, Jangan menyerah pada
penjajah. Tuhan bersamamu, nak.”
Sepertinya kalimat itulah yang akan diucapkan Datuk Penghulu. Mulutnya tak
bersuara. Tapi si Bungsu dapat membaca kalimat itu lewat ekspresi wajahnya.
Lewat matanya yang berangsur jadi redup.
“Pak. . .” suara si Bungsu bergetar perlahan.
Namun setelah itu dia sendiri jatuh pingsan. Hantaman jari-jari tangan mayor
itu amat menderanya. Luka di dadanya robek. Penderitaan itu tak mampu dia
tahankan, dia jatuh pingsan. Dan itulah saat terakhir dia melihat Datuk
Penghulu. Sebab orang tua perkasa itu mati menyusul anak dan istrinya. Tatkala
dia menendang Mayor itu, samurai si mayor sudah tercabut separoh. Ketika
tendangannya mendarat di rusuk si mayor Jepang itu membabatkan.
Mayor itu adalah samurai yang tangguh. Pangkatnya yang Syo Sha itu saja sudah
menjamin bahwa dia adalah seorang samurai yang tak bisa dikatakan tak cepat.
Setiap perwira Jepang tidak hanya wajib mahir dalam mempergunakan samurai.
Lebih dari itu, samurai merupakan suatu seni bela diri turun-temurun. Yang
mendarah daging, yang merupakan kebanggaan tradisi bagi lelaki Jepang untuk
mempelajarinya Makin mahir lelaki Jepang dengan samurainya, makin tinggi
penghormatan orang padanya
__ADS_1