TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 118


__ADS_3

Tikam Samurai - 118


Tapi yang paling sakit perasaannya adalah ketika dia ketahui


bahwa Datuk Penghulu mati dihantam samurai Akiyama. Inilah dendam yang harus


dia balaskan. Membalas kematian Datuk Penghulu.


Dan akhirnya kedua musuh bebuyutan yang saling membenci ini bertemu muka.


Mereka bertemu dalam saat-saat yang menguntungkan bagi posisi si Bungsu. Waktu


itu ada suatu upacar dimana selain bala tentara Jepang, juga hadir


anggota-anggota pejuang Indonesia dan anggota Gyugun.


Tentara Jepang yang hadir sekitar satu kompi (seratus orang). Pihak


pejuang-pejuang Indonesia agak kurang, namun sudah mempunyai senjata agak


komplit.


Upacara itu berlangsung di depan asrama militer Birugo. Ada lapangan luas di


depan markas itu. Upacra dipimpin langsung oleh Mayor Jenderal Fujiyama.


Ketika upacara itu selesai, pasukan Indonesia sudah siap-siap untuk


meninggalkan lapangan upacara. Demikian pula pasukan Jepang siap untuk kembali


ke markas mereka yang terletak di belakang lapangan upcara itu. Saat itulah


Akiyama tiba-tiba melihat seorang anak muda di antara puluhan penduduk sipil


yang tegak di tepi lapangan melihat jalannya upacara itu.


“Bungsu!!!” dia berseru dari tempat tegaknya. Semua orang terkejut. Termasuk


Jenderal Fujiyama. Akiyama saat itu tengah bertindak sebagai Komandan Upacara.


Dia masih tegak dititik putih tengah lapangan ketika dia menyebut nama si


Bungsu.


Setiap tentara Jepang, setiap anggota Gyugun mengenal nama itu dengan baik.

__ADS_1


Makanya tentara yang sudah siap-siap untuk meninggalkan lapangan itu, segera


tegak kembali ditempatnya. Jenderal Fujiyama sendiri juga tertegak di atas


podium kehormatan. Demikian pula perwira-perwira Jepang lainnya.


Penduduk yang tegak diarah mana Akiyama menoleh pada surut dengan takut. Dan


kini tinggalah disana seorang anak muda. Memakai pantalon biasa. Memakai baju


gunting cina dan sebuah tongkat di tangannya.


“Ya, sayalah ini, Akiyama….” Anak muda itu berkata perlahan. Seruan-seruan


tertahan terdengar dari mulut para serdadu Jepang. Sementara anggota-anggoat


Heiho, Gyugun, para pejuang lainnya dan penduduk pada berbisik.


“Akhirnya kau kudapatkan Bungsu…” Akiyama berseru lagi.


“Ya, saya memang datang untuk mencarimu….” Si Bungsu tak kalah gertak. Dan


sebelum Akiyama mempergunakan kekuasaannya untuk memerintahkan menangkap


dirinya, si Bungsu cepat-cepat berkata dengan lantang.


Bertarung secara kesatria dihadapan semua yang hadir sebagai saksi. Itu kalau


anda memang benar-benar seorang Samurai Sejati!” suaranya lantang. Bergema


diudara yang begitu panas. Muka Akiyama jadi merah.


“Seluruh tentara Jepang jadi saksi untuk tuan. Seluruh tentara Indonesia


menjadi saksi untuk saya…” si Bungsu berkata lagi. Suasana sepi.


Tiba-tiba Letnan Kolonel itu menghadap pada Jenderal Fujiyama kemudian


melangkah mendekatinya. Pada jarak empat depa dia berhenti. Kemudian memberi


hormat dengan sikap gagah. Lalu bicara dalam bahasa Jepang, Fujiyama kelihatan


mengangguk-ngangguk. Kemudian Akiyama memberi hormat lagi. Kali ini Jenderal


Fujiyama memutar tegak menghadap si Bungsu. Lalu terdengar suaranya bergema :

__ADS_1


“Saya sudah lama mendengar namamu anak muda. Hari ini engkau menantang saya.


Bagi samurai Jepang adalah suatu kehormatan tertinggi untuk menerima tantangan


berkelahi dengan Samurai melawan musuh. Namun untuk engkau ketahui, baru kali


ini terjadi dalam sejarah kemiliteran Jepang, ada seorang asing yang menantang


seorang Jepang untuk bertarung dengan pedang Samurai. Saya telah mendengar


permintaanmu, kemudian mendengar penjelasan Akiyama. Dia bersedia melayanimu.


Dan saya merestuinya. Akiyama adalah seorang perwira kami yang sangat mahir


dengan samurainya. Saya sangat menyesalkan kalau engkau sampai mati


ditangannya. Baik, saya jadi saksi, berikut seluruh tentara Jepang. Dan segenap


pejuang-pejuang Indonesia serta masyarakat umum yang ada saat ini jadi saksi


untukmu. Saya menjamin kebebasan bagimu, andainya engkau menang. Engkau boleh


pergi kemana engkau suka, jika engkau keluar dengan selamat dalam pertarungan


ini. Bagi kami, tantanganmu adalah suatu kehormatan, dan bila engkau menang


adalah menjadi kehormatan pula bagi kami untuk membiarkan engkau bebas, Bersiaplah!”


Pasukan Jepang dan Heiho serta pejuang-pejuang Indonesia itu segara saja


membentuk sebuah lingkaran yang besar. Perlahan-lahan si Bungsu memasuki


lingkaran besar itu dan lingkaran itu menutup di belakangnya.


Akiyama membuka pistolnya memberikannya pada ajudannya. Membuka penpels air


dipinggang, topi waja dikepala, dan ransel di punggung. Semua yang


memberatkannya untuk bergerak leluasa ini dia lucuti dan dia serahkan pada


ajudan yang meletakkannya ke pinggir.


Akhirnya dipinggangnya hanya ada samurai yang tergantung di pinggang kanan,


seperti telah diceritakan terdahulu, ketika dia menyergap rapat di Birugo, dia

__ADS_1


adalah seorang yang kidal dalam mempergunakan pedang samurainya.


__ADS_2