TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 80


__ADS_3

Tikam Samurai - 80


Pukulan tangan kanannya mendarat di perut Kempetai yang


tengah membidikkan bedilnya itu. Kedua tubuh mereka terjatuh ke atas kap depan.


Kempetai itu duluan tegak. Tapi kaki Datuk Penghulu menghajar pusarnya dari


bawah. Dia terlambung ke tanah persis di depan truk. Ketika akan bangkit, saat


itu pula tubuh Datuk Penghulu terjun. Kakinya mendarat di tengkuk si Jepang.


Terdengar tulang patah. Dan Kempetai itu mati Pada saat yang sama, si Bungsu


menyelesaikan tugasnya di belakang. Kempetai kesepuluh mati dengan leher putus.


Demikian cepatnya keadaan itu berlangsung.


Sehingga, dari saat truk itu berhenti, sampai pada Kempetai yang kesepuluh


orang itu mati, waktunya barangkali hanya tiga menit. Memang terlalu fantastis.


Namun begitulah yang terjadi. Si Bungsu pembenci Jepang nomor satu. Dalam


usahanya mencari Kapten Saburo Matsuyama untuk membalaskan dendam keluarganya,


dia menyapu habis set iap Jepang yang menghalanginya. Dan pagi ini, kembali


samurainya bekerja terlalu cepat bagi Jepang-Jepang tersebut. Sedangkan Datuk


penghulu, yang selama ini terlalu sabar dengan menyimpan-nyimpan ilmunya, kini


setelah anak dan istrinya mati ternista di tangan Jepang, membalaskan dendamnya


dengan segenap kebencian.


Empat orang Kempetai mati kena makan tangan dan kakinya pagi itu. Dan saat


itulah chu-I (Letnan satu) yang memimpin regu penyergapan itu menyadari bahaya


yang mengancamnya. Sejak tadi dia duduk di sebelah sopir. Dia hanya mendengar


suara hingar bingar di belakangnya. Dan tiba-tiba di kap di depannya ada tubuh


yang jatuh. Tubuh itu tak lain tubuh Datuk Penghulu dengan seorang prajurit.


Ketika prajurit itu mati, dia baru menyadari bahaya mengancam. Segera saja dia


mengeluarkan pistolnya. Kemudian dari tempat duduknya dia membidik ke arah

__ADS_1


kepala Datuk Penghulu di luar sana. Dia bermaksud menembak Datuk itu melalui


kaca depan.


Namun subuh itu memang merupakan subuh berlumur darah bagi balatentara Jepang


di kota Bukittinggi. Sebab, melalui kaca yang membatasi ruangan sopir dengan


bahagian belakang truk si Bungsu yang tegak di bahagian belakang sekali dari


truk itu, melihat pistol yang sedang dibidikkan kearah Datuk Penghulu di depan


sana.


Untuk berlari mengejar tak mungkin lagi. Maka satu-satunya jalan tercepat


adalah dengan melemparkan samurai di tangannya. Dengan mengumpulkan segenap


tenaga anak muda ini tiba-tiba melemparkan samurainya. Samurai itu terbang


seperti kilat. Ujungnya menghantam kaca belakang truk. Menembusnya, dan sedetik


sebelum pistol di tangan chu-I itu meledak, samurai tersebut menghujam di


tengkuknya.


Pistolnya meledak juga. Pelurunya memecah kaca depan, tapi arahnya sudah tak


mati. sopir truk itu menjadi kecut. Dia menghidupkan mesin truk dan menginjak


gas. Namun Datuk Penghulu lebih cepat lagi. Dia membuka pintu truk tersebut dan


menyeret sopirnya turun. Truk itu terhenti tiba-tiba. Saat itu si Bungsu sampai


ke depan.


“Jangan bunuh dia.” si Bungsu berseru ketika Datuk itu sudah siap mengirimkan


pukulan kejantung Jepang tersebut.


“Dimana Sho-i Atto yang memimpin penyergapan malam tadi “? Suara si Bungsu


mendesis tajam.


Sopir truk tak segera menjawab. Si Bungsu merenggutkan samurai dari tengkuk


cho-I yang telah mati di sebelah sopir tadi. Di sepanjang mata samurai itu


masih meleleh darah. Sopir itu tiba-tiba menjadi ngeri bukan main. Dia telah

__ADS_1


mendengar dari bisik-bisik temannya, bahwa ada seorang anak muda yang sangat


mahir dan sangat cepat dalam mempergunakan samurai. Kini anak muda itu ada di


depannya. Tanpa dapat ditahan, tubuhnya jadi menggigil.


“Sebutkan dimana Atto sekarang . . .,” suara si Bungsu mendesis lagi.


“A. . . .apakah saya akan tuan bebaskan, kalau saya sebutkan di mana dia?”


Jepang itu coba mencari jalan selamat dari lobang jarum ini.


Namun tiba-tiba Datuk Penghulu menamparnya. Tamparan Datuk yang tengah berang


ini bukan main dahsyatnya. Gigi sopir itu copot dua buah.


“Sebutkan dimana Atto atau kami bunuh waang sekarang …..” suara Datuk itu


mengancam.


“Ya . Ya Tapi berjanjilah bahwa kalian akan membebaskan saya. . . .”


Suaranya terputus. Karena kaki Datuk Penghulu terangkat. Lututnya menghantam


selangkang Jepang itu. Mata Jepang itu terbeliak. Dan Datuk Penghulu melepaskan


pegangannya. Tubuh Jepang itu jatuh ke tanah.


Dia memang sudah mendapatkan yang dia inginkan. Suatu kebebasan. Datuk itu


berkata perlahan melihat tubuh Jepang yang tak berkutik itu.


“Atto yang engkau tanyakan itu pasti berada di markasnya buyung. Dan kita akan


mendapatkan dia. Dia harus membayar hutangnya. Hutang darah dibayar darah.


Hutang nyawa harus dia bayar dengan nyawanya. Nah, cepat kita menghindarkan


dari sini ….”


Sambil berkata begitu, Datuk Penghulu mengangkat tubuh sopir tersebut. Kemudian


melemparkannya ke atas truk bahagian belakang. Si Bungsu mengangkat tubuh


sersan yang mati kena hantam di depan truk. Juga meletakkannya di bak belakang


bersama sebelas mayat lainnya. Datuk Penghulu mengambil jerigen berisi minyak


yang terikat di luar truk itu. Kemudian menyerakkannya pada mayat-mayat di

__ADS_1


belakang. Si Bungsu membuka kap truk itu. Memecah karburatornya. Bensin meleleh


keluar.


__ADS_2