TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 112


__ADS_3

Tikam Samurai - 112


“Boleh kuambil putiknya ini bukan ?” tanyanya. Salma hanya


tersenyum.


“Boleh ndak?” tanyanya ragu melihat senyum gadis itu. Dia ragu dan berdebar


melihat senyum Salma yang memikat. Masih tetap tersenyum, gadis itu menjawab:


“Ambillah. Abang tinggal memilih mana yang abang suka untuk memetiknya…” si


Bungsu merasa disindir. Tapi dia memetik terus.


“Tolong tampung di bawah…” katanya. Salam mengambil sebuah panci. Kemudian


menampung putik-putik perawas itu. Umunya yang dipetik si Bungsu adalah yang


sebesar ibu jari. Cukup lama dia memetik. Ketika sudah terkumpul sekitar


seratus buah, dia baru turun. Salma jadi heran, untuk apa putik perawas


sebanyak ini oleh anak muda itu? Tapi keherannya dia simpan saja dihati.


“Nah, kini tetaplah tegak di sini, ambil dua buah kemudian lemparkan kearahku


kuat-kuat. Mengerti…?”


Salma mengangguk. Kini dia mengerti bahwa putik jambu itu akan dipergunakan


sebagai alat untuk latihan. Si Bungsu mengambil jarak sepuluh depa di depan


Salma. Kemudian memandang pada gadis itu. Samurainya dia pegang dengan tangan


kiri. Sementara tangan kanannya tergantung lemas disisi tubuh. Dia memusatkan


konsentrasi. Menatap diam-diam pada Salma. Salma jadi gugup ditatap begitu.


Kemudian menunduk.


“Hei, jangan menunduk!” si Bungsu berseru. Salma jadi merah mukanya.


“Habis abang tatap begitu terus-terusan. Saya jadi gugup…” katanya


tersipu-sipu. Dan tiba-tiba si Bungsu pula yang jadi jengah. Namun dia


kuat-kuatkan hatinya. Dengan muka yang juga bersemu merah, dia kembali menatap

__ADS_1


Salma. Gadis itu juga menatapnya.


“Nah…siaplah. Engkau boleh melemparkan dua buah putik jambu itu bila saja


engkau sukai. Dan jangan berhenti. Lemparkan terus sekali dua buah. Mengerti ?”


Salma mengangguk. Dia ingin membantu anak muda ini. Membantu mengembalikan


semangat dan kepercayaan terhadap dirinya.


Dialah yang paling mengetahui, betapa anak muda ini kehilangan kepercayaan


terhadap dirinya sejak disiksa dalam terowongan itu. Dia mengetahui hal itu


ketika merawatnya dibiliknya lebih dari sebulan. Dia mendengar betapa anak muda


ini merintih. Memekik. Mengeluh dan bahkan menggigil melihat jari-jari tangan kirinya


yang dipatahkan Jepang.


Dan ketika telah sembuh, dia melihat betapa setiap kali anak muda itu merenung.


Menatap pada tangannya. Mengepal-ngepalkan tangannya itu. Kemudian


menggerak-gerakkannya. Kini nampaknya dia ingin berlatih. Dan Salma berniat membantunya


“Awas…!” gadis itu berteriak tiba-tiba sambil melemparkan dua buah putik


perawas. Lemparannya cukup cepat dan kuat. Si Bungsu terkejut, dan tangannya


menggapai kehulu samurai. Tapi kedua putik perawas itu telah mengenai tubuhnya


sementara samurainya belum keluar sedikitpun!


Salma jadi kaget. Kenapa terlalu lamban anak muda itu?


“Uda, kenapa?” tanyanya sambil mendekat pada si Bungsu. Si Bungsu menggelan.


Salma tegak disisinya.


“Kenapa. Tanganmu sakit lagi…?” tanyanya sambil memegang tangan si Bungsu. Si


Bungsu tambah menunduk. Menarik nafas. Panjang, kemudian menatap pada Salma.


“Ya. Tidak hanya tangan, tapi tubuh saya juga terasa lumpuh…” katanya perlahan.


Salma jadi pucat.

__ADS_1


“Kenapa…?” bisiknya.


“Karena matamu..” jawab si Bungsu. Salma membelalak. “ Ya. Saya seperti lumpuh


engkau tatap begitu Salma”.


Dan tiba-tiba gadis itu menunduk. Hatinya berdebar kencang. Kakinya


menggaris-garis tanah. Dan si Bungsu terkejut, ketika dilihatnya pipi gadis itu


basah.


“Salma..? saya menyakitimu…?’ Salma masih menggaris-garis tanah dengan ibu jari


kakinya. Kemudian menggeleng.


“Lalu kenapa?”


“Uda mempermainkan saya….” Jawabnya perlahan. Dia sebenarnya bahagia. Tapi


sekaligus juga sedih. Bukankah dalam mimpinya, dalam igaunya ketika sakit, dia


dengar si Bungsu puluhan kali menyebut nama Mei-Mei?


“Mempermainkan…? Sungguh mati, saya jadi gugup seperti lumpuh kau tatap seperti


itu…. Tapi maafkan kalau ucapan saya itu menyinggung perasaanmu…”


Salma mengangkat kepala. Kemudian tersenyum. Betapapun dia harus membantu anak


muda itu mengembalikan kepercayaan dirinya.


“Tidak marah…? Tanya si Bungsu. Salma menggeleng. Salma tersenyum. Si Bungsu


menarik nafas. Si Bungsu balas tersenyum. Kemudian Salma kembali ketempatnya,


kesisi baskom yang berisi putik jambu di atas meja kecil di bawah batang


perawas.


“Kita mulai lagi…?” tanyanya.


“Ya, tapi jangan kau sihir dengan matamu. Tangan saya bisa tak bergerak…” jawab


si Bungsu bergurau. Salma tertawa kecil. Tangannya mengambil dua buah putik


perawas disampinya. Kemudian tegak lurus.

__ADS_1


“Siap..?” tanyanya.


__ADS_2