TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 43


__ADS_3

Tikam Samurai - 43


Saat itulah tiba-tiba saja ke ruangan itu berlompatan enam


orang Kempetai dengan senjata terhunus. Mereka dikurung di tengah. Si Bungsu


secara reflek segera meraih samurainya yang terletak di paha. Namun entah


bagaimana caranya, tahu-tahu samurai itu terpental jauh kebelakang terkena


tendangan si Babah. Sebelum si Bungsu sadar apa yang terjadi, tendangan si


Babah mendarat di dadanya. Dia terguling dan segera saja muntah darah.


Kepalanya berkunang-kunang. Ketika dia coba untuk bangkit, rambutnya ditarik


dengan keras. Dia terduduk. Dan segera saja empat buah sangkur terhunus


ditekankan ke dada dan lehernya.


”Kalau kau melawan, kau kami bunuh disini ”.


Kempetai yang memimpin penyergapan ini mendesis dengan tajam. Si Bungsu tak


dapat bergerak sedikitpun. Dia melihat Babah tadi duduk dengan tenang. Begitu


pula Baribeh dan si Juling. Semula dia menyangka bahwa penggerebekan ini adalah


penggerebekan Kempetai terhadap tempat-tempat judi. Karena dia pernah mendengar


bahwa tentara Jepang dilarang berjudi. Tapi kali ini rupanya penggerebekan itu


memang sudah direncanakan. Si Bungsu tak menyadari sedikitpun, bahwa dia masuk


perangkap. Sudah tiga hari ini dia memperhatikan rumah Babah ini. Dia mendapat


informasi bahwa rumah Babah ini termasuk suatu tempat berkumpulnya para perwira


untuk berjudi dan bersenang-senang dengan ******* kelas tinggi.


Dia mengawasi rumah ini untuk mengetahui jejak Saburo. Dia berharap untuk


bertemu dengan Kapten yang telah membantai keluarganya itu. Tanpa disadari


selama dia mengawasi rumah ini dari kejauhan ada pula orang lain yang juga


mengawasinya. Orang itu tak lain dari si Babah sendiri. Si Babah ini memang


harus hati-hati. Dia tidak mau mati konyol. Oleh karena itu dia mengawasi set

__ADS_1


iap orang yang lewat di depan rumahnya.


Makanya tak heran kalau kehadiran si Bungsu tiga hari berturut-turut tak jauh


dari rumahnya menarik perhatiannya. Si Bungsu yang memata-matai rumah itu kini


balik dimata-matai.


Suatu hari si Babah bertemu dengan Baribeh di pasar. Dia bawa Baribeh kesuatu tempat


di mana dapat melihat si Bungsu dengan aman. Tentu saja si Baribeh dan si


Juling mengenal anak muda itu dengan baik. Tapi mereka tak mengetahui untuk apa


si Bungsu tegak di sana. Mereka hanya mengetahui bahwa si Bungsu sudah mati


ditebas Saburo dan anak buahnya sekitar dua tahun yang lalu. Apakah si Bungsu


menyangka bahwa kebocoran rahasia persembunyiaan Datuk Berbangsa dulu adalah


andil Babah gemuk ini? Babah gemuk itu jadi was-was. Sebab rahasia bahwa di


Situjuh Ladang Laweh ada orang yang menyusun kekuatan untuk melawan Jepang,


memang Babah inilah yang memberitahukannya pada Kempetai. Si Babah pulalah yang


membayar beberapa orang Minang dengan bayaran yang tinggi, untuk mengorek


Babah ini memang menjadi semacam pusat informasi bagi balatentara Jepang. Dia


sudah berada di Payakumbuh ini sejak puluhan tahun. Ketika Belanda berkuasa dia


menjadi kaki tangan Belanda. Dan ketika Jepang datang dia menjadi cecunguk


Jepang pula. Untuk mengetahui apa maksud pemuda ini, makanya Babah itu lalu


memasang perangkap. Si Baribeh dan si Juling dibuat pura-pura terkejut kalau


bertemu dengannya. Kemudian membujuknya untuk masuk berjudi ke dalam. Di dalam


mereka akan menangkapnya.


Begitu ia masuk, seorang kurir yang dipasang tak jauh dari rumah itu segera


melaporkan pada Kempetai akan adanya seorang mata-mata di rumah si Babah. Dan


si Bungsu masuk ke dalam perangkap yang dipasang itu. Dia masuk sebenarnya


dengan maksud ingin mencari informasi tentang Saburo. Kini ternyata dia

__ADS_1


diringkus.


Babah itu tersenyum menatapnya. Senyumnya persis seperti senyum ketika membayar


taruhan tadi. Kembali si Bungsu merasa bergidik melihat senyum itu.


”Anak muda, coba terangkan apa maksudmu memata-matai rumahku ini,” Babah itu


bertanya.


Si Bungsu tak menjawab.


”Jawab …! Jawablah apa maksud memata-matai rumahku ini! Kau ditugaskan oleh


siapa untuk mematamataiku? Ditugaskan oleh pejuang-pejuang yang akan melawan


Jepang ya?”


Si Bungsu terdiam. Dia tidak mengerti ujud petanyaan itu.


”Jawablah Bungsu. Kalau tidak kau bisa susah ”. Kata Baribeh. Si Bungsu masih


diam.


”Apakah Mahmud mengirim dia kemari? ” si Babah bertanya pada Baribeh.


”Tidak. Dia justru mengirimkan kurirnya ke Kubu Gadang. Mereka akan menyerang


Kubu itu untuk merampas persenjataan ”.


”Kapan mereka merencanakan?”


”Dua malam lagi ”.


”Apakah tindakan lainnya ”.


”Kalau tak berhasil mereka akan membakar Kamp kita ”.


Si Bungsu menatap Babah dan Baribeh berganti-ganti. Menyimak pembicaraan kedua


orang itu kini persoalan menjadi jelas baginya, bahwa Baribeh bekerja untuk


Babah Cina itu. Babah itu bekerja untuk Jepang. Mereka memata-matai kegiatan


pejuang-pejuang Indonesia. Si Bungsu tiba-tiba menjadi ing in muntah saking


jijik dan mualnya melihat Baribeh, si Juling dan si Babah. Tapi sekaligus dia


juga menjadi lega. Sebab dengan pertanyaan si Babah itu dia menjadi tahu, bahwa

__ADS_1


baik si Baribeh maupun pihak Jepang tak mengetahui sedikitpun bahwa dialah yang


telah membunuh Jepang-Jepang itu dalam bulan-bulan terakhir ini.


__ADS_2