TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 54


__ADS_3

Tikam Samurai - 54


Si Bungsu hanya menatap dengan melongo. Menatap bendera


besar dengan gambar palu arit itu. Dia benar benar tak mengerti. Mei-mei


tersenyum melihat kebingungannya. Dia duduk disebuah kursi, si Bungsu duduk di


depannya. Si Bungsu masih dikuasai perasaan herannya. Kenapa gadis ini


menolongnya, padahal bapaknya dia yang membunuh. Didepan matanya pula.


“Tentang Babah yang engkau bunuh, dia memang pantas mendapat hukuman seperti


itu. Dia telah meracuni ayahku. Kemudian mengawini ibu. ibuku waktu itu hamil.


Enam bu lan setelah mereka kawin, akupun lahir. Dia memerlukan uang untuk


membiayai Partai Komunis di negeri ini. Dan dia juga memerlukan pengaruh serta


pangkat untuk berkuasa. Untuk kedua maksud itu dia mempergunakan tubuhku. Aku


tak berdaya melawan. Dia seorang ayah tiri yang berhati bengis. Yang suka


memukul dan menyiksa orang. Ibuku meninggal dunia karena dia dikurung selama


enam hari tanpa diberi makan. Peristiwa itu terjadi ketika aku berumur delapan


tahun. ibu dikurung dan mati dalam kamar ini …”


Gadis cina itu kemudian menanggis isak mengingat jalan hidupnya yang teramat


pahit. Si Bungsu hanya bisa mengucap perlahan. Lama gadis itu menangis, sampai


akhirnya si Bungsu memegang bahunya.


“Tenanglah Mei-mei. Kurasa arwah ibumu sudah tenang di akhirat. Dendamnya telah


kubalaskan”


“Ya, dendam ibu dan dendamku telah Koko balaskan. Terima kasih. Itulah sebabnya


kenapa saya harus menyelamatkan Koko dari tangan Kempetai dua hari yang lalu…”


Si Bungsu terharu. Gadis itu memanggilnya dengan sebutan Koko. sebutan itu berarti


abang dalam bahasa Indonesia. Sebagai sebutan terhadap adik perempuan adalah

__ADS_1


Moy-moy. Dia mengetahui itu dari beberapa temannya orang Tlonghoa yang jadi


temannya dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun gadis ini telah ternoda


hidupnya, namun itu bukan atas kehendaknya sendiri. Dia pegang bahu Mei-mei,


dan berkata lembut :


“Tenanglah Moy-moy. Aku akan melindungimu dari orang orang yang berniat


mengganggumu”


Mei-mei memang terdiam. Gadis cina yang cant ik ini, berwajah bundar berhidung


mancung dengan mata yang hitam berkilat, hampir hampir tak percaya bahwa anak


muda yang dipanggilnya dengan Koko itu balas memanggilnya dengan sebutan


Moy-moy. Dan ketika dia yakin bahwa memang anak muda itu berkata demikian, dia


lalu tegak dan tiba tiba mereka telah berpelukan.


“Terima kasih Koko, terima kasih …” isaknya.


Si Bungsu memang seperti mendapatkan seorang adik. Dia pernah merasakan kasih


mendapatkan kembali tempat menumpahkan sayang yang telah hilang itu. Akan


halnya Mei-mei, gadis Tionghoa malang yang berusia tujuh belas tahun itu adalah


anak tunggal yang hidupnya selalu teraniaya. Lelaki yang diharapkannya menjadi


pelindungnya adalah ayah tirinya. Tetapi lelaki itu, si Babah gemuk komunis


itu, ternyata telah menjualnya dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Gadis yang


tak pernah mendapatkan perlindungan dan kasih sayang itu kini ada dalam pelukan


seorang pemuda Melayu yang telah membalaskan dendamnya, dan pemuda itu


memanggilnya dengan sebutan adik, alangkah terlindungnya dia terasa.


“Apakah Koko akan pergi ke Batusangkar mencari Saburo ?” Mei-mei bertanya


ketika mereka kembali ke ruangan pertama.


Si Bungsu menatapnya. “Kalau aku pergi, dengan siapa engkau tinggal di sini,

__ADS_1


Moy-moy?”


Gadis itu menunduk. Lama dia menatapjari jari tangannya. Kemudian ketika dia


mengangkat kepala, si Bungsu melihat matanya basah. Gadis itu berkata perlahan


:


“Di sini tak ada lagi orang tempatku berlindung. Kalau aku tidak akan


mendatangkan kesusahan bagi koko, aku ikut dengan koko. Kemanapun koko pergi …”


Air mata lambat lambat membasahi pipinya. Nyata sekali suaranya adalah suara


gadis yang dirundung sepi. Suara gadis yang amat butuh perlindungan dan kasih


sayang. Suara seorang gadis yang mulai menginjak usia remaja, yang selalu ingin


dekat dengan orang yang disayangi. Si Bungsu menarik nafas panjang. Dia benar


benar menyayangi Mei-mei. Bukan karena gadis itu amat cant ik bukan pula karena


gadis itu telah menolong nyawanya. Tapi gadis itu dia sayangi karena si gadis


memang harus disayangi. Harus dilindungi. Dalam kasih sayang, perbedaan kulit


dan asal usul tak pernah menjadi hambatan. Sebab rasa sayang muncul dari dalam


tidak dipermukaan.


“Apakah ada familimu di Batusangkar ?” Mei-mei menggeleng.


“Di Bukittinggi?”


“Kalau di Bukittinggi ada. Adik jauh ibu. Tinggal di Kampung cina …”


Si Bungsu berfikir. Di akan mengantarkan gadis ini terlebih dahulu ke


Bukittinggi. Di sana dia bisa tinggal di rumah saudara ibunya itu. Untuk dibawa


kemana pergi memang akan menyusahkan. Bukan karena dia tak mau. Tapi yang akan


dia hadapi adalah bahaya melulu. Dan dia tak mau membawa bawa Mei Mei kedalam


bahaya. Nanti kalau urusannya dengan Saburo di Batusangkar selesai, dia akan


menjeputnya ke Bukittinggi.

__ADS_1


__ADS_2