TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 52


__ADS_3

Tikam Samurai - 52


Baru tiga langkah dia berjalan, dia tertegak. Di depannya


berdiri seorang perempuan. Tepatnya adalah seorang gadis cina. Sekali pandang


dia dapat menebak, gadis ini paling paling baru berusia enam belas atau tujuh


belas tahun. Gadis cantik bertubuh menggiurkan. Gadis berkulit kuning berambut


lebat itu hanya mengenakan handuk di tubuhnya. Nampaknya dia sudah sejak tadi


berdiri di sana. Dan si Bungsu dapat memastikan bahwa gadis ini melihat semua perkelahian


yang berlangsung di ruangan itu. Dia pasti melihat pembantaian itu. Mereka


bertatapan. Pintu mulai didobrak.


 “Masuk kemari ..”


Tiba tiba saja gadis itu menarik tangan si Bungsu kedalam kamarnya. Si Bungsu


seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Dia menurut, sebab tak ada jalan lain-


Dengan berada dalam kamar gadis ini, dia berharap bisa selamat. Atau dia bisa


menjadikan gadis ini sebagai sandera. Kamar gadis itu bersih dan berbau harum.


“Masuk kemari ..” gadis itu berkata lagi sambil membuka sebuah katup di lantai.


Tanpa banyak cincong, si Bungsu mendekat. Di bawah lantai yang menganga itu,


dia melihat sebuah ruangan kecil.


“Masuklah cepat ..” gadis itu berkata lagi. Si Bungsu tak lagi sempat berfikir.


Dia menurut dan mulai menuruni tangga ke bawah. Dia sampai ke dalam sebuah


ruangan kecil dan gelap. Gadis itu lalu menutupkan lantai yang dia angkat tadi.


Kemudian membetulkan tikar di atasnya. Lalu mengambil kain dan mulai melap


bekas darah yang berceceran di lantai dari bekas luka di tubuh si Bungsu.


Kerjanya baru saja selesai ketika pintu berhasil di dobrak oleh truk reo


tentara Jepang. Kamarnya ikut digeledah. Lemari pakaian, bawah kolong tempat

__ADS_1


tidur, loteng. Si Bungsu mendengar derap sepatu. Kempetai itu lalu lalang di


atas kepalanya. Dia menanti dengan diam dalam kegelapan di ruang yang tak


dikenalnya ini. Barangkali tentara Jepang masih berada di rumah itu. Sebab


telah berlalu waktu beberapa jam, namun gadis itu belum kunjung muncul. Si


Bungsu tak berani naik keatas. Dia tetap menanti. Dengan meraba raba dia


berbaring di lantai yang rasanya di alas dengan tikar yang bersih.Dia terbangun


dengan terkejut tatkala dirasakannya sebuah benda jatuh menimpa perutnya.


Kemudian pintu di lantai ditutup lagi. Dia meraba dalam gelap itu. Yang


dijatuhkan ternyata sebuah bungkusan. Dalam gelap dia membuka bungkusan itu.


Meraba isinya. Pisang, ah, perutnya memang amat lapar. Segera saja empat buah


pisang lenyap ke dalam perutnya.


Kemudian dia memeriksa isi bungkusan yang lain. Sebuah senter kecil. Dengan


senter itu dia dapat memeriksa dengan isi bungkusan itu. Ada perban dan


dia kenal itu. Apakah dia salah seorang dari ******* yang disimpan dalam rumah


ini? obat itu sebenarnya tak dia perlukan. Sebab untuk mengobati lukanya, dia


masih mempunyai bubuk ramuan yang dia bawa dari gunung Sago. obat itu amat


manjur. Obat itulah dulu yang menyembuhkan dari luka akibat samurai Kapten


Saburo. Dan obat tradisional itu pula yang menyembuhkan luka bekas dicakar


harimau jadi-jadian ketika bulan terakhir dia akan turun gunung.


Dia ambil ramuan yang terdiri dari kulit dan daun kayu, lumut batu, lumut pohon


dan daun tanaman melata yang sudah dikeringkan yang selalu dia simpan dalam


kantongnya, dalam sumpik rokok daun enau, yang dulu memang berisi rokok daun


enau. Ramuan itu dia tabur pada luka disekujur tubuhnya. Dengan menimbulkan


rasa dingin lukanya dengan cepat mengering, merapat dengan cepat mengering.

__ADS_1


Dengan senter kecil yang dijatuhkan gadis itu, si Bungsu mulai memeriksa


ruangan di mana dia berada. Ruangan ini ternyata ruangan di bawah tanah. Memang


dibuat untuk menghadapi keadaan darurat, seperti umumnya rumah-rumah turunan


cina. Bedanya kalau ruangan bawah tanah di rumah-rumah cina yang lain digunakan


untuk menyimpan bahan makanan atau tempat air, maka ruangan bawah tanah ini


dipergunakan sebagai ruangan tempat tinggal.


Tak jauh dari tempat dia tidur di lantai ada sebuah pembaringan. Kalau saja dia


bergerak dalam gelap itu agak empat langkah ke kanan, maka dia akan menemui


tempat tidur empuk itu. Tapi mana pula dia akan menyangka hal itu. Di dekat


tempat tidur itu, di bahagian kepalanya ada sebuah lemari kaca. Di dalamnya si


Bungsu mendapatkan tiga buah pistol dan dua buah bedil panjang. Lengkap dengan


mesiunya. Ruangan bawah tanah ini nampak dijadikan semacam benteng oleh Babah


gemuk itu Dia tak menyentuh senjata tersebut. Di samping tak mengerti cara


memakainya, juga menganggap tak ada gunanya untuk dibawa.


Pistol atau bedil menimbulkan suara bila membunuh orang. Dia lebih suka memakai


samurai. Dengan samurai dia bisa bertindak diam diam. Karena lelah dia


berbaring di tempat tidur. Dia tak tahu sudah berapa lama dia tertidur ketika


tiba tiba terbangun lagi. Ada seseorang dirasakan hadir di kamar berdinding


beton di bawah tanah itu. Dia membuka mata dan berusaha untuk bangkit.


Namun sebuah tangan halus menahannya. Dalam cahaya lampu dinding yang telah


dipasang, dia lihat gadis cina yang telah menyelamatkannya itu. Gadis itu duduk


di tepi pembaringan. Menatap padanya dengan pandangan lembut.


“Berbaringlah .. lukamu belum sembuh ..” suaranya terdengar lembut.


Bahasa Melayunya terdengar bersih. Si Bungsu tetap duduk. Gadis itu menatap

__ADS_1


pada matanya.


__ADS_2