TIKAM SAMURAI

TIKAM SAMURAI
Episode 60


__ADS_3

Tikam Samurai - 60


Padahal dia sudah diberitahu oleh kedua perempuan yang satu


bus dengannya dari Payakumbuh itu. Bahwa lelaki lelaki itu adalah


penyamun-penyamun yang sering merampok pedagang yang dalam perjalanan ke


Bukittinggi dari Payakumbuh atau dari Padang Panjang. Dia terlalu menenggang.


Dia hanya ingin membunuh Jepang yang membunuh keluarganya. Yang menjajah


negerinya. Dia tak ingin membunuh bangsanya sendiri.Ternyata belas kasihannya


memakan dirinya sendiri. Mei-mei memekik mekik melihat tubuh si Bungsu


tercampak dari satu kaki ke kaki yang lain.


“Jangan siksa dia Jangan siksa diaaa. Kuserahkan apa yang kalian minta.Jangan


siksa dia … Koko …Koko” Mei Mei menatap memohon. Lambat lambat di antara rasa


sakit dan terguling guling di lanyau cuek itu, si Bungsu mendengar suara


Mei-mei. Hatinya luluh ketika mendengar betapa gadis itu bersedia memberikan


apa saja, termasuk dirinya, asal lelaki lelaki itu berhenti menganiaya dirinya.


Dia coba menyusun ingatannya kembali. coba mengingat dimana samurai nya terjatuh.


Lalu, tiba tiba sekali, dengan sisa sisa tenaga tubuhnya bergulingan amat


cepat. Dengan mengandalkan pendengaran nya yang amat tajam, telinganya


menangkap suara samurainya yang tersentuh kaki salah seorang lelaki itu.


Seperti magnit, ke sanalah tubuhnya bergulingan amat cepat. Para lelaki itu


masih berusaha mengejarnya. Masih belum mengetahui dengan sepenuhnya bahwa


tubuh anak muda itu bergulingan bukan lagi karena tendangan mereka. Ketika


mereka memburu lagi, saat itulah tangan si Bungsu berhasil meraih samurainya.


Dia tak bisa tegak sempurna. Rusuknya yang patah di sebelah kiri menghalangi


gerakannya. Namun dengan berlutut tiba tiba samurainya bekerja. Dalam tiga kali

__ADS_1


gerakan pertama, tiga lelaki dimakan samurainya.


Perut mereka robek Ada yang dadanya belah Menggelepar dan mati. Datuk itu


kaget. Tapi dia memang seorang pesilat tangguh. Dia menendang cepat sekali.


Wajah si Bungsu berubah keras seperti baja. Ketika kaki Datuk itu menendang ke


wajahnya, samurainya bekerja. Dan amat cepat sekali, kaki datuk itu buntung


sebatas lutut. Yang seorang lagi, yang menyerang dengan keris dia pancung


tentang pinggangnya. Pinggang lelaki itu hampir putus.


Datuk itu terpekik, namun si Bungsu menggeser tubuh. Dan samurainya kembali


bekerja. Kaki kiri Datuk itu putus sebatas betis. Datuk itu terguling. Samurai


si Bungsu bekerja lagi. Kedua tangan Datuk jahanam itu putus hingga siku. Anak


buahnya yang satu lagi, yang masih selamat, menggigil. celananya segera basah.


Dan tiba tiba dia balik kanan. Lari kedalam kegelapan. Dialah satu satunya yang


selamat. Datuk itu menggelepar gelepar. Memekik mekik. Minta ampun. Kaki dan


“Bunuhlah saya. Tolong lah. Jangan biarkan saya menderita … oh tolonglah ..”


dia meratap.Bungsu menatapnya dengan wajah datar. Kemudian dia berkata dengan


suara tanpa emosi.


“Engkau takkan mati Datuk. Darahmu akan kuhentikan alirannya agar kau tak mati


kehabisan darah. Kematian terlalu mulia bagimu. Engkau akan tetap hidup dengan


tubuh seperti sekarang. cukup banyak orang sengsara olehmu. Mulai hari ini, kau


akan merasakan kesengsaraan yang lebih hebat dari itu. Ini adalah balasan dari


kejahatan selama ini. Engkau seorang datuk seorang penghulu, seorang kepala


suku. Yang seharusnya membimbing anak kemenakanmu. Yang seharusnya meluruskan


yang bengkok, menyambung yang singkat menyayangi yang muda, melindungi yang


lemah. Tapi ternyata gelar yang engkau sandang engkau laknati sendiri …”

__ADS_1


“Ampun saya anak muda … tolonglah saya. Jangan biarkan diri saya hina begini.


Bunuhlah saya .. bunuhlah saya ..” ratap datuk yang sudah lenyap seluruh


kepongahannya Si Bungsu hanya menatapnya dengan dingin sambil menekan beberapa


bahagian di tempat tubuhnya yang putus, darah tiba-tiba berhenti mengalir.


Kemudian menatap ketujuh mayat yang bergelimpangan dalam kamar tunggu


penginapan itu. Lalu lambat lambat dia berbalik. Menghadap pada Mei-mei. Gadis


itu berlari memeluknya.


“Koko ..”


“Mari kita pergi Moy-moy ..”


Dan malam itu, mereka meninggalkan penginapan tersebut. Si Bungsu tahu dalam


waktu singkat, Kempetai akan memenuhi penginapan itu. Dan dia tak mau


ditangkap. Dengan sebuah bendi yang berada di depan penginapan itu, mereka


pergi membelah malam yang dingin. Malam yang hampir bersahut dengan subuh.


“Ke mana kita koko ..?” “Saya tak tahu Moy-moy. Saya tak punya kenalan di sini


Jangan ke rumah famili ibumu di Kampung cina, berbahaya bagi keluarganya.


” “Kita kepenginapan lain koko ?” “Tidak. Semua penginapan akan digeledah


Kempetai…”


Kusir bendi, seorang lelaki tua, yang tadi mengintip perkelahian dalam penginapan


itu mendengarkan saja percakapan kedua anak muda tersebut. Dari pembicaraan


mereka, dia mengetahui, bahwa kedua anak muda ini bukan suami istri. Dia


mengetahui sedikit banyaknya bahasa cina. Sebab dia bersahabat dengan sebuah


keluarga Tionghoa yang tinggal di daerah Tembok. yang berdekatan dengan Kampung


cina. Kedua anak muda ini, kalau tidak sepasang kekasih, pastilah dua orang


bersahabat. Kusir tua itu juga mengetahui, bahwa Datuk basunguik buruk dan

__ADS_1


teman temannya yang dibantai anak muda ini adalah penyamun yang ditakuti.


__ADS_2